Berita & Analisis
Berita Terpopuler 6 Juli 2023
shareIcon

Berita Terpopuler 6 Juli 2023

6 Jul 2023, 10:02 AM
·
Waktu baca: 3 menit
shareIcon
Berita Terpopuler 6 Juli 2023
Berikut lima berita terpopuler untuk semua artikel pada 6 Juli 2023.

1. Mayoritas Kripto Kebakaran Gara-Gara Bitcoin, Ada Apa? (Sumber: CNBC Indonesia)

Dalam perdagangan hari ini, dua cryptocurrency teratas, Bitcoin dan Ethereum, mengalami koreksi, tetapi secara keseluruhan, tujuh dari kripto terbesar masih berakhir minggu ini di zona hijau. Bitcoin tetap berada di atas level kunci US$30,000 selama 13 hari berturut-turut. Bitcoin mengalami koreksi sebesar 1.30% menjadi US$30,860.92, naik 1.07% dalam seminggu. Ethereum sedikit turun sebesar 0.73% menjadi US$1,942.19, tetapi mengalami kenaikan sebesar 3.76% dalam seminggu. Binance, di sisi lain, menguat sebesar 1.24% menjadi harga US$243.24 per koin, tetap berada di zona hijau selama tujuh hari terakhir. Koreksi di pasar kripto ini dikaitkan dengan tingginya suku bunga yang ditetapkan oleh The Fed dan sikap yang mungkin hawkish, menyebabkan penurunan minat investasi dan potensi pergeseran dari kripto ke mata uang fiat. Tingginya volume perdagangan rendah dan menunggu rilis data ekonomi juga berkontribusi pada perdagangan yang lebih sepi dan koreksi keseluruhan di pasar.

2. JPMorgan Ramal Pasar RI Bisa Cuan Melimpah, Ini Penyebabnya (Sumber: CNBC Indonesia)

Pasar Asia Tenggara, terutama Indonesia, memiliki potensi untuk mendapatkan manfaat dari pergeseran rantai pasok dari China ke wilayah ini. Saat ini, China mengalami perlambatan ekonomi, dengan aktivitas pabrik yang menyusut untuk ketiga kalinya berturut-turut pada bulan Juni 2023. Aktivitas non-manufaktur juga berada pada titik terlemahnya sejak Beijing mengakhiri kebijakan "zero-Covid"nya. Meskipun perlambatan ekonomi di China, Asia Tenggara dipandang berada dalam posisi yang menguntungkan karena pergeseran rantai pasok. JPMorgan memberikan peringkat overweight kepada Indonesia dan Vietnam karena mereka menarik investasi langsung asing (FDI) dari pergeseran rantai pasok. Indeks saham MSCI ASEAN telah turun tahun ini, tetapi JPMorgan percaya bank sentral di Asia Tenggara akan tetap mempertahankan suku bunga, yang menguntungkan pasar saham domestik. Investor masih mempertimbangkan memasuki pasar saham Indonesia, terutama dengan adanya pemilihan presiden pada tahun 2024. Saat ini, pasar saham Indonesia dianggap murah dibandingkan dengan rata-rata historis dan pasar Asia lainnya. Secara keseluruhan, prospek pasar Asia Tenggara, terutama Indonesia, adalah positif.

3. Hartadinata Abadi Jualan Emas Rp 3,93 T ke India (Sumber: CNBC Indonesia)

PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) telah mengekspor emas senilai US $ 262,29 juta atau 3,93 triliun IDR ke Bright Metal Refiners (BMR) di India. Transaksi ini, yang lebih dari 20% dari nilai ekuitas perusahaan, dianggap signifikan. HRTA dan BMR telah menandatangani nota kesepahaman untuk ekspor perhiasan emas, dengan manajemen menyatakan bahwa tidak ada afiliasi atau konflik kepentingan antara kedua perusahaan tersebut. Transaksi ini telah berdampak positif pada kinerja produksi dan penjualan HRTA. Bright Gold, yang terletak di New Delhi, India, memiliki sertifikasi untuk pemurnian dan daur ulang logam mulia. Saham HRTA telah mengalami peningkatan sebesar 1,38%, dan selama seminggu terakhir, telah menguat sebesar 6,28%.

4. Harga Emas Mulai Bersinar Tapi Masih Bikin Deg-Degan (Sumber: CNBC Indonesia)

Harga emas perlahan pulih dan telah menguat sejak Kamis lalu. Pada hari Selasa, harga emas spot ditutup pada US$1,925.09 per ounce troy, naik 0.19%. Dalam empat hari perdagangan terakhir, harga emas naik sebesar 0.93%. Tren positif ini masih berlanjut, dengan perdagangan hari Rabu menunjukkan harga US$1,925.93, naik 0.04%. Peningkatan harga emas ini dikaitkan dengan harapan bahwa Federal Reserve AS akan melonggarkan kebijakannya, menyusul perlambatan aktivitas manufaktur AS dan fase kontraksi PMI AS. Peserta pasar juga menanti data tenaga kerja AS dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee bulan Juni untuk mengukur keputusan kebijakan moneter Fed.

5. Rupiah tertekan peningkatan ketegangan perdagangan AS dan China (Sumber: Antara News)

Nilai tukar rupiah Indonesia terhadap dolar Amerika Serikat terkena dampak negatif akibat meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Keputusan China untuk memblokir ekspor material khusus yang digunakan dalam pembuatan chip ke Amerika Serikat telah memperburuk ketegangan, yang mengakibatkan kekhawatiran akan konflik perdagangan yang lebih besar. Investor khawatir akan gangguan dalam rantai pasokan global dan kesulitan ekonomi China dalam pulih dari peraturan COVID-19. Selain itu, rupiah melemah karena fokus pada risalah pertemuan Federal Reserve bulan Juni dan harapan kenaikan suku bunga. Rupiah diperkirakan akan tetap fluktuatif tetapi lebih lemah.


Disclaimer: Konten berikut ditulis dan dikurasi secara otomatis menggunakan teknologi AI.

Ditulis oleh
channel logo
Kevin ReviroRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1