Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

0

Rangkuman Kabar: BI Tapering Tahun Depan, Inflasi Eropa Makin Menyeramkan

Rangkuman kabar Kamis (2/12) mengungkap langkah otoritas moneter Indonesia yang berencana ikut melakukan normalisasi kebijakan tahun depan. Masih banyak kabar lainnya yang perlu kamu simak loh, Sobat Cuan!

Rangkuman Kabar Domestik

1. BI Mulai Tapering Tahun Depan

Bank Indonesia akan memulai pengurangan bertahap likuiditas di pasar keuangan pada tahun depan. Normalisasi kebijakan moneter alias tapering ini dilakukan dengan mengontraksi Operasi Moneter dan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) secara proporsional berdasarkan kredit perbankan dan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Sejak awal tahun hingga 16 November lalu, BI telah menambah likuiditas perbankan sebesar Rp137,24 triliun. Sepanjang pelaksanaan quantitative easing yang dimulai tahun 2020, BI telah menambah likuiditas sebanyak Rp863,8 triliun atau setara 5,3% Produk Domestik Bruto (PDB). Ini belum termasuk suntikan stimulus lewat Surat Berharga Negara (SBN) yang kini telah mencapai Rp143,32 triliun.

Hasilnya, rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) mencapai 34,05%. DPK sendiri mengalami pertumbuhan 9,44% secara tahunan, berikut dengan sejumlah indikator likuiditas yang mengonfirmasi kelonggaran likuiditas di perbankan dan pasar keuangan.

Apa Implikasinya?

Tapering akan mengurangi jumlah uang beredar, sehingga kebijakan tersebut bisa memicu inflasi. Oleh karenanya, kebijakan tersebut harus melalui perhitungan matang dan momentum yang tepat mengingat inflasi tahunan Indonesia masih berada jauh di bawah target hingga saat ini.

2. Kemenkeu Prediksi Inflasi Tahun ini 1,9%

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu memproyeksi inflasi 2021 sebesar 1,9%, naik dibanding 1,68% di 2020. Meski demikian, proyeksi ini masih jauh di bawah target sasaran inflasi yakni 2-5%.

Apa Implikasinya?

Inflasi yang lebih rendah dari target mencerminkan geliat perekonomian yang belum pulih sepenuhnya dari dampak pandemi. Namun, pertumbuhan inflasi dibanding tahun sebelumnya sudah mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat dan permintaan barang dan jasa sudah membaik.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Fed Ngotot Tapering, China Bikin RI Pusing

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Inflasi Harga Produsen Melonjak Tajam di Eropa

Kantor Statistik The European Union menyebutkan harga pabrikan barang di Eropa melonjak 5,4% secara bulanan pada bulan November, melampaui proyeksi para ekonom yakni 3,5%.

Kenaikan harga produsen tentu membuat harga konsumen ikut melonjak. Sepanjang bulan November, harga konsumen tercatat rata-rata naik sebesar 4,9% alias level tertingginya dalam 25 tahun.

Selain krisis energi, turunnya angka pengangguran ikut mengerek laju inflasi. Bulan ini, angka pengangguran tercatat turun menjadi 12.045 juta orang atau setara 7,3% dari total angkatan kerja. September lalu, angkanya mencapai 12.109 juta orang atau setara 7,4% dari total angkatan kerja.

Apa Implikasinya?

Lonjakan harga produsen yang berdampak pada harga konsumen dapat menekan daya beli masyarakat. Namun, turunnya tingkat pengangguran cukup membantu dari sisi daya beli lantaran semakin banyak masyarakat yang berpenghasilan.

2. FAO Sebut Inflasi Pangan November Tertinggi Dalam 10 Tahun

Food and Agriculture Organization (FAO) mengumumkan indeks harga makanan kembali meningkat pada November lalu menjadi 134,4 dari 132,8 di bulan Oktober. Secara tahunan, indeks ini telah mengalami inflasi sebesar 27,3% akibat gagal panen dan lonjakan permintaan.

Beberapa komoditas seperti gula dan sereal terpantau mengalami lonjakan harga fantastis dibanding harga tahun lalu. Gula terinflasi 40% secara tahunan sementara sereal 23,2%. Lonjakan permintaaan ini menurut FAO masih berlanjut hingga tahun depan sementara stoknya malah menipis.

Apa Implikasinya?

Meski tidak banyak mempengaruhi tingkat inflasi inti, namun inflasi pangan merupakan indikator sentimental yang perlu diperhatikan mengingat pangan adalah kebutuhan dasar. Semakin mahal harga pangan, maka akan semakin besar pula porsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi. Sehingga, masyarakat tak punya sisa pendapatan untuk ditabung.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Investing, CNN Indonesia, Bisnis Indonesia, Kata Data

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait