Berita & Analisis
Berita Terpopuler 4 Juli 2023
shareIcon

Berita Terpopuler 4 Juli 2023

4 Jul 2023, 10:03 AM
·
Waktu baca: 3 menit
shareIcon
Berita Terpopuler 4 Juli 2023
Berikut lima berita terpopuler untuk semua artikel pada 4 Juli 2023.

1. Regulator AS Serang Kripto, Bitcoin Tetap di Level US$30.000 (Sumber: CNBC Indonesia)

Sebagian besar mata uang kripto, termasuk Bitcoin, menunjukkan pertumbuhan positif dan mempertahankan posisinya di atas beberapa ambang harga tertentu. Bitcoin telah bertahan di atas US$30.000 selama 11 hari berturut-turut, menandakan potensi fase bullish. Ethereum dan Binance juga mengalami keuntungan. Namun, ada beberapa kesulitan akibat komentar-komentar Sekuritas dan Bursa Komisi AS mengenai aplikasi Bitcoin ETF. Meskipun demikian, sentimen pasar tetap positif, dengan altcoin lainnya juga menguat. Pasar akan memperhatikan dengan cermat peristiwa-peristiwa ekonomi besar dan langkah-langkah selanjutnya SEC mengenai Bitcoin ETF.

2. Ini Ancaman Bos The Fed yang Bikin Pemilik Emas Panas Dingin (Sumber: CNBC Indonesia)

Harga emas dunia melemah pagi ini, mematahkan tren penguatan dari minggu lalu. Di pasar spot, harga sedikit turun menjadi $1.918,42 per ons troy, turun 0,06%. Penurunan ini datang setelah harga emas ditutup lebih kuat pada Jumat sebesar $1.919,56 per ons troy. Pasar emas saat ini berhati-hati mengikuti pernyataan dari Ketua Federal Reserve AS, Jerome Powell, yang menyebutkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak turun. Emas mengalami penurunan triwulanan pertamanya dalam tiga tahun, turun sebesar 2,5% pada triwulan ini. Harapan kenaikan suku bunga lebih lanjut di AS telah menekan harga emas, mengikis daya tariknya bagi investor yang memegang mata uang lain.

3. Investor Kakap Dunia Kompak Cabut dari China, Pindah ke Sini (Sumber: CNBC Indonesia)

Tiongkok, yang dikenal sebagai pusat pabrik dunia, sedang mengalami pergeseran ketika banyak investor global dan perusahaan menarik diri dan memindahkan bisnis mereka dari negara itu. Perang perdagangan yang diluncurkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump pada tahun 2018 dan aturan lockdown Covid-19 yang ketat di Tiongkok telah mendorong investor untuk mengevaluasi kembali risiko geopolitik mereka. Bahkan produsen Tiongkok sendiri telah memindahkan sebagian rantai pasokan mereka keluar dari Tiongkok. Apple telah memindahkan rantai pasokannya ke luar Tiongkok tetapi masih mengandalkan kontraktor Tiongkok untuk beberapa produk tertentu. TSMC, produsen chip terbesar di dunia, sedang memperluas operasinya di Taiwan dan Amerika Serikat di tengah ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Mazda, produsen mobil Jepang, telah memindahkan produksi beberapa suku cadang kembali ke Jepang karena gangguan dalam rantai pasokan dan jadwal produksi yang disebabkan oleh lockdown di Tiongkok. Langkah ini didorong tidak hanya oleh biaya tetapi juga oleh kebutuhan akan stabilitas rantai pasokan.

4. Yen dan dolar turun, pedagang pertimbangkan jalur kenaikan bunga Fed (Sumber: Antara News)

Yen Jepang diperdagangkan sedikit di bawah ambang batas 145 terhadap dolar AS, melemah setelah data ekonomi AS pekan lalu menunjukkan penurunan inflasi dan pengeluaran konsumen. Meski demikian, yen telah menguat terhadap poundsterling dan tetap berada di bawah titik terendah 15 tahun terhadap euro. Otoritas Jepang telah menyatakan bahwa mereka akan mengambil langkah yang tepat untuk mencegah pelemahan yen yang berlebihan. Rapat Juni Federal Reserve AS akan dipantau secara seksama oleh investor, karena ada harapan tentang peningkatan suku bunga. Data ekonomi pekan lalu menunjukkan perekonomian AS yang kuat, tetapi inflasi yang lebih rendah dari yang diharapkan serta perlambatan pengeluaran konsumen telah menimbulkan beberapa kekhawatiran. Dolar mengalami sedikit penurunan, sementara euro dan poundsterling telah memiliki awal yang lemah pada kuartal ketiga. Yuan China menstabilkan diri setelah melemah, dan dolar Australia dan Selandia Baru menguat.

5. Bye Resesi..Siap-siap Wall Street Bakal Bullish (Sumber: CNBC Indonesia)

Menurut survey terkini, sebagian besar investor Wall Street percaya bahwa pasar saham saat ini berada dalam pasar bull yang baru dan tidak akan ada resesi sepanjang 2023. Sekitar 61% responden percaya bahwa pasar sedang bullish, sementara 39% percaya bahwa ini adalah pasar bear yang sedang naik. Pasar telah berhasil mengatasi berbagai kekhawatiran tahun ini, termasuk kenaikan suku bunga dan perdebatan batas utang. S&P 500 diharapkan akan mengakhiri paruh pertama tahun ini dengan catatan yang baik, naik hampir 15% setelah empat bulan berturut-turut mengalami kenaikan. Investor optimis mengenai paruh kedua tahun 2023 dan percaya bahwa keuntungan terbaik dapat ditemukan dalam Surat Utang Jangka Pendek (Treasuries), S&P 500, dan pasar saham asing seperti Jepang, China, dan Eropa. Ekonomi AS diperkirakan akan mengalami peningkatan sedikit dalam Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan pertumbuhan ekonomi kuartalan positif pada kuartal pertama 2023. Namun, perlu dicatat bahwa analisis ini tidak dimaksudkan sebagai saran investasi dan pembaca dihimbau untuk membuat keputusan mereka sendiri.


Disclaimer: Konten berikut ditulis dan dikurasi secara otomatis menggunakan teknologi AI.

Ditulis oleh
channel logo
Kevin ReviroRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1