Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Indeks Konsumen Gacor, Volume Perdagangan AS Rekor

Rangkuman kabar Rabu (8/12) mengulas sejumlah kabar domestik dan mancanegara yang perlu kamu simak untuk menamah wawasan.

Rangkuman Kabar Domestik

1. Indeks Keyakinan Konsumen Meningkat

Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November di angka 118,5, naik dari Oktober 113,4. Kenaikan terjadi secara merata pada seluruh kategori pengeluaran dan kelompok usia responden sekaligus menandai kembalinya IKK pada level pra pandemi.

Kenaikan didorong oleh persepsi ekonomi yang membaik terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan dan penghasilan saat ini yang berpengaruh juga pada ekspektasi konsumen terhadap perekonomian mendatang.

Apa Implikasinya?

Indeks keyakinan konsumen di atas 100 mengindikasikan optimisme masyarakat terhadap perekonomian. Kembalinya IKK pada level pra pandemi mengonfirmasi laju pemulihan yang mulai berdampak pada masyarakat yang kini lebih positif dalam berkespektasi terkait keberlanjutan perekonomian Indonesia.

Nah, persepsi ini bisa bikin investor semakin getol membenamkan dananya ke Indonesia.

2. Perubahan Iklim Berpotensi habiskan 40% PDB

Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) mengestimasi potensi kerugian perubahan iklim mencapi Rp115 triliun. Dalam keterangan terpisah, Bank Indonesia menyebut saat ini saja kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem mencapai Rp100 triliun per tahun.

Kerugian ini akan terus bertambah seiring dengan memburuknya dampak perubahan iklim hingga mencapai 40% produk domestik bruto (PDB) pada 2050 mendatang. Meski tidak dapat ditekan sepenuhnya, namun intervensi dini melalui kebijakan diperkirakan bisa menekan kerugian hingga Rp54 triliun per tahunnya.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan butuh dana yang sangat besar untuk melakukan intervensi kebijakan terkait mitigasi perubahan iklim tersebut dimana pemerintah tidak dapat sepenuhnya membiayai tanpa bantuan berbagai pihak.

Apa Implikasinya?

Tingginya biaya akibat perubahan iklim mengakibatkan kerugian besar di masa mendatang jika tidak tertangani dengan baik. Namun, mahalnya investasi pengendalian iklim membuat pemerintah harus pontang-panting mencari investor dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Jika anggaran semakin banyak dihabiskan untuk penanggulangan bencana dampak perubahan iklim tentu akan membuat ruang anggaran yang diperuntukkan bagi pembangunan dan stimulus perekonomian semakin sempit.

Baca juga: Rangkuman Kabar: PPKM Level 3 Batal, Impor China Kian Brutal

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Defisit Perdagangan Amerika Serikat Susut

Departemen Perdagangan Amerika Serikat mencatat defisit perdagangan Oktober sebesar US$67,1 miliar alias menyusut dari bulan sebelumnya yang mencetak rekor tertinggi US$81,4 miliar.

Susutnya defisit perdagangan didorong oleh meningkatnya nilai ekspor sebesar US$223,6 miliar atau tumbuh 8,1%. Ekspor barang bulan Oktober merupakan rekor tertinggi sepanjang masa dengan nilai US$158,7 miliar atau meningkat 11,1%.

Impor AS juga mencetak rekor tertingginya dengan total nilai US$290,7 miliar atau meningkat 0,9%. Total impor barang yang juga mencetak rekor tertinggi mencapai US$242,7 miliar atau tumbuh 0,7%. Kenaikan didorong oleh impor kendaraan bermotoor berikut sparepart-nya diikuti oleh barang konsumsi termasuk selular dan barang rumah tangga.

Apa Implikasinya?

Susutnya defisit perdagangan, yang disertai dengan peningkatan nilai ekspor maupun impor, mengindikasikan pulihnya gejala disrupsi rantai pasok yang selama ini mengganggu aktivitas ekspor impor seluruh dunia. Adapun kenaikan nilai ekspor dan impornya sendiri secara historis memang lazim terjadi di akhir tahun.

2. Inflasi Eropa Butuh Waktu Buat Reda

Wakil Presiden European Central Bank (ECB) Luis de Guinos memprediksi inflasi zona Eropa yang menggila akan mulai reda tahun depan. Bahkan, dia optimistis pada paruh kedua 2022 inflasi dapat jinak dikisaran target yakni 2%.

Bulan lalu, inflasi Eropa menembus angka 4,9% yang merupakan salah satu rekor tertingginya. Akibatnya, para ekonom memprediksi inflasi sangat sulit dijinakkan setidaknya hingga akhir 2022.

De Guinos meyakinkan para ekonom meski inflasi butuh waktu untuk jinak, namun risiko tergolong moderat. Terlebih, penyebab inflasi tidak berasal dari faktor domestik seperti kenaikan pendapatan atau jumlah uang beredar, melainkan faktor-faktor terkait pandemi seperti disrupsi rantai pasok dan restriksi. Karenanya, inflasi menurut de Guinos tidak akan banyak mengganggu pemulihan ekonomi.

Apa Implikasinya?

Inflasi zona Eropa yang tinggi dapat memprovokasi otoritas moneter untuk segera melakukan pengetatan. Namun, statement de Guinos mengindikasikan bahwa otoritas moneter Eropa tidak terpancing untuk segera menghentikan stimulus ekonomi.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Antara, reuters, Investing, Kontan

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait