Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
glossary

17 Nov 2022 4:19 AM

View

0

Web 3.0

Web 3.0 adalah internet generasi ketiga yang tengah dikembangkan saat ini. Seperti apa lengkapnya web 3.0? Simak selengkapnya di sini!

Apa Itu Web 3.0?

Web 3.0 adalah generasi internet ketiga yang pengembangannya masih berlangsung sampai saat ini. Melalui Web 3.0, situs web dan aplikasi dapat memproses informasi menyaingi kecerdasan manusia melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), machine learning (ML), Big Data, teknologi buku besar terdesentralisasi (decentralized ledger technology/DLT), dan lainnya.

Hal tersebut memungkinkan komputer untuk menganalisis data dengan cara yang sama seperti yang dilakukan manusia. Ia membantu distribusi konten sesuai dengan kebutuhan spesifik penggunanya.

Adapun karakteristik utama Web 3.0 adalah data akan semakin terhubung dengan cara terdesentralisasi. Karakteristik ini akan menjadi lompatan besar ke depan untuk generasi internet yang ada saat ini di mana sebagian besar data disimpan oleh beberapa "wadah" terpusat dan dikuasai segelintir perusahaan tertentu. Hal tersebut kerap memberi celah bagi pembajakan data yang sering terjadi dewasa ini.

Di samping itu, karakteristik utama Web 3.0 lainnya adalah kemampuan pengguna dan mesin untuk berinteraksi dengan data. Namun, agar ini bisa terjadi, Web 3.0 perlu memaksimalkan teknologi  kecerdasan buatan.

Lebih lanjut, sampai saat ini, konsep Web 3.0 dianggap masih belum sempurna. Namun, bercermin dari transisi dari Web 2.0 ke Web 3.0, setidaknya butuh waktu lima hingga 10 tahun untuk membangun konsep sebenarnya dari Web 3.0.

Baca Juga: Altcoin Season

Web 3.0 Adalah Bagian dari Evolusi Internet

Jika terdapat Web 3.0, maka seharusnya ada versi internet sebelumnya, sebut saja Web 1.0 dan Web 2.0. Lantas, seperti apa perbedaannya Web 3.0 dengan dua generasi internet sebelumnya?

Web 1.0

Web 1.0 adalah periode internet antara 1989 hingga 2005. Dalam periode tersebut, internet masih memiliki halaman statis. Dengan kata lain, seluruh konten yang disajikan bersifat "satu arah" dan berasal dari sistem file server atau terpusat. Halaman web yang dibuat juga masih berbasis teknologi Sеrvеr Sіdе Inсludе аtаu Common Gаtеwау Intеrfасе (CGI).

Dalam era internet tersebut, pengguna hanya menjadi konsumen atas konten yang disediakan perusahaan pengembang web. Artinya, pengguna tidak bisa berinteraksi dengan konten internet, misalnya seperti memberi komentar atau memberikan reaksi terhadap konten-konten di jagat maya.

Arus informasi di Web 1.0 juga bersifat terbatas karena era internet ini masih belum memanfaatkan teknologi algoritma. Selain itu, penyajian data dan konten masih disediakan oleh sistem file statis alih-alih berasal dari database.

Web 2.0

Sementara itu, Web 2.0 adalah fase evolusi internet yang berlangsung sejak 2005 hingga sekarang. Berbeda dengan Web 1.0, internet di era Web 2.0 menjadi lebih interaktif berkat teknologi seperti Javascript, HTML5, dan CSS3. Teknologi tersebut juga menjadi dasar bagi platform web interaktif seperti Facebook dan YouTube.

Karena pengguna kini sudah bisa berinteraksi dengan konten internet, maka konten yang disajikan pun cukup dinamis dan responsif terhadap masukan pengguna. Pengguna internet juga dimungkinkan untuk melakukan evaluasi dan membubuhi komentar secara daring kepada pemilik situs.

Semakin canggihnya teknologi internet juga memungkinkan pengguna untuk memilih informasi secara bebas. Hal tersebut memungkinkan pengguna untuk mengambil dan menglasifikasikan informasi secara kolektif.

Hanya saja, pada era internet ini, data pengguna internet jadi dimiliki oleh segelintir pihak saja. Sehingga, perusahaan internet menjadi punya kuasa untuk menentukan siapa saja yang mampu atau tidak bisa menikmati konten internet.

Web 3.0 

Yang teranyar, Web 3.0 adalah sebuah evolusi internet di mana jagat dunia maya bisa "lebih pintar" lantaran bisa memproses informasi melalui kecerdasan buatan. Sehingga nantinya, perangkat komputer akan dapat memilah informasi layaknya manusia dan akan memberikan informasi yang lebih cepat dan relevan.

Lebih lanjut, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan ini akan membuat penggunanya menikmati konten berdasarkan analisis data pengguna. Adapun sebelumnya, pengguna bisa mencari konten yang mereka ingin lihat dengan memasukkan kata kunci di situs-situs internet.

Baca Juga: Cryptocurrency Airdrop

Hubungan Web 3.0 dan Jagat Kripto

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, salah satu karakteristik Web 3.0 adalah desentralisasi data. Hal ini rupanya sejalan dengan semangat yang digaungkan teknologi blockchain dan aset kripto. Akibatnya, hubungan antara Web 3.0 dan aset kripto akan semakin mesra ke depan.

Saat ini, sudah ada beberapa contoh kasus di mana Web 3.0 membantu pengembangan jagat blockchain. Berikut di antaranya!

1. Metaverse

Metaverse adalah konsep di mana seseorang bisa punya kehidupan lain di dunia virtual. Berkat teknologi kecerdasan buatan, penggunanya bisa menjelajahi dunia ini seperti menelusuri kehidupan di dunia yang sebenarnya.

Terdapat beberapa platform Metaverse berbasiskan teknologi blockchain. Namun, dengan memanfaatkan Web 3.0, maka Metaverse tersebut akan punya sifat lebih inklusif, terdesentralisasi, dan memungkinkan penggunanya untuk mengontrol data-data yang telah mereka berikan di internet.

2. Game Berbasis Blockchain

Di dalam game Web 3.0, pemain bisa mendulang uang hanya dengan bermain game digital. Di samping itu, mereka juga benar-benar bisa memiliki item-item game khusus dan bahkan menjualnya kembali untuk menerima cuan.

Nah, uang yang mereka keluarkan dan terima umumnya dicatat di teknologi blockchain. Sehingga, mereka bisa mendapat imbalan bermain game dalam bentuk aset kripto.

3. Creator Economy

Kini, membuat konten internet bisa menjadi salah satu cara mendapatkan cuan. Hanya saja, platform yang mengakomodasi pencipta konten (content creator) seperti Facebook dan YouTube kadang memberikan imbalan yang tak sesuai dengan keinginan sang kreator.

Oleh karenanya, pencipta konten seperti artis, penulis, musisi, dan seniman bisa memanfaatkan Web 3.0 untuk menghindari perantara dan memasarkan langsung karyanya ke khalayak ramai. Sehingga, mereka bisa mendapatkan imbalan sesuai seperti yang mereka mau.

Namun, mereka juga bisa memanfaatkan teknologi blockchain untuk menciptakan bukti kepemilikan mereka atas karya seni yang telah diciptakan. Salah satu contohnya adalah melalui teknologi Non-Fungible Token (NFT).

Baca Juga: Crypto Staking

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Coinmarketcap, Cointelegraph

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait