Blog
Bagaimana Harga Minyak Mempengaruhi Kehidupan Sehari-hari di Indonesia










Ketika berita menyebut 'harga minyak dunia melampaui $100 per barel', mungkin kamu berpikir itu hanya urusan para trader Wall Street dan perusahaan multinasional.
Kenyataannya, setiap kenaikan harga minyak dunia punya rantai transmisi yang sangat nyata ke kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia — dari biaya isi bensin, harga makanan di warung, hingga tarif ojek online.
Inilah cara minyak dunia menyentuh dompetmu secara langsung.
Banyak yang tidak tahu bahwa Indonesia pernah menjadi anggota OPEC dan eksportir minyak signifikan. Tapi sejak awal 2000-an, produksi minyak Indonesia terus menurun sementara konsumsi meningkat. Indonesia keluar dari OPEC pada 2016.
Hari ini, Indonesia mengimpor sekitar 500.000–600.000 barel minyak per hari. Ini berarti setiap kenaikan harga minyak dunia langsung meningkatkan tagihan impor kita dalam bentuk dolar AS.
Apakah Indonesia eksportir atau importir minyak?
Indonesia adalah net importir minyak sejak awal 2000-an. Kita mengimpor lebih banyak dari yang kita produksi, sehingga kenaikan harga minyak dunia berdampak negatif pada perekonomian Indonesia.
Ini yang paling langsung terasa. Harga Pertalite, Pertamax, dan solar ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan harga minyak dunia. Ketika harga minyak naik tajam, pemerintah menghadapi pilihan sulit: naikkan harga BBM (membebankan ke rakyat) atau pertahankan subsidi (menguras APBN).
Kenaikan harga BBM yang lalu di 2022 adalah contoh nyata: ketika minyak dunia melonjak pasca invasi Rusia ke Ukraina, pemerintah terpaksa menaikkan harga Pertalite dari Rp7.650 ke Rp10.000 per liter.
Petani butuh solar untuk traktor dan pompa air. Truk distribusi makanan jalan dengan solar. Kapal nelayan butuh BBM. Ketika harga solar naik, semua biaya ini naik — dan ujungnya ditransmisikan ke harga sayur, beras, dan ikan di pasar.
Inilah mengapa inflasi pangan di Indonesia sering mengikuti kenaikan harga minyak dengan jeda 1–2 bulan.
Tarif angkot, bus antarkota, ojek, bahkan tarif ojek online — semuanya sensitif terhadap harga BBM. Platform seperti Gojek dan Grab biasanya menyesuaikan tarif dasar ketika harga BBM naik signifikan.
Indonesia butuh dolar untuk membeli minyak impor. Ketika harga minyak naik, permintaan dolar meningkat, dan Rupiah cenderung melemah. Pelemahan Rupiah kemudian meningkatkan harga semua barang impor lainnya — dari gadget hingga bahan baku industri.
Kenapa Rupiah melemah saat harga minyak naik?
Karena Indonesia perlu lebih banyak dolar untuk membayar tagihan impor minyak yang lebih mahal. Permintaan dolar meningkat, Rupiah tertekan.
Sebagian pembangkit listrik PLN masih menggunakan bahan bakar minyak dan gas. Kenaikan harga energi fosil bisa berujung pada kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), meski biasanya dengan jeda waktu lebih lama.
Sebagai konsumen, kamu tidak bisa mengontrol harga minyak dunia. Tapi sebagai investor, kamu bisa memposisikan diri untuk memanfaatkan dinamika ini:
Di Pluang, kamu bisa berinvestasi di emas digital mulai dari Rp10.000 sebagai perlindungan jangka panjang. Saham AS dan ETF energi juga tersedia untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak.
Beli ETF Energy (XLE) di Sini!
Apakah harga BBM akan otomatis naik saat minyak dunia naik?
Tidak otomatis. Pemerintah Indonesia menggunakan formula yang mempertimbangkan harga minyak dunia, nilai tukar, dan kemampuan fiskal untuk subsidi. Kenaikan BBM biasanya terjadi setelah beberapa bulan harga minyak bertahan tinggi.
Berapa lama efek kenaikan minyak terasa di pasar?
Efek ke harga BBM biasanya 1–3 bulan. Efek ke harga pangan 1–2 bulan. Efek ke inflasi umum 2–4 bulan. Transmisi ke kenaikan TDL bisa memakan waktu 6–12 bulan.


