pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Ekonomi Digital Potensial, Defisit Anggaran AS Melebar

Rangkuman kabar mengawali pekan, Senin (13/12) dengan rangkaian perkembangan domestik dan mancanegara, diantaranya potensi ekonomi digital yang gemilang. Masih banyak kabar lain yang perlu kamu simak loh, Sobat Cuan!

Rangkuman Kabar Domestik

1. Porsi Utang Tahun Depan 'Hanya' Rp973,6 Triliun

Kementerian Keuangan akan melakukan pembiayaan sebesar Rp973,6 triliun untuk menutupi defisit anggaran tahun 2022. Jumlah ini lebih kecil dari outlook penarikan utang tahun ini yakni Rp1.026 triliun.

Penarikan utang itu sejalan dengan defisit APBN yang dipatok pemerintah sebesar Rp868 triliun atau 4,85% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut dibiayai oleh pembiaayaan utang dan non utang yang mayoritasnya ditarik melalui Surat Berharga Negara (SBN) rupiah. Adapun porsi pembiayaan valas hanya 18-20% dari total pagu yang ditetapkan.

Apa Implikasinya?

Pembiayaan utang lewat SBN merupakan peluang bagi pemerintah untuk bisa membiayai pos belanja yang sudah dianggarkan di dalam APBN. Sehingga, belanja negara diharapkan masih bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun depan.

2. Proyeksi Pertumbuhan Keuangan Digital Moncer

Wakil Presiden K.H. Ma'ruf Amin memprediksi keuangan digital akan tumbuh menjadi Rp4.500 triliun pada 2030 atau naik sekitar 800% dibanding saat ini Rp600 triliun.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa transaksi ekonomi digital RI merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Pendorong utama dari pesatnya perkembangan keuangan digital ialah pandemi COVID-19, yang membuat perilaku konsumsi masyarakat bergeser.

Apa Implikasinya?

Perkembangan pesat ekonomi digital membuka peluang bagi masyarakat, terutama sektor usaha mikro untuk berbisnis dan menikmati kemudahan lewat transaksi digital. Namun, regulasi yang ada harus dapat mengikuti perkembangannya untuk menjadi keamanan masyarakat saat berpartisipasi dalam ekonomi digital.

Pesatnya potensi pertumbuhan ekonomi digital juga akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi nasional sebagai akseleran bagi usaha kecil bertemu pasarnya lewat platform digital.

Baca juga: Kabar Sepekan: Kode Broker Lenyap, Inflasi Bikin Ekonomi Megap-Megap

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. IMF Ingin Bticoin Diatur secara Global

Tiga direktur International Monetary Fund (IMF) Tobias Adrian, Dong He dan Aditya Narain mengajukan proposal untuk segera menyusun kerangka regulasi global bagi Bitcoin dan aset-aset kripto lainnya. Tujuannya ialah untuk menyediakan pendekatan manajemen risiko yang komprehensif dan mampu menjaga kestabilan finansial.

Proposal tersebut diajukan kepada Financial Stability Board (FSB) yang memiliki fungsi koordinasi. Sehingga, IMF menilai FSB pula yang mestinya menyusun kerangka aturan tersebut.

Aturan yang diajukan antara lain terkait lisensi perusahaan kripto yang melakukan aktivitas simpan pinjam laiknya bank harus berlisensi serupa dengan bank tradisional. Aturan ini sebaiknya berlaku bagi aset kripto utama dan stablecoin. Para direktur IMF tersebut juga meminta otoritas setempat membuat persyaratan yang jelas terkait perusahaan kripto.

Apa Implikasinya?

Kerangka aturan Bitcoin dan aset kripto secara global memang dibutuhkan untuk menyelesaikan sengketa dan kendala lintas negara yang kerap terjadi. Namun, penyusunnya perlu memahami perbedaan mendasar pada praktik aset kripto dan teknologi blockchain yang memiliki perbedaan dengan operasional bank konvensional.

2. Defisit Anggaran AS Melejit 32%

Amerika Serikat mencatat defisit APBN sebesar US$191 miliar pada November 2021, atau melebar 32% dibanding November tahun lalu US$145 miliar.

Baik pos penerimaan perpajakan maupun pos belanja mencetak rekor tertinggi di bulan November sepanjang sejarah Amerika Serikat. Adapun penerimaan pajak AS tercatat US$281 miliar atau melonjak 28% secara tahunan.

Hanya saja, belanja pemerintah juga melesat hingga menembus rekor tertinggi sebesar US$473 miliar atau melonjak 30% secara tahunan. Belanja terbesar berada pada pos kesehatan, pelayanan masyarakat dan departemen treasury akibat program-program pandemi.

Apa Implikasinya?

Tingginya defisit anggaran merupakan imbas dari upaya AS untuk memulihkan ekonominya. Defisit yang tinggi akan mengakibatkan AS harus mencetak lebih banyak utang untuk membiayai anggarannya. Akibatnya, utang akan membebani anggaran tahun-tahun mendatang dengan beban bunga dan pokok utang, sementara pagu utang disana telah dibatasi.

Nah, kenaikan penerbitan utang AS pun akan diiringi dengan meningkatnya tingkat imbal hasil obligasi pemerintah negara tersebut. Hal tersebut tentu akan memberikan sentimen negatif bagi investasi berisiko.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investing, Kontan, Reuters, Bisnis Indonesia

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES