Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Memahami Konsep Expense Ratio dalam Investasi. Apakah Itu?
shareIcon

Memahami Konsep Expense Ratio dalam Investasi. Apakah Itu?

16 Jun 2023, 9:21 AM·Waktu baca: 4 menit
shareIcon
Kategori
Expense Ratio

Expense Ratio merupakan salah satu faktor penting yang harus kamu perhatikan saat akan memilih satu produk investasi kelolaan bersama. Yuk, simak penjelasannya di sini!

Apa itu Expense Ratio?

Expense Ratio (ER) adalah rasio yang menggambarkan seberapa banyak dana kelolaan suatu aset manajemen yang digunakan untuk membayar biaya operasional dan administrasi. Perhitungan rasio ini pun cukup mudah, biaya operasional dan administrasi yang timbul dibagi dengan total dana kelolaan (Asset Under Management/AUM) itu sendiri.

Kendati demikian, investor pun kena imbas atas kehadiran biaya operasional dan administrasi tersebut. Pasalnya, timbulnya biaya-biaya tersebut akan menggerus nilai kelolaan aset milik manajemen investasi, sehingga return yang didapatkan investor pun bakal susut.

Makanya, bagi investor, rasio pengeluaran ini dianggap sebagai faktor pengurang dari total laba investasi kotor yang didapatkannya.

Rasio ini merupakan salah satu instrumen penting yang perlu investor pertimbangkan saat akan memilih produk investasi, khususnya reksa dana.

Dalam produk tersebut, perusahaan manajemen aset umumnya akan mengutip fee atau komisi kepada investor berupa biaya flat yang dibayar di muka. Tetapi, pada kenyataannya, pengelolaan reksa dana juga memerlukan biaya harian yang nantinya akan diakumulasi dan dikenakan secara berkala kepada nasabahnya dalam bentuk persentase.

Nah, persentase inilah yang kemudian disebut sebagai Expense Ratio.

Baca Juga: Mengenal Strategi Income Investing dan Strategi Jitunya bagi Pemula

Mengapa Investor Harus Memahami Expense Ratio?

Rasio ini tentu memengaruhi besar atau kecilnya porsi keuntungan investor dari hasil pengelolaan dananya tersebut.

Porsi Expense Ratio ibarat sepotong pizza dari total imbal hasil investasi yang harus investor berikan kepada perusahaan manajemen aset tempatnya berinvestasi sebagai bayaran atas jasa mereka.

Agar pengeluaran ini tidak membuat investor rugi di kemudian hari, maka ia perlu memperhatikan betul perusahaan manajemen aset mana yang mengenakan Expense Ratio besar maupun kecil saat memilih produk investasi.

Memahami Lebih Jauh Expense Ratio

Apa Saja Komponen Expense Ratio?

Mengelola sejumlah dana investasi bersama tentu memerlukan keterampilan dan pengetahuan. Belum lagi, manajemen aset juga harus mempekerjakan tim riset dan pemasaran untuk mendukung pertumbuhan dana kelolaannya.

Tak hanya itu, pengelolaan dana investasi juga memerlukan biaya dana yang tidak sedikit.

Reksa dana, misalnya saja, biasanya terdiri atas lebih dari satu jenis instrumen investasi, baik saham, pasar uang, maupun surat berharga. Biaya administrasi dari proses kurasi, pembelian hingga pencatatannya pun masuk dalam biaya administrasi dana pengelolaan.

Nah, karena seluruh komponen pengeluaran itu juga dimanfaatkan untuk menumbuhkan nilai investasi sang investor, maka investor pun dirasa wajib untuk ikut menanggung biaya pengelolaan yang dimaksud.

Adapun biaya-biaya yang umumnya termasuk sebagai komponen Expense Ratio dan perlu dibayarkan investor antara lain:

  1. Biaya legal
  2. Biaya akuntansi
  3. Biaya penasehat keuangan
  4. Biaya pelaporan
  5. Biaya dana seperti dividen, bunga dan piaya pinjaman
  6. Biaya distribusi dana
  7. Biaya kustodian

Bagaimana Menghitung Expense Ratio?

