Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Kamus

Mark to Market
shareIcon

Mark to Market

0  dilihat·Waktu baca: 3 menit
shareIcon
Mark to Market

Mark to market adalah konsep untuk mengukur nilai aset atau liabilitas berdasarkan harga yang berlaku saat ini. Namun, apa manfaat konsep itu sebenarnya?

Apa Itu Mark to Market (MTM)?

Mark to Market (MTM) adalah sebuah metode yang digunakan untuk mengukur nilai aktual (fair value) akun-akun yang nilainya berfluktuasi antar waktu, seperti aset dan liabilitas.

Analis dan investor biasanya menggunakan metode ini untuk mengukur kondisi aset satu perusahaan berdasarkan kondisi pasar yang sedang berlangsung. Pasalnya, mereka tentu ingin melihat aset-aset perusahaan setidaknya bisa dipertahankan di level yang sama seperti harga belinya.

Metode ini digunakan di segala lini kegiatan ekonomi, mulai dari akuntansi, jasa keuangan, dan investasi.

Dalam akuntansi, MTM adalah sebuah praktik akuntansi untuk menentukan nilai aset sesungguhnya berdasarkan kondisi pasar saat ini. Hal ini bertujuan agar perusahaan bisa mengetahui berapa nilai kas yang bisa diraup jika memilih untuk menjual aset-aset tersebut saat ini.

Kemudian, di dalam industri jasa keuangan, lembaga jasa keuangan perlu melakukan metode MTM ketika ingin menyesuaikan nilai asetnya apabila terdapat kredit bermasalah. Yakni, dengan menurunkan nilai asetnya ke fair value dengan menambah satu akun bernama Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).

Kemudian, di dalam kegiatan investasi, Mark to Market biasanya digunakan investor untuk melihat nilai aktual dari sebuah produk investasi antar waktu.

Dalam kontrak berjangka, misalnya, nilai tersebut digunakan untuk mengetahui apakah sang investor mengalami kondisi margin call atau tidak. Selain itu, dalam investasi reksa dana, metode MTM juga digunakan agar sang investor bisa mengetahui nilai aktiva bersih (NAB) yang sesungguhnya dari investasi yang dilakukannya.

Baca juga: Market Order

Apa Manfaat Mark to Market?

Metode ini bisa memberikan banyak informasi kepada masyarakat, contohnya adalah:

1. Mengevaluasi Risiko Finansial Perusahaan

Salah satu keunggulan utama dari konsep MTM adalah kemampuannya dalam mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko keuangan yang melekat pada portofolio perusahaan.

Sebagai contoh, ketika seorang investor ingin memberikan pinjaman kepada satu perusahaan, maka mereka pun harus mempertimbangkan kemungkinan peminjam dalam melunasi utang-utang tersebut.

Jika pinjaman tidak dapat ditagih, maka pinjaman tersebut tidak memiliki nilai. Oleh karena itu, mereka pun bisa melihat nilai aset berdasarkan metode Mark to Market untuk melihat potensi perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban-kewajibannya.

Selain itu, MTM juga mempermudah pelacakan potensi kerugian atau keuntungan yang mungkin dihasilkan dari investasi tersebut.

2. Mempermudah Investor Memahami Profil Risiko

Kelebihan lain dari MTM adalah kemampuannya dalam membantu investor memahami dengan lebih baik profil risiko instrumen finansial tertentu. Sehingga, mereka dapat membuat keputusan investasi yang lebih tepat.

Oleh karena itu, konsep MTM memiliki peranan yang sangat penting dalam dunia bisnis modern dan memberikan manfaat yang signifikan baik bagi investor maupun perusahaan.

Baca juga: Sleeping Investor

Cara Kerja dan Contoh Mark to Market

Mark to market adalah proses penyesuaian nilai aset yang tercantum dalam neraca atau akun berdasarkan nilai pasar saat ini dari aset tersebut.

Sebagai contoh, anggap saja perusahaan A memutuskan untuk menginvestasikan uangnya di obligasi pemerintah jangka panjang. Hanya saja, instrumen tersebut memiliki risikonya sendiri, di mana harga obligasi ke depan bisa menurun jika suku bunga acuan naik.

Lantas, bagaimana perusahaan A menangkap perubahan-perubahan tersebut di dalam laporan keuangannya?

Dalam kasus ini, perusahaan A bisa menerapkan Mark to Market untuk obligasi pemerintah tersebut ketika melakukan pembukuan di setiap kuartalnya.

Jika suku bunga acuan naik, maka perusahaan akan mencatat nilai obligasi yang lebih rendah dari nilai investasi awal. Nah, "kerugian" yang timbul tersebut kemudian disebut sebagai Mark to Market loss, yakni kerugian yang tercatat dari sisi akuntansi namun belum terealisasi. Kerugian itu baru terealisasi jika sang perusahaan benar-benar menjual obligasi tersebut di bawah harga belinya.

Namun, jika suku bunga turun, maka nilai obligasi tersebut akan meningkat dan perusahaan pun dapat mencatat peningkatan nilai aset.  Hal ini berlaku terlepas dari apakah perusahaan berniat untuk memegang obligasi tersebut hingga jatuh tempo atau tidak.

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi Saham AS, indeks saham AS, emas, ratusan aset kripto dan puluhan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Investopedia, Fool, Corporate Finance Institute

Ditulis oleh
channel logo

Galih Gumelar

Right baner

Galih Gumelar

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

High-Net-Worth Individual (HNWI)

Right baner
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1