Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Gaji Pas-pasan? Pertimbangkan 4 Hal Ini Sebelum Mengambil Utang Produktif
shareIcon

Gaji Pas-pasan? Pertimbangkan 4 Hal Ini Sebelum Mengambil Utang Produktif

14 Oct 2019, 11:01 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Gaji Pas-pasan? Pertimbangkan 4 Hal Ini Sebelum Mengambil Utang Produktif

Alokasi penghasilan bulananmu belum cukup memenuhi kebutuhan hari ini yang semakin tinggi? Kebutuhan terlalu banyak, sementara penghasilan tak mencukupi untuk memenuhi segalanya. Beberapa orang mempertimbangkan untuk mengambil hutang produktif, apakah hal ini tepat untuk dilakukan?

Menimbang baik-buruk hutang produktif, berikut 4 hal yang harus diperhatikan!

1. Kenali hutang produktif yang tepat untuk kebutuhanmu

Mulailah catat arus kas (cash flow) dengan lebih tertib. Kamu bisa pantau dan atur keuangan pribadi setiap bulan, dan catat setiap pendapatan dan pengeluaran. Atur keuangan pribadi dengan tabel di Google spreadsheet dan menerapkan kode transaksi untuk setiap pengeluaran.

Pos keuangan pribadi ini akan membantumu melacak kebutuhan dan menerapkan kategori. Setelah kebutuhan dapat dirincikan, pilih kebutuhan mana yang dapat dipenuhi dengan utang dan kebutuhan mana yang dapat langsung dibayar dengan tunai.

2. Ketahui jenis-jenis hutang produktif yang bisa diambil

Ada dua jenis utang yang perlu kamu ketahui sebelum mengambil kredit. Utang bersifat produktif dilakukan dengan tujuan menambah manfaat untuk modal kerja dan mewujudkan aset investasi, sementara hutang konsumtif ditujukan untuk memenuhi kebutuhan.

Di Indonesia, utang produktif ditawarkan lewat Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI), yang ditujukan untuk modal kerja usaha dan keperluan investasi. Sementara itu, utang konsumtif ditawarkan dalam berbagai bentuk, dari kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), kredit kepemilikan kendaraan (KKB), kredit kepemilikan rumah (KPR), kredit elektronik, dan banyak lagi.

Karena itu, dari jenis-jenis tersebut, kamu perlu pintar-pintar menentukan mana kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan utang produktif dan mana yang memerlukan utang konsumtif.

3. Tidak perlu terlalu kaku dalam mengambil utang

Meski ada skema-skema kredit tertentu yang dikenakan pada hutang produktif dan utang konsumtif, kamu tidak perlu terlalu ketat memikirkan definisi dari kedua jenis utang ini. Misalnya, utang untuk menambah aset seperti pembelian KPR lazimnya masuk sebagai kategori utang konsumtif, tetapi bisa juga dihitung sebagai pengeluaran produktif karena nilai properti cenderung bertambah seiring waktu.

Pembelian aset konsumsi dengan manfaat di atas 5 tahun dan dapat kamu gunakan untuk menghasilkan produk, seperti pembelian mesin cuci untuk kebutuhan jasa laundry rumahan, bisa dipandang sebagai hutang produktif.

4. Utang bukan untuk penuhi gaya hidup

Pegang pesan ini baik-baik: jangan pernah meminjam untuk memenuhi gaya hidupmu, apalagi untuk membayar kebutuhan dasarmu. Apa saja kategori hutang produktif yang baik dan sehat? Utang sehat umumnya digunakan untuk menambah aset. Beberapa jenis aset bisa memberi kenaikan harga antara 10-20% setiap tahunnya.

Utang produktif yang sehat juga perlu dialokasikan untuk menambah modal usaha, dan bila membeli aset konsumsi. Maka utang yang diambil perlu dipastikan akan memberikan manfaat di atas 5 tahun, dengan total cicilan tidak melebihi 20-40% pendapatan.

Cobalah untuk menelisik manfaat finansial dari pengambilan utang produktif demi kebutuhan usahamu, dan disiplin mencatat arus kas keuangan. Demi bisa menambah aset sekaligus memperhitungkan waktu mencicil utang supaya tidak sampai terjerat daftar utang yang panjang.

Ditulis oleh
channel logo

Dewi Kharisma

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1