Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Leveragearrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Informasi Terkini UntukmuBlogBerita & AnalisisPelajariKamus
bookmark

Cari berita, blog, atau artikel

Berita & Analisis

Pluang Insight: Dihujani Segudang Tantangan, Mampukah Keuangan Amazon Bertahan?

Pluang Insight: Dihujani Segudang Tantangan, Mampukah Keuangan Amazon Bertahan?

26 Apr 2023, 9:25 AM·Waktu baca: 4 menit
Kategori
Pluang Insight: Dihujani Segudang Tantangan, Mampukah Keuangan Amazon Bertahan?

Amazon mengalami tekanan kuat sepanjang tahun lalu. Namun, apakah perusahaan mampu bangkit di kuartal I tahun ini? Simak ulasannya di Pluang Insight berikut!

Profil Singkat Amazon

Amazon adalah perusahaan ritel daring terkemuka di dunia yang sempat mencatat nilai transaksi US$482 miliar dan pendapatan sebesar US$368 miliar di 2020. Tetapi, Amazon tak mau berpuas diri dengan capaian tersebut. Alhasil, perusahaan pun telah melebarkan sayapnya ke bisnis penyimpanan dan basis data awan melalui Amazon Web Services (AWS).

Dilihat dari segmen usahanya, segmen penjualan ritel menyumbang 83% total penjualan Amazon. Sementara itu, jasa penyimpanan dan basis data awan menyumbang 12% ke pundi-pundi penerimaan perseroan, sementara sisanya disumbang dari bisnis periklanan dan co-branding kartu kredit.

Memang, sebagian besar pendapatan Amazon berasal dari Amerika Utara. Kendati begitu, sebanyak 27% pendapatan ritel dan pendapatan non-AWS berasal dari pasar internasional, utamanya dari Jerman, Inggris Raya, dan Jepang.

Baca Juga: Pluang Insight: Bisnis Kian Menggurita, Laba Amazon Terbang 350%!

Bagaimana Performa Keuangan Perusahaan Selama Ini?

Nasib keuangan Amazon sedang tidak baik-baik saja belakangan ini.

Di satu sisi, perusahaan masih membukukan pendapatan yang mumpuni. Bahkan, jika dirata-rata dalam lima tahun terakhir, perusahaan masih mampu membukukan pertumbuhan pendapatan 23,6% per tahunnya.

Angka itu pun terbilang tinggi jika dibanding perusahaan ritel lainnya. Sebagai contoh, pertumbuhan pendapatan Target saja "hanya" sebesar 8,5% di kurun waktu yang sama.

Moncernya pendapatan Amazon sejatinya bukan hanya bersumber dari penjualan ritel semata. Prestasi itu merupakan buah dari upaya perusahaan dalam mendiversifikasi bisnisnya. Sejumlah diversifikasi bisnis Amazon yang paling sukses adalah AWS dan jasa streaming hiburan Prime Video.

Sayang, pendapatan yang cemerlang rupanya tidak sebanding dengan raihan labanya. Pada tahun lalu, Amazon justru membukukan kerugian US$2,7 miliar, sebuah kondisi yang cukup kontras jika dibandingkan laba US$33,3 miliar yang ditorehkan setahun sebelumnya. Ternyata, kerugian ini pun disebabkan oleh membengkaknya biaya operasional sebesar 23% di periode tersebut.

Sejatinya, pelemahan laba tersebut sudah terdeteksi sejak 2021 ketika margin operasional perseroan terus melandai jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kuat dugaan, hal itu disebabkan oleh investasi jumbo perusahaan di divisi logistik, termasuk perekrutan karyawan baru yang banyak, menyusul krisis rantai pasok yang terjadi usai pandemi COVID-19.

Di samping itu, kompetisi bisnis e-commerce yang kian ketat sejak pandemi pun ikut mempengaruhi performa laba perusahaan. Terlebih, perusahaan ritel konvensional seperti Walmart dan Target pun kini sudah merambah kancah belanja daring. Alhasil, Amazon pun harus berjibaku untuk mempertahankan pangsa pasarnya.

Seluruh tantangan itu sontak membuat investor khawatir atas performa Amazon ke depan. Sebagai imbasnya, investor pun "menghukum" Amazon dengan melepas sahamnya. Hal itu pun tercermin dari nilai saham Amazon yang runtuh dari US$170,4 di awal 2022 menjadi US$102,57 per Selasa (25/4).

Seperti Apa Prediksi Keuangan Amazon di Kuartal I 2023?

Meski dirundung banyak perkara di tahun lalu, Amazon sepertinya masih berpeluang untuk mengawali tahun ini dengan senyum.

Lembaga investment bank JPMorgan, misalnya, menaksir penjualan bersih Amazon di kuartal I 2023 sebesar US$122,47 miliar atau bertumbuh 5,18% dari US$116,44 miliar dibanding kuartal I tahun sebelumnya. Selain itu, JPMorgan juga diramal akan mencetak laba per saham US$0,28 di kuartal lalu, membaik signifikan dari rugi per saham US$0,38 di periode yang sama tahun sebelumnya.

Di satu sisi, kinerja penjualan Amazon memang susah melaju kencang gara-gara tren penjualan e-commerce yang cenderung stagnan di kuartal I 2023 seiring kondisi makroekonomi yang belum stabil.

Kondisi ini tercermin dari data konsumsi kartu kredit rilisan bank Chase yang menunjukkan bahwa pembelian produk sekunder AS tumbuh 9% secara tahunan di triwulan lalu, alias naik tipis dari 8% di kuartal IV 2022. Selain itu, Chase juga menunjukkan bahwa transaksi produk primer AS juga tumbuh 6% secara tahunan di kuartal lalu, atau sedikit membaik dari 7% di kuartal sebelumnya.

Meski segmen e-commerce miliknya masih "pingsan", Amazon untungnya diharapkan masih bisa menggantungka asa dari AWS. JPMorgan sendiri memperkirakan bahwa penjualan AWS akan meningkat 12,8% secara tahunan di kuartal lalu seiring keputusan perusahaan untuk mulai memasarkan produk-produk AWS secara ritel.

Bagaimana Prospek Saham Amazon di 2023?

Kinerja keuangan Amazon sepertinya masih memiliki banyak peluang untuk memperbaiki kinerja keuangannya hingga akhir 2023.

Pertama, Amazon masih memiliki pangsa pasar yang kuat di pasar e-commerce AS, sehingga segmen bisnis ini diharapkan masih dapat menopang pendapatannya di tahun ini. Apalagi, pundi-pundi penerimaan Amazon diramal akan bertambah seiring aksi perusahaan untuk merestrukturisasi kembali program Prime miliknya, yakni program berlangganan yang memungkinkan penggunanya untuk menikmati belanja bebas ongkir.

Kedua, upaya efisiensi diharapkan juga dapat memberikan buah manis terhadap profitabilitas perusahaan di tahun ini. Salah satu upaya tersebut adalah melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan yang telah dimulai sejak awal 2023.

Seluruh potensi tersebut diharapkan dapat memperbaiki arus kas bebas perusahaan di 2023, di mana indikator tersebut selalu jadi pusat perhatian investor sejauh ini.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, saham Amazon pun memiliki rating Buy dengan target harga US$134,3 di akhir 2023. atau lebih tinggi 30,9% dari posisinya saat ini.

Selain itu, mengoleksi saham Amazon pun dianggap pilihan jitu saat ini mengingat valuasinya cukup melandai. Apabila ditilik dari rasio harga saham terhadap penerimaan (Price-to-Earning Ratio), valuasi Amazon pun berada di 35,6x P/E atau 2% di atas rata-rata P/E selama dua tahun terakhir. Hal ini terjadi setelah saham Amazon melemah 28,8% sepanjang 2022, alias lebih buruk dibanding pelemahan nilai indeks S&P 500 sebesar 5,2%.

Transaksi Saham Amazon di Sini!

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta ratusan aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Ditulis oleh
channel logo

Marco Antonius

Right baner

Bagikan artikel ini

Apakah artikel ini berguna untukmu?

like
like
Right baner
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1

Daftar