
Saham Grup Djarum adalah kumpulan saham emiten yang sahamnya dikuasai atau dikendalikan oleh Djarum Group, konglomerasi milik keluarga Hartono (Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono) yang bermula dari bisnis rokok kretek di Kudus, Jawa Tengah, lalu berekspansi ke perbankan, menara telekomunikasi, e-commerce, ritel, layanan internet, hingga kesehatan.
Jawaban Singkat:
Kepemilikan Grup Djarum di setiap emiten ini bervariasi, dari mayoritas pengendali (seperti di BBCA dan TOWR) hingga posisi investor strategis yang baru masuk (seperti di HEAL). Bagian berikut merangkum status masing-masing per data pasar terkini.
Tabel berikut merangkum tujuh emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum di BEI, lengkap dengan harga dan kapitalisasi pasar per 25 September 2026. Informasi berikut hanya untuk identifikasi emiten, bukan rekomendasi investasi.
| Kode Saham | Nama Perusahaan | Sektor | Harga (25 Sep 2026) | Kapitalisasi Pasar | Status |
|---|---|---|---|---|---|
| BBCA | Bank Central Asia Tbk | Perbankan | Rp6.225 | Rp762 triliun | Aktif |
| TOWR | Sarana Menara Nusantara Tbk | Menara Telekomunikasi | Rp396 | Rp23,4 triliun | Aktif |
| BELI | Global Digital Niaga Tbk (Blibli) | E-commerce | Rp358 | Rp38,42 triliun | Aktif |
| RANC | Supra Boga Lestari Tbk (Ranch Market) | Ritel Pangan | Rp550 | Rp868,29 miliar | Aktif |
| DATA | Remala Abadi Tbk | Layanan Internet (ISP) | Rp1.610 | Rp2,23 triliun | Aktif |
| HEAL | Medikaloka Hermina Tbk | Rumah Sakit | Rp625 | Rp9,68 triliun | Aktif |
| SUPR | Solusi Tunas Pratama Tbk | Menara Telekomunikasi | Rp45.000 (harga tender offer) | — | Disuspend, proses delisting |
Data harga dan kapitalisasi pasar bersumber dari data perdagangan BEI per 25 September 2026 dan dapat berubah setiap saat mengikuti mekanisme pasar. Untuk data market cap dan pergerakan harga terkini, gunakan fitur Screeners di aplikasi Pluang.
BBCA adalah bank swasta dengan kapitalisasi pasar Rp762 triliun (25 September 2026), jauh di atas bank swasta lain di BEI, dan menjadi saham blue chip andalan Grup Djarum. Mayoritas saham dikuasai keluarga Hartono melalui PT Dwimuria Investama Andalan, yang tercatat menambah kepemilikannya hingga 54,9% (sumber: Kontan).
TOWR mengoperasikan menara telekomunikasi independen (greenfield dan rooftop) yang disewakan ke operator seluler seperti XL Axiata, Indosat, Telkomsel, dan Smartfren. Grup Djarum menambah kepemilikannya secara bertahap melalui PT Sapta Adhikari Investama hingga lebih dari 50% (sumber: Kontan).
BELI adalah entitas e-commerce Blibli, salah satu ekspansi digital utama Grup Djarum. Pada 2025, BELI membukukan pendapatan Rp22,36 triliun dengan laba bersih Rp2,28 triliun (sumber: data laporan keuangan perusahaan).
RANC mengoperasikan jaringan supermarket premium Ranch Market dan Farmers Market. Blibli.com — bagian dari ekosistem Grup Djarum — mengakuisisi dan menjadi pengendali RANC pada 2021 senilai Rp2,03 triliun (sumber: CNBC Indonesia, Kompas).
DATA bergerak di jasa penyediaan layanan internet (ISP). Grup Djarum masuk sebagai pemegang saham pada awal 2025 dan meningkatkan kepemilikannya hingga 51% (sumber: IDNFinancials).
HEAL mengoperasikan jaringan Rumah Sakit Hermina di berbagai kota. Grup Djarum tercatat masuk sebagai salah satu investor institusional HEAL berdampingan dengan Grup Astra (sumber: Katadata).
BBCA menjadi saham andalan Grup Djarum karena tiga faktor: likuiditas transaksi harian yang tinggi di BEI, konsistensi kinerja sebagai bank swasta dengan basis nasabah luas, dan status sebagai konstituen tetap Indeks LQ45 serta IHSG. Kapitalisasi pasar BBCA yang mencapai Rp762 triliun (25 September 2026) membuatnya konsisten menjadi salah satu emiten dengan bobot besar di IHSG, sehingga pergerakan harganya kerap turut memengaruhi arah indeks secara keseluruhan.
Perlu dicatat, kapitalisasi pasar yang besar tidak menghilangkan risiko pasar — harga saham BBCA tetap dapat naik maupun turun mengikuti sentimen pasar, kinerja fundamental, serta kondisi makroekonomi.
Saham SUPR (Solusi Tunas Pratama) saat ini tidak dapat diperdagangkan di BEI. Perdagangan disuspend sejak April 2026 setelah perusahaan gagal memenuhi ketentuan minimum free float 15% — porsi saham publik SUPR saat itu tercatat hanya sekitar 0,09%, dengan mayoritas dikuasai PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (97,33%) dan PT Iforte Solusi Infotek (2,58%), per data 31 Maret 2026 (sumber: Katadata).
Manajemen SUPR mengumumkan rencana go private dan delisting pada 8 April 2026. Proses ini mencakup penawaran tender sukarela pada 15 Juni–14 Juli 2026 di harga Rp45.000 per lembar, dengan estimasi persetujuan resmi OJK dan penghapusan pencatatan dari BEI berlangsung sekitar awal 2027. Bagi investor yang sebelumnya memegang SUPR, mekanisme keluar yang tersedia adalah melalui tender offer tersebut — bukan transaksi jual-beli reguler di pasar sekunder BEI, karena saham ini sudah disuspend.
Sebagai kumpulan emiten lintas sektor, saham Grup Djarum menawarkan eksposur terdiversifikasi — mulai dari perbankan (BBCA), infrastruktur telekomunikasi (TOWR), e-commerce dan ritel (BELI, RANC), layanan internet (DATA), hingga kesehatan (HEAL). Sebagian, seperti BBCA, juga rutin membagikan dividen kepada pemegang saham.
Namun, risiko tetap melekat pada setiap emiten. Kasus SUPR menunjukkan risiko free float dan likuiditas — saham dengan porsi publik yang menyusut berisiko disuspend dan didelisting, membatasi opsi keluar investor ritel. Selain itu, harga saham individual (seperti TOWR dan HEAL) dapat mengalami volatilitas signifikan mengikuti sentimen sektor dan kinerja emiten masing-masing.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi. Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini. Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Unduh aplikasi Pluang, daftar akun, dan selesaikan proses verifikasi KYC. Rekening Dana Nasabah (RDN) akan terbuka otomatis sebagai bagian dari proses ini.
Buka menu Saham Indonesia di Pluang, lalu cari kode saham seperti BBCA, TOWR, BELI, RANC, DATA, atau HEAL.
Gunakan fitur Screeners untuk meninjau rasio valuasi seperti PER dan PBV sebelum mengambil keputusan.
Gunakan Web Trading atau aplikasi Pluang untuk memantau pergerakan harga secara real-time selama jam perdagangan BEI.
Pastikan saldo RDN mencukupi, tentukan jumlah lot yang ingin dibeli, lalu lakukan order beli sesuai harga pasar atau harga yang diinginkan.
Investasi saham mengandung risiko, termasuk potensi kerugian modal. Lakukan riset mandiri dan sesuaikan dengan profil risiko Anda. Mulai investasi saham di Pluang.
Setiap emiten Grup Djarum berada di sektor berbeda. Diversifikasi portofolio lintas sektor dapat membantu menyeimbangkan risiko dibanding hanya mengandalkan satu emiten.
Bandingkan PER dan PBV masing-masing emiten dengan rata-rata sektornya. Saham dengan PER jauh di atas rata-rata sektor berpotensi overvalued, dan sebaliknya.
Kasus SUPR adalah pengingat penting: periksa porsi saham publik (free float) dan volume transaksi harian sebelum berinvestasi, karena free float yang rendah meningkatkan risiko suspend dan delisting.
Saham blue chip seperti BBCA umumnya lebih likuid dan stabil dibanding saham dengan kapitalisasi lebih kecil seperti RANC atau DATA. Sesuaikan pilihan dengan toleransi risiko dan jangka waktu investasi Anda.
Enam saham Grup Djarum aktif diperdagangkan di BEI: BBCA (perbankan), TOWR (menara telekomunikasi), BELI (e-commerce), RANC (ritel pangan), DATA (layanan internet), dan HEAL (rumah sakit). Satu emiten lain, SUPR, disuspend sejak April 2026 dan sedang dalam proses delisting sehingga tidak lagi dapat diperdagangkan secara reguler di bursa.
Tidak. SUPR disuspend sejak April 2026 setelah gagal memenuhi ketentuan minimum free float 15%, lalu menjalani proses go private dengan penawaran tender sukarela di harga Rp45.000 per lembar pada periode Juni–Juli 2026. Delisting resmi dari bursa diperkirakan berlangsung sekitar awal tahun 2027.
Keluarga Hartono, pemilik Grup Djarum, menguasai BBCA melalui PT Dwimuria Investama Andalan dengan kepemilikan mencapai 54,9% dari total saham beredar (sumber: Kontan) — menjadikan BBCA saham dengan kapitalisasi pasar Rp762 triliun, jauh di atas emiten Grup Djarum lainnya, per 25 September 2026.
Unduh aplikasi Pluang, daftar akun, dan selesaikan verifikasi KYC hingga RDN terbuka otomatis. Buka menu Saham Indonesia, cari kode saham seperti BBCA atau TOWR, analisis lewat fitur Screeners, lalu tentukan lot dan lakukan order beli sesuai saldo RDN yang tersedia.
Ya. BBCA adalah konstituen tetap Indeks LQ45 dan IHSG dengan kapitalisasi pasar Rp762 triliun per 25 September 2026, likuiditas transaksi harian yang tinggi, dan kinerja historis yang konsisten sebagai bank swasta beraset besar, sehingga tergolong saham blue chip di BEI.
Grup Djarum memiliki enam saham aktif di BEI — BBCA, TOWR, BELI, RANC, DATA, dan HEAL — dengan kapitalisasi pasar BBCA (Rp762 triliun) jauh di atas lima saham lainnya. Satu emiten lain, SUPR, kini disuspend dan berada dalam proses delisting sehingga tidak lagi dapat diperdagangkan secara reguler. Sebelum berinvestasi pada saham mana pun dalam kelompok ini, penting untuk memeriksa fundamental, valuasi, dan status likuiditas masing-masing emiten secara mandiri.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas dan PT Sarana Santosa Sejati (Mitra PPE Level II) berizin dan diawasi OJK.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.








