pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

940

Rangkuman Kabar: Ekspor Batu Bara Disetop, Surplus Dagang RI Drop!

Rangkuman Kabar, Selasa (15/2) mengulas perkembangan domestik dan mancanegara  di antaranya surplus neraca dagang Indonesia yang susut akibat kebijakan larangan ekspor batu bara hingga ekonomi Jepang yang akhirnya berhasil pulih! Yuk, simak selengkapnya di sini!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Ekspor Batu Bara Dilarang, RI Alami Penyusutan Surplus Dagang

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan surplus neraca dagang Januari sebesar US$930 juta, lebih rendah dibanding capaian Desember yakni US$1,02 miliar. Adapun salah satu penyebab susutnya neraca dagang bulan lalu adalah anjloknya ekspor batu bara, yang nilainya terjun bebas 59,12% dibanding Desember.

Secara lebih rinci, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa (Disjas) BPS Setianto merinci bahwa nilai ekspor batu bara Januari terbilang US$1,07 miliar, berkurang US$650 juta dibanding bulan Desember yakni US$1,61 miliar.

Kendati demikian, Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekspor 35,31% secara tahunan (year-on-year) ke angka US$19,16 miliar sepanjang bulan lalu. Di sisi lain, pertumbuhan nilai impor Indonesia secara tahunan sedikit lebih tinggi, yakni 36,77%.

Apa Implikasinya?

Susutnya surplus neraca dagang akan berpengaruh terhadap posisi cadangan devisa yang lebih tipis akibat kendornya setoran dari sektor batu bara. Padahal, cadangan devisa sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat bank sentral seantero negeri berlomba untuk tapering dan menaikkan bunga acuan.

Namun, pelarangan ekspor justru berguna agar Indonesia tidak kehabisan cadangan batu bara, yang nantinya bahkan berujung ke krisis energi. Krisis energi yang berkelanjutan tentu akan membuat pertumbuhan ekonomi terganggu.

2. Lumayan Lah, Utang Luar Negeri Indonesia Susut US$8,9 Miliar!

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar US$415,1 miliar pada kuartal IV 2021, susut US$8,9 miliar dibanding kuartal sebelumnya yakni US$424 miliar.

Penurunan terjadi pada posisi ULN pemerintah maupun swasta.

ULN pemerintah kuartal lalu mencapai US$ 200,2 miliar, susut US$5,3 miliar dibanding triwulan sebelumnya akibat pelunasan sejumlah Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo dan pelunasan sebagian pokok pinjaman. Ini juga dipengaruhi oleh volatilitas pasar keuangan global yang mendorong kepemilikan investor asing di SBN susut.

Lebih lanjut, ULN swasta pada triwulan lalu tercatat US$205,9 miliar atau turun US$3,4 miliar dibanding kuartal sebelumnya.

Hampir semua sektor swasta mengalami kontraksi nilai ULN, terutama ULN lembaga keuangan yang terkoreksi 4,2% secara tahunan.

Apa Implikasinya?

Susutnya posisi ULN, baik ULN pemerintah maupun swasta, membuat porsi beban utang dan bunga utang mereka jadi lebih kecil ke depan.

Bagi pemerintah, berkurangnya ULN tentu akan mengurangi alokasi penerimaan negara demi membayar bunga dan pokok utang. Implikasinya, pemerintah akan punya ruang fiskal lebih besar untuk mengalokasikan penerimaan negara ke program-program yang mampu menumbuhkan ekonomi.

Sementara itu bagi pihak swasta, hasil laba mereka untuk membayar beban dan pokok bunga juga akan lebih kecil ke depan. Sehingga, mereka bisa menggunakan penerimaannya untuk melakukan ekspansi bisnis ke depan.

Baca juga: Rangkuman Kabar: JHT Jadi Polemik, The Fed Janji Untuk Tetap 'Asik'

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Bos ECB Pastikan Eksekusi Tapering Bertahap

Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde kembali menegaskan bahwa otoritas moneter benua biru tersebut tidak akan begitu agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya. Ia justru mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa akan mengambil langkah moneter secara bertahap demi menghadapi tekanan inflasi yang terjadi di Eropa saat ini.

Lagarde berdalih, langkah itu dilakukan mengingat biang kerok inflasi Eropa adalah harga energi dan disrupsi rantai pasok, dua hal yang memang tidak bisa dikendalikan otoritas moneter.

Ia justru khawatir bahwa pemulihan ekonomi Eropa tak akan berjalan maksimal jika Bank Sentral Eropa tergesa-gesa mengerek suku bunga acuannya hanya demi memerangi inflasi yang bukan disebabkan oleh dampak pertumbuhan ekonomi.

“Kita harus terbuka tentang apa yang bisa dan tidak bisa kita lakukan sebagai bank sentral,” katanya kepada anggota parlemen Parlemen Eropa, kemarin. “Misalnya, kebijakan moneter kami tidak dapat mengisi pipa dengan gas, membersihkan backlog di pelabuhan atau melatih lebih banyak pengemudi truk.”

Apa Implikasinya?

Kebijakan yang terukur dan bertahap serta memiliki batasan wewenang yang jelas akan membuat kondisi ekonomi di Eropa lebih stabil dalam menghadapi lonjakan inflasi.

Bagi Indonesia, ucapan Lagarde bisa membuat pelaku pasar asing tenang dan tidak terburu-buru melakukan capital outflow dari pasar domestik.

2. Akhirnya Ekonomi Jepang Pulih Juga

Pemerintah Jepang merilis capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2021 sebesar 5,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Uniknya, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut didorong oleh pemulihan konsumsi swasta yang berkontribusi 50% dari total PDB.

Tercatat, konsumsi swasta tumbuh 2.7% secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan yakni 2,2%. Sementara itu, belanja modal naik 0,4% diikuti oleh permintaan eksternal yang tumbuh 0,2%.

Pemulihan tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk mengakhiri pembatasan keadaan darurat terkait pandemi pada bulan Oktober. Karenanya, para analisis memperkirakan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal ini akan kembali terkontraksi melihat kasus penyebaran yang kembali tinggi akibat varian omicron.

Apa Implikasinya?

Pemulihan ekonomi Jepang, jika berlanjut, tentu berpotensi meningkatkan permintaan negara matahari terbit tersebut atas produk ekspor Indonesia. Hal itu nantinya akan berkontribusi terhadap pundi-pundi devisa negara.

Apalagi, Jepang adalah salah satu negara destinasi ekspor Indonesia yang paling utama.

Jepang merupakan negara tujuan ekspor non migas terbesar ketiga bagi Indonesia dengan nilai perdagangan mencapai US$16.877,0 juta sepanjang tahun 2021, tumbuh 30,98% dibanding tahun 2020.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNN Indonesia, Bank Indonesia, Bloomberg

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES