Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 4 menit

View
0

Memahami Support dan Resistance

Support dan resistance adalah salah satu konsep dasar analisis teknikal yang bisa diterapkan di berbagai jenis aset, seperti saham, komoditas, hingga aset kripto. Tapi, apa kegunaan kedua konsep tersebut di dalam analisis teknikal?

 

Support adalah level harga, area, atau zona di mana permintaan sebuah aset akan membludak. Hal tersebut nantinya akan mendukung (support) harga aset untuk terus melaju dan mencegah harga bergerak melandai.

Sementara itu, resistance adalah level harga, zona, atau area di mana investor akan berbondong-bondong menjual asetnya, sehingga harga aset akan tertahan (resistant) dan gagal melesat ke tingkatan yang lebih tinggi.

Bagi pelaku pasar, titik support dan resistance adalah dua level yang dianggap bisa menghambat pergerakan harga aset, baik ketika menanjak atau menurun.

Mengapa Ada Titik Support dan Resistance di Pasar?

Sobat Cuan perlu memahami bahwa pergerakan harga aset dipengaruhi oleh dua emosi utama manusia, yakni ketakutan (fear) dan kekhawatiran (greed). Kedua emosi tersebut membentuk sebuah fenomena yang disebut sebagai psikologi pasar.

Contoh nyatanya adalah sebagai berikut. Ketika banyak investor khawatir bahwa harga sebuah aset akan jatuh, maka harganya akan benar-benar jatuh! Harga aset tersebut akan terus melandai sampai ketakutan pelaku pasar sirna dan perlahan berubah menjadi ketamakan untuk memborong aset tersebut mumpung harganya jatuh.

Kemudian, level support pun terbentuk di sebuah area harga tertentu, yakni tingkatan harga di mana pelaku pasar akan memborong aset di pasar. Level support ini bisa bertahan dalam jangka pendek atau bahkan hingga berbulan-bulan lamanya.

Sebaliknya, ketika harga sebuah aset menanjak terus, maka nantinya akan tercipta titik resistance. Yakni, sebuah area harga di mana pelaku pasar akan berbondong-bondong mendulang cuan dengan menjual asetnya setelah harganya ngebut tak henti-henti. Sayangnya, aksi jual yang deras dari investor itu menghambat harga aset untuk melesat lebih tinggi.

Sobat Cuan bisa menyimak contoh kasusnya pada grafik harga BTC/USD antara April hingga September 2020 berikut.

Dari grafik di atas, Sobat Cuan bisa melihat bahwa harga Bitcoin terus meningkat dan menyentuh level resistance di US$10.000. Kemudian, harganya perlahan menurun setelah menghampiri level tersebut untuk sejenak. Nah, level itu bisa diartikan bahwa aksi jual pelaku pasar terbilang ramai meski permintaannya tidak begitu banyak, sehingga harga pun mau tak mau ikut melandai setelahnya.

Di samping itu, level resistance pun bisa berjumlah banyak di dalam satu level harga yang sama. Sebab, harga aset memang tidak akan selalu menanjak dan berhenti di level yang sama terus-menerus. Hal ini, tentu saja, terjadi karena pergerakan harga ditentukan oleh pelaku pasar.

Oleh karenanya, kamu juga harus ingat bahwa titik support dan resistance tidak pernah terjadi dalam satu level harga yang sama. Sehingga, ketika harga aset meningkat sedikit saja dari titik resistance, hal itu belum tentu jadi indikasi bahwa harga aset telah sukses menembus sang level resistance. Harga aset bisa dibilang berhasil menembus titik resistance jika ia telah "tahan banting" dari konsolidasi yang terjadi secara sideways.

Umumnya, ketika sebuah harga aset mendobrak level resistance-nya, psikologi pasar akan membuat level resistance tersebut sebagai titik support. Begitu pun sebaliknya. Untuk memahami alasannya, mari kita tengok contoh berikut.

Anggap saja kamu adalah investor Bitcoin. Kamu memang dapat cuan setelah menjual asetmu di zona resistance, namun kamu kemudian menyesali keputusan tersebut karena ternyata harga Bitcoin justru melonjak tak henti-henti. Akibatnya, kamu pun berniat ingin kembali memborong Bitcoin asal harganya sama seperti harga jualmu sebelumnya.

Dari grafik di atas, kamu juga bisa melihat bahwa titik resistance di US$10.000 kini menjadi zona support baru.

Bagaimana Cara Mencari Support dan Resistance?

Titik support dan resistance adalah dua indikator kunci dalam analisis teknikal untuk memprediksi tren harga.

Untuk menemukannya, kamu tinggal menghubungkan beberapa level harga tertinggi dan terendah secara horizontal. Garis-garis tersebut bisa digambar melalui garis di bawah (support) atau garis di atas (resistance). Atau, kamu juga bisa menggunakan harga penutupan (closing price) mengingat sebagian besar investor lebih doyan menganalisis menggunakan harga penutupan.

Kemudian, kamu tarik garis memanjang ke level harga-harga sebelumnya untuk melihat apakah memang sang harga aset tersebut juga berhenti di titik yang sama di masa lalu. Semakin banyak level harga berhenti di titik yang sama di kejadian sebelum-sebelumnya, maka besar kemungkinan bahwa level itulah yang akan menjadi titik support dan resistance ke depan.

Contohnya bisa kamu temukan di grafik BTC/USD tahun 2021 berikut.

Gambar di atas menunjukkan bahwa zona support di level US$32.000 terjadi sebanyak tiga kali. Artinya, dalam titik harga ini, investor biasanya melancarkan aksi beli sebelum harganya kembali merangkak.

intinya, level support dan resistance adalah indikator yang menunjukkan interaksi antara permintaan dan penawaran. Di titik inilah investor menerima sinyal membeli atau menjual asetnya.

Sekalinya kamu menguasai ilmu menganalisis kedua level tersebut, maka kamu akan semakin menerima manfaatnya. Makanya, kamu harus sering-sering berlatih untuk mencari dan menggambar kedua level tersebut. Selain itu, kamu juga perlu mengawasi dinamika pasca harga aset menembus titik level support atau resistance-nya.

Di samping itu, kamu juga harus memahami bahwa harga aset bisa saja tidak akan mendobrak titik support dan resistance-nya. Sehingga, cari metode yang pas untuk menentukan di titik mana harga berbalik arah agar kamu semakin mudah mengambil keputusan.

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?