
1. 'Gempa' Wall Street Bisa Menjalar ke Asia, RI Bisa Terguncang (Sumber: CNBC Indonesia)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia mengalami kenaikan ketika dana asing mengalir kembali ke pasar, sementara nilai rupiah melemah terhadap dolar AS. IHSG tetap berada di zona hijau dan ditutup lebih tinggi, melanjutkan kenaikan dari hari sebelumnya. Sektor energi dan sektor non-primer konsumen menjadi kontributor terbesar pada kenaikan IHSG. Investor asing mencatat pembelian bersih di pasar, dan beberapa saham, termasuk PT Bayan Resources Tbk dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, berkontribusi pada peningkatan indeks saham acuan. Meskipun pasar saham global yang lesu, IHSG menguat. Sementara itu, rupiah melemah karena tekanan eksternal, termasuk rilis pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang mengisyaratkan kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS. Ketegangan antara AS dan Cina mengenai pembatasan ekspor semikonduktor juga membebani pasar global. Fluktuasi rupiah disebabkan oleh tantangan global, dan diperkirakan akan tetap relatif stabil dalam jangka panjang.
2. Wahai Pengangguran Amerika, Tolong Bantu Pemilik Emas (Sumber: CNBC Indonesia)
Harga emas turun setelah rilis data tenaga kerja AS, dan pergerakannya juga akan dipengaruhi oleh data pengangguran AS yang akan datang untuk bulan Juni. Pada hari Kamis, harga emas ditutup pada $1,910.79 per ons Troy, level terendah dalam seminggu terakhir. Penurunan harga emas berlanjut dari hari Rabu ketika melemah sebesar 0,40%. Namun, harga sedikit membaik pada hari Jumat, mencapai $1,911.37. Penurunan harga emas dapat dikaitkan dengan data tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan dari ADP, yang menunjukkan peningkatan signifikan dalam tenaga kerja sektor swasta pada bulan Juni. Hal ini telah membuat investor mengantisipasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS, memberikan tekanan pada harga emas. Pergerakan harga emas juga akan bergantung pada data pengangguran yang akan datang untuk bulan Juni, dengan harapan penurunan lebih lanjut. Jika tingkat pengangguran lebih rendah dari yang diharapkan, harga emas dapat turun lebih jauh.
3. CEO BlackRock: Bitcoin Bakal Ubah Sistem Keuangan (Sumber: CNBC Indonesia)
Larry Fink, CEO BlackRock, percaya bahwa mata uang kripto, terutama Bitcoin, dapat merevolusi sistem keuangan. Dia sebelumnya menyatakan skeptisisme tentang kripto karena khawatir tentang aktivitas ilegal. Namun, Fink sekarang melihat potensi kripto sebagai aset alternatif yang dapat melindungi dari inflasi dan depresiasi mata uang. BlackRock telah mengajukan permohonan untuk Bitcoin ETF dengan SEC, tetapi permohonan tersebut belum disetujui. Fink berharap dapat bekerja dengan regulator untuk akhirnya mendapatkan persetujuan. Dia juga mengakui nilai teknologi blockchain dalam memfasilitasi dan mempercepat transaksi, dan percaya bahwa teknologi ini akan terus berkembang seiring dengan kecerdasan buatan. Baru-baru ini, Bitcoin melampaui batas $30,000 dalam fase bullish-nya.
4. Mayoritas Kripto Kebakaran Gara-Gara Bitcoin, Ada Apa? (Sumber: CNBC Indonesia)
Dalam perdagangan hari ini, dua mata uang kripto teratas, Bitcoin dan Ethereum, mengalami koreksi, tetapi tujuh mata uang kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar masih berkinerja baik selama seminggu ini. Bitcoin telah tetap berada di atas level $30,000 selama 13 hari berturut-turut. Penurunan suku bunga yang ditetapkan oleh The Fed dan potensi sikap yang tegas hingga akhir tahun telah menyebabkan penurunan minat investasi dalam mata uang digital. Ada juga kekhawatiran tentang likuiditas aset kripto karena penurunan volume perdagangan. Peserta pasar memprediksi bahwa suku bunga AS mungkin akan meningkat dua kali tahun ini, menyebabkan investor beralih ke aset defensif. Kurangnya aktivitas perdagangan dan pergerakan yang beragam dalam mata uang kripto juga dikaitkan dengan peserta pasar yang menunggu rilis data ekonomi, terutama dari Amerika Serikat. Artikel ini mencantumkan disclamer bahwa ini adalah opini dan tidak merekomendasikan keputusan investasi tertentu.
5. Data Pekerjaan AS Kuat, Wall Street Dibuka Merah Padam (Sumber: CNBC Indonesia)
Pasar saham Amerika Serikat, atau Wall Street, dibuka dengan kerugian pada hari Kamis karena keprihatinan atas kebijakan ketat Federal Reserve Amerika Serikat. Indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite semuanya mengalami penurunan yang signifikan. Pada bulan Juni, lapangan kerja sektor swasta meningkat sebanyak 497.000, melebihi harapan dan menimbulkan kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga. Investor percaya bahwa ada kemungkinan tinggi terjadi kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral bulan ini. Saham JetBlue Airways jatuh setelah mengumumkan berakhirnya kemitraan dengan American Airlines. Wall Street juga sedang menganalisis risalah pertemuan kebijakan The Fed pada bulan Juni, yang menunjukkan dukungan terhadap kenaikan suku bunga di masa depan.
Disclaimer: Konten berikut ditulis dan dikurasi secara otomatis menggunakan teknologi AI.


