Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Kabar: Inflasi AS Melejit, Defisit APBN Bakal Makin Sempit

Rangkuman kabar Kamis (13/1) mengulas optimisme pemerintah Indonesia bahwa pendapatan negara tahun ini bakal makin cuan!

Rangkuman Kabar Domestik

1.  Kemenkeu: Defisit Anggaran Tahun Ini Bakal Di Bawah Target

Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 lebih kecil dari target yakni Rp868 triliun atau 4,85%. Pasalnya, target tersebut belum memperhitungkan pemasukan negara dari Program Pengungkapan Sukarela (PPS) yang sudah berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar Rp1, 39 triliun hanya dalam 11 hari.

Capaian pendapatan yang melampaui target juga terjadi tahun 2021 lalu akibat kinerja ekspor komoditas yang cemerlang. Efek tersebut tampaknya akan kembali terulang tahun ini sehingga pundi keuangan negara bakal lebih gendut dari penganggaran yang telah dibuat.

Apa Implikasinya? 

Defisit anggaran yang lebih sempit berimplikasi pada kebutuhan pembiayaan alias utang negara yang lebih sedikit. Sehingga, anggaran tahun-tahun mendatang tidak terkuras untuk membayar utang dan bunga utang pemerintah yang menumpuk. Ruang anggaran tersebut dapat dialihkan untuk membiayai pembangunan berkelanjutan yang akan meningkatkan fundamental perekonomian Indonesia.

2. DPR Minta DMO Batu Bara Naik Jadi 30%

Komisi VII DPR RI mengajukan usulan agar pemerintah menaikkan persentase kewajiban volume domestic market obligation (DMO) dari 25% menjadi 30%. Hal tersebut diungkap dalam Rapat Kerja Komisi VII yang membidani energi dan pertambangan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Ketua komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto mengungkapkan, usulan tersebut didasari atas kebutuhan batubara yang akan semakin tinggi mengingat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang beroperasi akan semakin banyak di tahun mendatang. Indonesia menargetkan total energi listrik yang dihasilkan PLTU mencapai 35 ribu Mega Watt (MW), sehingga membutuhkan batubara sebanyak 175 juta ton per tahun.

Sementara itu, dari total 578 perusahaan batubara, hanya 47 saja yan patuh menyetor DMO 25%. Sisanya hanya menyetor kurang dari target, bahkan Menteri ESDM menyebut ada 428 perusahaan yang tidak menyetor DMO sama sekali sehingga membuat PT PLN (Persero) kekurangan pasokan batubara.

Apa Implikasinya? 

Usulan kenaikan DMO yang diajukan DPR akan mengurangi porsi ekspor batu bara yang saat ini sedang mahal dan menyumbang cuan besar pada pendapatan negara. Di sisi lain, memastikan ketahan energi nasional terpenuhi juga krusial dalam menghadapi krisis energi yang terjadi di berbagai negara saat ini.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Powell Bikin Hepi Investor, Harga Batu Bara Mulai Tekor

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Inflasi AS Tahun 2021 Sentuh 7%

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat mengumumkan tingkat inflasi tahunan Consumer Price Indeks (CPI)  mencapai 7% pada tahun 2021. Inflasi tahunan tersebut merupakan tingkat inflasi tertinggi yang pernah dicatatkan Paman Sam sejak tahun 1982.

Adapun inflasi inti yang mengesampingkan kenaikan harga bahan makanan dan energi mencapai 5,5%. Kelompok penyumbang inflasi inti terbesar tahun lalu ialah harga rumah dan kendaraan, disamping bahan pokok dan energi yang menjadi pembicaraan hangat sepanjang tahun lantaran kenaikan harga yang tak terkendali.

Apa Implikasinya? 

Tingginya tingkat inflasi AS akan mendorong Federal Reserve memberlakukan pengetatan kebijakan lebih cepat dan komprehensif untuk mengerem naiknya CPI dengan menekan junlah uang beredar. Apalagi, kondisi ini juga didukung oleh rendahnya tingkat pengangguran yang berimplikasi pada kuatnya daya beli masyarakat.

2. Outbreak Omicron di China Perburuk Disrupsi Rantai Pasok

Kasus omicron terdeteksi di Dalian, kota pelabuhan terbesar kedua di China dengan jumlah penduduk 7 juta jiwa, hari ini. Akibatnya, aktivitas di pelabuhan terganggu sehingga memperburuk disrupsi rantai pasok global.

Menumpuknya kapal barang di beberapa pelabuhan di China akibat lonjakan kasus omicron membuat pengiriman barang tertunda hingga satu minggu. Tak hanya berdampak pada China, namun juga negara tujuan seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Lonjakan kasus juga membuat perusahaan seperti Toyota Motor Corp, Sony Group Corp dan Panasonic Corp menghentikan sementara operasinya.

Apa Implikasinya? 

Disrupsi rantai pasok akibat sikap pemerintah China dalam menghadapi penyebaran virus omicron akan berdampak pada kelangkaan barang di berbagai negara. Apalagi, beberapa pabrik yang beroperasi disana juga menutup sementara operasinya.

Efeknya ialah kenaikan harga yang akan tercermin pada tingkat inflasi masing-masing negara maupun agregat inflasi global. Jika ini terjadi, banyak bank sentral akan mengikuti langkah The Fed untuk segera mengencangkan ikat pinggang dalam kebijakan moneternya.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

sumber: Bloomberg, Bisnis

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait