pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 4 menit

View

0

Rangkuman Pasar: Investor Lagi 'Mager', Laju Kripto & IHSG Auto Siwer!

Selamat sore, Sobat Cuan! Market kembali tak bergairah menjelang akhir pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat melempem sementara pasar kripto masih tampak madesu. Kok bisa begitu, ya? Simak ulasan lengkapnya di Rangkuman Pasar berikut!

IHSG

Lagi-Lagi, IHSG Terjun di Bawah Level Psikologis 7.000!

IHSG mengakhiri sesi perdagangan pekan ini di level 6.939,97 poin alias roboh 1,61% dibanding sehari sebelumnya. Nilai IHSG memang terlihat ngenes lantaran selalu terjebak di zona merah sejak awal sesi perdagangan.

Salah satu biang keladi pelemahan IHSG hari ini adalah rebalancing indeks MVIS. Pada hari ini, MVIS merombak anggota-anggota yang terdapat di dua indeksnya, yakni MVIS Indonesia Index (MVIDX) dan indeks MVIS Global Junior Gold Miners (MVGDXJ).

Kali ini, MVIX menendang saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dan menggantinya dengan saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

Tak ketinggalan, MVIS juga mendepak saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dari indeks MVGDXJ.

Nah, aksi rebalancing ini pun memicu asing untuk melakukan aksi jual saham yang didepak tersebut secara besar-besaran. Pasalnya, jika indeks asing mengeluarkan saham-saham tertentu, maka artinya ada pertanyaan ihwal reputasi saham-saham tersebut saat ini.

Sementara itu, dari sisi makroekonomi, aksi jual pelaku pasar juga disebabkan oleh ketakutan bahwa The Fed bisa saja mengerek suku bunga acuannya hingga kisaran 4,5% hingga 5% atau lebih tinggi dari prakiraan semula 3,5% hingga 4%.

Menurut laporan terbaru Morgan Stanley, inflasi tahunan AS sudah mencapai 8,6% pada Mei lalu. Sementara itu, imbal hasil produk instrumen derivatif berbentuk fixing diharapkan tetap di atas 8%. Oleh karenanya, lembaga keuangan top dunia itu meramal The Fed bakal ngebet mengerek suku bunga acuannya hingga limit teratasnya (terminal rate).

Namun, jika itu terjadi, maka pelaku pasar tentu mengkhawatirkan arus modal keluar dari Indonesia. 

Asing Tak Kuasa Lakukan Aksi Jual

Kondisi pasar yang tak menentu menuntun investor asing untuk melakukan aksi jual. Hal itu tercermin dari nilai jual bersih asing (net foreign sell) sebesar Rp1,16 triliun di pasar reguler.

Asing terlihat paling banyak melego saham MDKA senilai Rp420,4 miliar. Tak ketinggalan, mereka juga melepas saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing Rp161,5 miliar dan Rp146,8 miliar.

Kendati demikian, mereka juga tetap paling banyak mengoleksi saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp87,7 miliar. Selain itu, mereka pun getol memborong saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Astra International Tbk (ASII) masing-masing Rp72,8 miliar dan Rp31,2 miliar.

Baca juga: Pluang Insight: Menjejak Hikmah dari Napak Tilas Drama Kejatuhan LUNA

Aset Kripto

Investor Lagi Mager di Akhir Pekan, Aset Kripto Masih Tumbang

Sementara itu, pasar kripto masih menunjukkan raut kurang senang memasuki akhir pekan. Melansir Coinmarketcap pukul 15.32 WIB, delapan dari 10 aset kripto berkapitalisasi pasar jumbo masih tenggelam di zona merah dalam 24 jam terakhir.

Adapun sentimen yang mempengaruhi pasar kripto sore ini masih sama seperti pagi tadi.

Di satu sisi, pelaku pasar masih belum mau terlalu ngebet masuk pasar aset kripto lantaran mereka masih menerka-nerka dampak pengetatan kebijakan moneter The Fed terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS ke depan. Maklum, investor cenderung akan menghindari risiko (derisking) di tengah rezim suku bunga tinggi.

Di sisi lain, pelaku pasar juga ogah mengakumulasi aset kripto mempehatikan aspek teknikal.

Mereka meyakini bahwa harga aset kripto saat ini belum mencapai titik bottom sesungguhnya. Sehingga, mereka memilih untuk menahan akumulasinya dan membiarkan trader lain melakukan aksi sell off.

Selain BTC, salah satu aset kripto yang dipercaya bakal terus ke bottom adalah Solana (SOL). Ya, beberapa analis percaya nilai SOL akan terus lunglai setelah data Coinglass menunjukkan bahwa total token terkunci (Total Value Locked/TVL) SOL terkuras US$870 juta hanya dalam tiga hari, yakni dari 13 hingga 16 Juni silam.

Selain itu, pelaku pasar juga memperkirakan bahwa aset kripto, utamanya BTC, akan memasuki fase konsolidasi yang memakan waktu berbulan-bulan ke depan. Mereka berkaca pada kasus tiga tahun lalu, di mana fase akumulasi investor selesai di pertengahan 2019 setelah harga BTC rontok di akhir 2018.

Oleh karenanya, beberapa trader memilih sabar dan enggan terburu-buru mengambil keputusan trading atau mencari cuan dengan melakukan short selling.

Baca juga: Pluang Pagi: Kripto & Saham AS Bikin 'Prank', Longsor Setelah Tampil Mentereng

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS CFD, serta lebih dari 90 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES