Blog
Saham Grup Djarum di BEI: Panduan Lengkap & Terpercaya 2026

Sebelum membahas data saham dan daftar emiten, penting memahami perbedaan mendasar antara dua entitas ini.
PT Djarum adalah perusahaan rokok yang berdiri sejak 1951 di Kudus, Jawa Tengah. Didirikan oleh Oei Wie Gwan dan kemudian dibesarkan oleh Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, Djarum dikenal sebagai produsen rokok kretek dengan merek-merek ikonik seperti Djarum Super, LA Lights, dan Djarum Coklat. Perusahaan ini berstatus private — tidak memiliki saham yang diperdagangkan secara publik di BEI (IDX).
Grup Djarum, di sisi lain, adalah ekosistem bisnis yang jauh lebih besar. Ini adalah holding konglomerat yang dikendalikan keluarga Hartono — dinobatkan sebagai orang terkaya di Indonesia secara konsisten selama bertahun-tahun — dengan tentakel bisnis yang menjangkau perbankan, infrastruktur digital, ritel, e-commerce, properti, hingga sektor kesehatan. Sebagian besar dari perusahaan dalam ekosistem ini sudah tercatat sebagai emiten publik di Bursa Efek Indonesia.
Jadi, ketika investor bicara tentang saham Djarum, yang dimaksud adalah saham-saham perusahaan di bawah naungan Grup Djarum yang sudah melantai di IDX.
Berikut adalah data saham lengkap emiten yang berafiliasi dengan Grup Djarum dan tercatat di Bursa Efek Indonesia:
Ini adalah mahkota dari seluruh portofolio Grup Djarum di pasar modal. Bank Central Asia (BCA) adalah bank swasta terbesar di Indonesia berdasarkan aset, dan BBCA adalah salah satu saham paling likuid dan paling banyak dipantau di seluruh IDX IHSG.
Pasca krisis moneter 1997–1998, saham BCA yang sebelumnya dikuasai keluarga Salim berpindah ke tangan pemerintah melalui BPPN. Pada 14 Maret 2002, Grup Djarum memenangkan tender divestasi 51% saham BCA. Sejak saat itu, melalui entitas PT Dwimuria Investama Andalan, keluarga Hartono menjaga kepemilikan mayoritas di BCA secara konsisten. BBCA resmi melantai di BEI pada 31 Mei 2000.
Kinerja terkini (2026): BBCA membukukan laba bersih Rp14,7 triliun pada Q1 2026, tumbuh 4% secara kuartalan maupun tahunan — solid di tengah tekanan pasar. Proyeksi laba bersih full-year 2026 diestimasi menembus Rp60 triliun. Harga sahamnya terkoreksi sekitar 24–27% YTD per Mei 2026, dipicu aksi jual bersih asing Rp26,91 triliun sepanjang Januari–Mei 2026 — fenomena makro global dan rotasi portofolio, bukan deteriorasi fundamental.
Valuasi saat ini: Dengan PBV di kisaran 2,89x (per pertengahan Mei 2026), BBCA diperdagangkan jauh di bawah rata-rata historisnya. Beberapa analis sekuritas mempertahankan rekomendasi Beli dengan target harga Rp8.700-10.900.
Grup Djarum mengendalikan sekitar 59,4% saham TOWR melalui PT Sapta Adhikari Investama (45,3%) dan PT Dwimuria Investama Andalan (20%). TOWR adalah perusahaan infrastruktur yang berfokus pada bisnis penyewaan menara telekomunikasi kepada operator seluler besar di seluruh Indonesia.
Kinerja terkini: TOWR membukukan EBITDA 2025 sebesar Rp11 triliun, tumbuh 2,5% YoY. Untuk 2026, analis memproyeksikan EBITDA meningkat 3,8% YoY menjadi Rp11,8 triliun, dengan laba bersih diperkirakan mencapai Rp3,9 triliun atau naik 7,1% YoY. Segmen FTTT (fiber to the tower) menjadi kontributor pertumbuhan utama. TOWR dikenal rajin membagi dividen.
SUPR adalah perusahaan penyedia menara telekomunikasi yang kini berada di bawah kendali Grup Djarum secara tidak langsung — melalui PT Protelindo, anak usaha TOWR. Perusahaan ini berdiri sejak 2006 dan berfokus pada operasional serta penyewaan menara telekomunikasi dengan rata-rata kontrak sewa jangka panjang sekitar 10 tahun. SUPR tercatat di BEI pada 11 Oktober 2011.
BELI adalah entitas e-commerce Grup Djarum yang melantai di BEI. Blibli adalah platform belanja online yang sudah beroperasi lebih dari satu dekade dengan proposisi nilai kuat di segmen elektronik, fashion, dan kebutuhan rumah tangga. Melalui BELI, Grup Djarum juga mengakuisisi mayoritas saham PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), operator jaringan supermarket premium Ranch Market dan Farmers Market — membangun ekosistem omnichannel online-offline.
Melalui BELI, Grup Djarum menguasai sekitar 70,56% saham RANC. Perusahaan ini mengoperasikan jaringan supermarket premium yang menyasar segmen konsumen menengah ke atas, mencerminkan strategi diversifikasi Djarum ke bisnis konsumen yang tangible dan tahan terhadap siklus ekonomi.
Melalui PT Iforte Solusi Infotek (anak usaha TOWR), Grup Djarum mengakuisisi sekitar 40% saham DATA untuk mengembangkan jaringan broadband dan konektivitas segmen B2C — memperkuat posisi Grup Djarum sebagai pemain utama infrastruktur digital Indonesia.
Pada Juni 2025, Grup Djarum melakukan ekspansi ke sektor kesehatan. PT Dwimuria Investama Andalan memborong 559 juta lebih saham jaringan Rumah Sakit Hermina (HEAL) senilai Rp1 triliun melalui mekanisme buyback saham. Masuknya Grup Djarum ke healthcare mencerminkan strategi defensif sekaligus visioner — sektor ini bersifat recession-proof dengan long runway pertumbuhan di Indonesia berpenduduk 270 juta jiwa.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa emiten-emiten Grup Djarum secara konsisten masuk dalam radar investor ritel maupun institusional:
Rekam jejak manajemen yang terbukti: Keluarga Hartono adalah operator bisnis yang terbukti mampu membangun dan mengelola perusahaan kelas dunia. Pengambilalihan BCA pasca krisis dan transformasinya menjadi bank digital terdepan Indonesia adalah bukti kapabilitas eksekusi yang luar biasa.
Diversifikasi sektoral yang strategis: Portofolio Grup Djarum tersebar di sektor yang saling melengkapi — perbankan (recurring income), infrastruktur telekomunikasi (tumbuh seiring digitalisasi), ritel dan e-commerce (konsumsi domestik), serta healthcare (defensif).
Dukungan pemegang saham mayoritas yang kuat: Berbeda dengan emiten tanpa anchor investor, saham-saham Grup Djarum memiliki kejelasan kepemilikan dengan komitmen jangka panjang — menciptakan stabilitas tata kelola dan mengurangi risiko corporate governance.
Momentum makro yang mendukung: Di era re-rating pasar modal Indonesia 2026 — dengan reformasi transparansi yang diakui MSCI, kehadiran Danantara sebagai likuiditas institusional, dan dukungan Ray Dalio terhadap emerging markets — konglomerat dengan fundamental kuat seperti Grup Djarum berpotensi menjadi penerima manfaat terbesar saat sentimen global berbalik positif.
Dari seluruh emiten Grup Djarum, BBCA adalah yang paling relevan bagi mayoritas investor ritel Indonesia.
Koreksi BBCA di 2026 bukan mencerminkan masalah bisnis — ini adalah fenomena teknikal dan makro. Investor asing mencatatkan net sell Rp26,91 triliun pada BBCA sepanjang Januari–Mei 2026. Penyebabnya bukan karena BCA tiba-tiba menjadi bank yang buruk, melainkan kombinasi faktor eksternal: penguatan dolar AS, tekanan arus keluar dari emerging markets, dan rebalancing portofolio indeks MSCI.
Di tengah tekanan saham, BCA terus mencetak laba. Q1 2026 menunjukkan laba bersih Rp14,7 triliun, tumbuh 4% YoY. Proyeksi full-year 2026 yang melampaui Rp60 triliun mencerminkan mesin pendapatan yang tidak terganggu oleh gejolak pasar modal.
Kekuatan utama BCA ada pada CASA (Current Account & Savings Account) yang sangat dominan — sumber dana murah yang membuat net interest margin BCA jauh lebih baik dibanding kompetitor. Ekosistem digital BCA melalui myBCA, KlikBCA, dan jaringan ATM yang masif memastikan switching cost nasabah sangat tinggi.
Salah satu sinyal paling bullish di 2026 adalah keputusan melakukan buyback saham yang mendapat lampu hijau di RUPST 2026. Ketika manajemen perusahaan sendiri membeli sahamnya, ini adalah pernyataan implisit bahwa harga saat ini jauh di bawah nilai wajar intrinsiknya.
Dengan PBV sekitar 2,89x, BBCA kini diperdagangkan di dekat atau di bawah -2 standar deviasi dari rata-rata PBV 5 tahun terakhir. Bagi investor jangka panjang yang paham siklus pasar, ini adalah level yang secara historis selalu menjadi entry point yang sangat menarik.
Berikut gambaran karakteristik masing-masing emiten Grup Djarum untuk membantu investor menentukan pilihan sesuai profil risiko:
Emiten | Sektor | Karakteristik Investasi |
BBCA | Perbankan | Defensif, high-quality, dividend + growth |
TOWR | Infrastruktur Telekomunikasi | Recurring revenue, dividen konsisten |
SUPR | Infrastruktur Telekomunikasi | Premium, kontrak jangka panjang |
BELI | E-Commerce | Growth play, volatile, jangka panjang |
RANC | Ritel Premium | Konsumen defensif, ekosistem Blibli |
DATA | Infrastruktur Digital | Growth, broadband expansion |
HEAL | Healthcare | Defensif, demografi favorable |
BBCA dan TOWR cocok untuk investor yang mencari stabilitas dengan pertumbuhan moderat. BELI dan DATA lebih cocok untuk investor yang bersedia menerima volatilitas lebih tinggi demi potensi pertumbuhan jangka panjang.
Pluang kian memantapkan posisinya sebagai salah satu aplikasi saham Indonesia terbaik dengan menawarkan ekosistem multi-aset yang luas dan telah digunakan lebih dari 12 juta pengguna, aplikasi ini menawarkan pengalaman investasi digital yang aman, berizin dan diawasi Bappebti, OJK dan BI (Bank Indonesia).
Secara keseluruhan, melalui satu aplikasi, pengguna dapat mengakses 2.000+ produk investasi, mulai dari crypto, saham Indonesia (BEI), saham dan ETF Amerika, logam mulia (emas, silver, tembaga), reksa dana, hingga produk derivatif seperti crypto perps dan options saham AS, dengan struktur biaya yang kompetitif.
Fitur Pluang yang relevan untuk investor saham Grup Djarum:
950+ saham Indonesia: Seluruh emiten Grup Djarum yang terdaftar di IDX — BBCA, TOWR, SUPR, BELI, RANC, DATA, HEAL — semuanya bisa diakses dalam satu platform.
0% Trading Fee: Promo biaya trading 0% bagi semua pengguna — relevan terutama untuk strategi DCA yang membutuhkan transaksi rutin.
Stock Screener: Filter dan analisis saham berdasarkan valuasi, pertumbuhan laba, PBV, dividend yield, dan ratusan kriteria lainnya.
Fitur Analisis Lengkap (Pro): Charting modern, data finansial lengkap, dan integrasi TradingView untuk pengambilan keputusan investasi.
Tanpa minimum deposit: Investasi langsung di saham Indonesia tanpa minimum deposit dengan top-up via RDN BCA dan Bank Jago.
Bonus saham hingga Rp300.000: Selesaikan KYC dan top up RDN di Pluang untuk mendapatkan bonusnya.
Fitur Tercanggih: USD yield 3.38% p.a, signal & screeners, Pro Mode di Terminal Web yang mengintegrasikan seluruh fitur TradingView secara gratis, 25x Leverage pada Crypto Futures, 4x Leverage untuk Saham Amerika yang dapat ditradingkan 24 jam, trading dengan aura AI untuk analisis fundamental, teknikal, dan identifikasi sinyal pasar secara real-time, serta auto invest features.
Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah-langkah membeli saham BBCA di Pluang:
Buka Aplikasi Pluang dan pastikan akun aktif dengan saldo RDN yang mencukupi.
Cari saham BBCA: Ketik "BBCA" atau "Bank Central Asia" di kolom pencarian.
Masuk ke halaman transaksi: Pilih opsi "Beli" / "Buy".
Tentukan jumlah: Pilih berdasarkan jumlah lot atau nominal rupiah sesuai kemampuan modal.
Pilih tipe order: Gunakan Limit Order untuk masuk di harga tertentu, atau Market Order untuk eksekusi langsung.
Konfirmasi: Cek detail pesanan dan konfirmasi. Saham masuk ke portofolio setelah pesanan tereksekusi.
Untuk saham berkualitas tinggi seperti BBCA di kondisi harga tertekan seperti 2026, strategi DCA terbukti paling efektif secara historis. Sisihkan jumlah dana yang tetap setiap bulan untuk cicil beli — strategi ini meratakan harga beli rata-rata dan mengurangi risiko masuk di puncak harga.
Tidak harus menaruh semua telur dalam satu keranjang. Kombinasi BBCA (defensif, income-generating) dengan TOWR (infrastruktur digital, dividen konsisten) memberikan eksposur seimbang antara sektor keuangan dan telekomunikasi.
Saham-saham Grup Djarum, terutama BBCA, sangat sensitif terhadap sentimen investor asing dan kondisi makroekonomi global. Pemantauan perkembangan MSCI rebalancing, nilai tukar rupiah, dan arah kebijakan suku bunga menjadi penting untuk menentukan timing dan sizing posisi.
Untuk BELI dan DATA yang berada di fase pertumbuhan, horizon investasi minimal 3–5 tahun sangat disarankan. Volatilitas jangka pendek bisa signifikan, namun tesis investasi jangka panjang tetap kuat seiring transformasi digital Indonesia.
Terlepas dari saham Grup Djarum, berikut panduan umum yang bisa diaplikasikan secara universal:
Pastikan memahami bisnis emiten: Investor legendaris Warren Buffett tidak pernah membeli bisnis yang tidak dia mengerti. Prinsip yang sama berlaku di IDX.
Cek kualitas laba: Laba yang konsisten tumbuh dari operasi bisnis inti jauh lebih bernilai dari laba satu kali yang berasal dari pelepasan aset.
Perhatikan rasio hutang: Di lingkungan suku bunga tinggi, emiten dengan leverage berlebihan berisiko mengalami tekanan arus kas.
Evaluasi track record manajemen: Rekam jejak kejujuran dan kapabilitas manajemen adalah salah satu faktor terpenting dalam long-term investing.
Jangan abaikan dividen: Untuk saham seperti TOWR yang membagikan dividen konsisten, ini adalah komponen signifikan dari total return investasi.
Sesuaikan dengan profil risiko: Saham growth seperti BELI cocok untuk investor dengan toleransi risiko tinggi, sementara BBCA lebih tepat untuk investor konservatif jangka panjang.
Seperti semua instrumen pasar modal, investasi di saham-saham Grup Djarum memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum memulai:
Risiko harga: Harga seluruh emiten Grup Djarum dapat naik dan turun mengikuti kondisi pasar, kinerja perusahaan, dan sentimen makroekonomi — termasuk tekanan asing seperti yang dialami BBCA di 2026
Risiko konsentrasi: Membangun portofolio yang terlalu terkonsentrasi di satu konglomerat meningkatkan eksposur terhadap risiko sektoral yang sama
Risiko likuiditas: Emiten seperti SUPR, RANC, dan DATA memiliki likuiditas lebih rendah dibanding BBCA — kondisi pasar ekstrem bisa memengaruhi kemampuan jual-beli di harga yang diinginkan
Risiko regulasi: Perubahan kebijakan OJK, Bank Indonesia, atau kebijakan sektoral (telekomunikasi, perbankan, healthcare) dapat berdampak pada valuasi emiten terkait
Risiko makro dan asing: Arus keluar investor asing yang masif — seperti yang dialami BBCA YTD 2026 — dapat menciptakan volatilitas harga yang signifikan meski fundamental perusahaan tetap kuat
Selalu sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadimu.
Apakah PT Djarum punya saham yang bisa dibeli di BEI? Tidak. PT Djarum (perusahaan rokoknya) berstatus perusahaan tertutup dan tidak melantai di BEI. Yang bisa dibeli adalah saham-saham emiten di bawah Grup Djarum, yaitu BBCA, TOWR, SUPR, BELI, RANC, DATA, dan HEAL.
Saham Grup Djarum mana yang paling cocok untuk pemula? BBCA adalah pilihan yang paling sering direkomendasikan untuk pemula — likuiditas sangat tinggi, fundamental kuat, informasi publik melimpah, dan rekam jejak dividen yang konsisten. TOWR menjadi pilihan kedua yang baik untuk eksposur infrastruktur digital dengan dividen stabil.
Berapa modal minimum untuk beli saham BBCA? 1 lot BBCA = 100 lembar. Dengan harga di kisaran Rp 6.000/lembar per Mei 2026, modal minimum sekitar Rp 600.000 per lot. Di platform seperti Pluang, kamu juga bisa membeli berdasarkan nominal rupiah tanpa harus membeli 1 lot penuh.
Apakah saham Grup Djarum membagikan dividen? BBCA dan TOWR keduanya dikenal sebagai emiten yang rajin membagikan dividen secara konsisten setiap tahun. BBCA memberikan dividen dari kombinasi laba operasional perbankan, sementara TOWR dari arus kas berulang bisnis sewa menara. BELI dan DATA belum membagikan dividen karena masih dalam fase pertumbuhan.
Bagaimana cara membeli saham BBCA melalui aplikasi? Unduh Pluang, selesaikan KYC, aktifkan RDN, top up saldo, lalu cari kode "BBCA" dan pilih opsi Beli. Pilih tipe order (Limit atau Market) dan konfirmasi — saham masuk ke portofolio setelah pesanan tereksekusi.
Apakah semua platform saham bisa digunakan untuk beli saham Grup Djarum? Ya, selama platform tersebut adalah perusahaan sekuritas berizin OJK dengan akses ke BEI. Pastikan platform yang kamu pilih memiliki fitur analisis yang memadai dan struktur biaya yang kompetitif, terutama jika berencana menggunakan strategi DCA rutin.
Kenapa harga BBCA turun padahal fundamentalnya bagus? Koreksi BBCA di 2026 dipicu aksi jual bersih investor asing (net sell Rp26,91 triliun YTD Mei 2026) akibat faktor makro global — penguatan dolar AS, rotasi dari emerging markets, dan rebalancing indeks MSCI. Ini adalah fenomena teknikal, bukan cerminan penurunan kualitas bisnis BCA.
Apakah ada risiko khusus berinvestasi di konglomerat besar seperti Grup Djarum? Risiko utama adalah konsentrasi — terlalu banyak eksposur ke satu ekosistem konglomerat meningkatkan risiko jika terjadi masalah governance atau regulasi yang berdampak pada seluruh grup sekaligus. Diversifikasi ke emiten dari grup atau sektor lain tetap disarankan.
Ketika orang mencari saham Djarum, mereka sebenarnya sedang membuka pintu menuju salah satu ekosistem konglomerat paling powerful di pasar modal Indonesia. Dari BBCA yang menjadi permata mahkota perbankan swasta nasional, TOWR dan SUPR yang mendominasi infrastruktur telekomunikasi, hingga BELI, RANC, DATA, dan HEAL yang mencerminkan diversifikasi ke arah digital dan healthcare — Grup Djarum adalah cermin dari Indonesia yang sedang bertransformasi.
Di tengah koreksi IHSG 2026 yang dipicu faktor eksternal, saham-saham Grup Djarum — khususnya BBCA — kini menawarkan entry point yang secara historis sangat jarang tersedia. Fundamental tetap kokoh, manajemen tetap committed, dan tesis investasi jangka panjang tetap utuh.
Bagi investor yang ingin mengeksekusi dengan cepat, efisien, dan hemat biaya, Pluang hadir sebagai platform yang tepat. Dengan akses ke 950+ saham Indonesia termasuk seluruh emiten Grup Djarum, fee trading 0%, fitur analisis Pro lengkap, dan pengawasan penuh dari OJK, Bappebti, dan Bank Indonesia — Pluang memastikan kamu tidak ketinggalan momen akumulasi terbaik di pasar yang sedang melakukan re-rating ini.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.








