Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Kinerja IHSG Merah = Saat Tepat Beralih ke Reksadana Pasar Uang? Simak di Sini!
shareIcon

Kinerja IHSG Merah = Saat Tepat Beralih ke Reksadana Pasar Uang? Simak di Sini!

7 Apr 2021, 8:00 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Kinerja IHSG Merah = Saat Tepat Beralih ke Reksadana Pasar Uang? Simak di Sini!

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sepekan kemarin anjlok 2,97%. Langkah pemulihan ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) diduga menjadi biang keladi amblasnya IHSG ke level 6.011,45 pada Jumat (2/4). Apakah kinerja merah tersebut menjadi saat yang tepat untuk beralih ke aset lain, seperti emas atau reksadana pasar uang?

Seperti diketahui, Negeri Paman Sam itu tengah menunggu persetujuan Paket Stimulus senilai US$2 triliun yang dipercaya mampu membawa perekonomian AS kembali pulih. Selain itu, kinerja IHSG juga tertekan lantaran kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun yang sempat menyentuh angka 1,75%.

Penurunan IHSG yang terjadi selama satu pekan lalu juga membuat rata-rata nilai transaksi harian susut 0,60% menjadi Rp10,62 triliun dari pekan sebelumnya yang sebesar Rp10,69 triliun.

Sejalan dengan hal itu, kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melorot ke angka Rp7.101,43 triliun atau tertekan 2,85% dibanding pekan sebelumnya yang sempat berada di posisi Rp7.309,9 triliun.

Biasanya, ketika indeks saham memerah, investor cenderung mengalihkan perhatiannya ke aset-aset yang memiliki risiko lebih rendah. Emas bisa menjadi pilihan, karena biasanya investor kerap melindungi kekayaannya yang sudah jatuh ke aset lindung nilai seperti logam mulia.

Namun, apakah Sobat Cuan tahu bahwa melindungi kekayaan di kala indeks saham anjlok juga bisa dilakukan dengan berinvestasi di reksadana pasar uang? Yuk, simak artikel di bawah ini bersama-sama.

Baca juga: Investor Pemula Wajib Tahu! Simak Istilah Umum Reksa Dana Ini

Kinerja Reksadana Pasar Uang: Penyebab Reksadana Pasar Uang Menarik Kala Saham Memble

Penasihat Investasi Lake Advisory, Joshua Simpson mengatakan, investor perlu melakukan diversifikasi portofolio untuk mengamankan dana yang dimilki di kala pasar saham mengalami volatilitas atau saat perekonomian sebuah negara mengalami resesi.

Dalam hal ini, investor bisa mengalihkan dananya ke reksadana pasar uang. Mengapa demikian? Simpson mengatakan bahwa berinvestasi di reksadana pasar uang adalah pilihan bijak bagi investor untuk mengamankan dananya. Sekaligus, mendapatkan imbal hasil dalam jangka pendek.

Dia menambahkan, dana dari pasar uang mampu memberikan imbal hasil yang lebih baik dibanding pasar saham pada masa-masa tersebut. Bahkan, risiko yang terdapat di reksadana pasar uang juga cenderung lebih rendah dibanding produk reksadana lainnya.

Reksadana pasar uang pun terbilang cukup likuid. Sehingga, investor akan dengan mudah kembali ke pasar saham ketika kondisi ekonomi mulai berbalik positif.

Keistimewaan reksadana pasar uang ini timbul karena portofolio aset yang dikelola di dalamnya.

Pada reksadana ekuitas, nilainya mungkin akan terpengaruh oleh kinerja indeks saham. Namun di dalam reksadana pasar uang, manajemen investasi akan menempatkan surat utang jangka pendek di bawah satu tahun, seperti obligasi, sertifikat Bank Indonesia (SBI) ataupun surat berharga negara bertenor singkat, sebagai aset underlying-nya.

Selama ini, investor memahami bahwa surat utang negara adalah salah satu instrumen dengan tingkat gagal bayar yang sangat rendah. Bahkan, mendekati nihil (default-free).

“Keuntungan dari reksadana pasar uang di dalam kondisi pasar saham yang menunjukkan volatilitas tinggi atau resesi memiliki risiko penurunan nilai yang lebih kecil dibanding saham,” ujar dia.

Pendapat tersebut juga diamini oleh Direktur Perencanaan Keuangan dan Penasihat Kekayaan Forefront Wealth Partners Chad Rixse.

Menurutnya, dengan berinvestasi di reksadana pasar uang, investor bisa mempertahankan nilai dan likuiditas asetnya. Reksadana pasar uang secara efektif berfungsi layaknya uang tunai, yang bisa menjadi penyangga dalam portofolio investasi.

Berbanding terbalik dengan reksadana ekuitas yang malah terkena dampak cukup berat lantaran adanya perlambatan ekonomi. Dalam tahap ini, investor tetap dapat mempertahankan keuntungan dengan menjual sebagian saham dan memasukkannya ke dalam reksa dana pasar uang.

Kinerja Reksadana Pasar Uang: Tetap Ada Risiko yang Mengintai

Meskipun begitu, yang namanya investasi tetap memilki risiko. Di Amerika Serikat, contohnya, reksadana pasar uang tidak diasuransikan oleh Federal Deposit Insurance Corporation atau yang dikenal sebagai FDIC.

Salah satu kasus populernya adalah ambruknya salah satu Bank Investasi terbesar di AS, Lehman Brothers, pada krisis 2008 yang berbarengan dengan turunnya return produk reksadana pasar uang.

Berkaca dari hal tersebut, investor perlu menimbang kualitas reksadana yang akan dipilih. Selain itu, investor juga disarankan untuk tetap mendiversifikasikan asetnya ke saham. Mengapa demikian?

Meski pun aman, kinerja reksadana belum bisa menandingi kinerja saham secara jangka panjang. Sehingga, investor disarankan untuk tidak menempatkan seluruh dananya di reksadana pasar uang untuk waktu yang lama.

Justru, investor harus menjadikan kinerja pasar saham yang merah sebagai momen yang tepat untuk melakukan dua strategi investasi: Mengakumulasi saham yang banyak di harga rendah (buy the dip) dan mencari cuan ke reksadana pasar uang.

Baca juga: Kaum Milenial, Berapa Banyak Investasi yang Mesti Kamu Punya?

Bukti Reksadana Pasar Uang Tetap Oke di tengah Anjloknya IHSG? Simak Data Tahun Lalu

Dengan mengacu data Infovesta sepanjang 2020, terlihat bahwa kinerja reksadana pasar uang cukup mumpuni dibandingkan IHSG.

Pada akhir 2020, IHSG ditutup di level 5.979,07, alias melemah 5,09% dibanding 2019 sebesar 6,299,54. Namun, di waktu yang sama, data Infovesta Money Market Fund Index mencatat kinerja reksadana pasar uang meningkat 4,61% di periode yang sama. Berikut perbandingannya di tahun lalu.

Kendati demikian, capaian pertumbuhan kinerja reksadana pasar uang pada tahun lalu juga mengalami tekanan. Adanya pandemi dan juga Bank Indonesia yang mengambil langkah memangkas suku bunga acuannya sampai lima kali, membuat gerak reksadana pasar uang kurang lincah.

Untuk investor yang ingin mengatur ulang portofolio investasinya dalam masa resesi seperti sekarang, tampaknya bisa mulai melirik reksadana pasar uang sebagai bentuk diversifikasi portofolio aset investasi yang baik.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Kontan, US News, Kumparan

Ditulis oleh
channel logo

Adi Putro

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1