Biasanya, biaya-biaya administrasi dan operasional yang dikenakan kepada investor bergantung pada besaran dana yang dititipkan investor tersebut, meskipun ada juga biaya-biaya yang sifatnya flat. Semuanya dihitung dalam suatu formula bernama Expense Ratio.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, formula Expense Ratio cukup sederhana, yakni dengan membagi total biaya dana dengan total aset kelolaan. Meski nantinya rasio ini akan berfluktuasi, perusahaan aset manajemen biasanya cukup konsisten mengenakan biaya dana pada kisaran rasio rata-rata.

Namun, perlu diingat bahwa persentase Expense Ratio ini tidak memperhitungkan biaya yang harus dibayar di muka. Namun, biaya ini diambil dari persentase pertumbuhan portofolio investasi investor.

Sebagai contoh, suatu reksa dana mencatat pertumbuhan return 10% per tahun. Sementara itu, perusahaan aset manajemen yang menaungi produk reksa dana tersebut mengenakan persentase Expense Ratio sebesar 0,25%.

Artinya, tingkat keuntungan bersih yang diterima investor ialah 9,25%, yang berasal dari tingkat return kotor dikurangi rasio bebannya.

Akan tetapi, manajer investasi biasanya telah mereduksi rasio ini dari keuntungan reksa dana setiap harinya. Bahkan, ketika kinerja reksa dana sedang buruk, mereka juga akan mengurangi keuntungan laba harian dengan persentase rasio yang berlaku di perusahaannya.

Jadi, ketika kinerja reksa dana Sobat Cuan sedang minus, maka jumlah tersebut masih harus dikurangi biaya hariannya juga. Adapun biaya yang dikenakan adalah persentase tahunan dibagi 365 hari. Sebagai contoh, jika Expense Ratio-nya adalah 0,5%, maka biaya hariannya adalah 0,00136%.

Baca Juga: Mau Raih Passive Income? Yuk, Investasi di 3 Instrumen Berikut!

Berapa Rasio Beban yang Baik?

Sejatinya, tidak ada ukuran baku untuk menilai ukuran rasio beban yang baik dalam sebuah produk investasi.

Namun, industri keuangan umumnya mengatakan bahwa produk reksa dana yang menempatkan kelolaan aset di saham-saham perusahaan besar harusnya tidak boleh punya Expense Ratio di atas 1%. Kemudian, produk reksa dana yang menempatkan kelolaan asetnya di saham-saham perusahaan skala kecil tidak boleh memiliki rasio di atas 1,25%.

Hanya saja, bagaimana patokan rasio beban yang baik untuk reksa dana berbasis underlying asset lainnya?

Pada umumnya, semakin rendah rasio beban, maka semakin baik pula rasio tersebut. Anggapan itu pun wajar saja lantaran rasio beban yang kecil menggambarkan biaya operasional dan administrasi yang lebih efisien.

Kendati begitu, belum tentu rasio yang lebih rendah akan lebih baik ketimbang yang lebih tinggi.

Salah satu faktor penting dalam melihat proporsi rasio ini adalah rasio pertumbuhan aset kelolaannya. Beberapa manajemen aset mengenakan rasio yang lebih tinggi, namun produknya pun punya kinerja yang baik dan konsisten.

Sementara itu, ada juga aset manajemen yang mengenakan rasio lebih rendah, namun rata-rata kinerja hariannya malah minus. Sehingga, investor pun perlu memperhatikan kinerja asetnya selain rasio beban ketika memilih salah satu produk reksa dana.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham ASindeks saham ASemas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia, Robinhood

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
investasi
Sobat Cuan, Begini Lho Cara Jitu Screening Saham Favoritmu!
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1