
Ringkasan singkat: Bitcoin diluncurkan Januari 2009 tanpa nilai pasar. Kurs pertama tercatat Oktober 2009 di ~US$0,0008/BTC. Transaksi komersial pertama terjadi 22 Mei 2010 (“Bitcoin Pizza Day”), saat 10.000 BTC hanya senilai ~US$41 — setara ratusan juta dolar AS pada harga Agustus 2026.
Harga Bitcoin adalah nol rupiah saat pertama kali diperkenalkan pada Januari 2009 oleh sosok anonim bernama Satoshi Nakamoto, karena saat itu belum ada bursa atau pasar yang memperdagangkannya. Kode Bitcoin kemungkinan telah dibuat sejak 2007, dan indikasi kemunculan publiknya pertama kali terlihat pada Agustus 2008, ketika nama domain “bitcoin.org” didaftarkan. Beberapa bulan kemudian, dokumen “Bitcoin: A Peer-to-Peer Electronic Cash System” dipublikasikan ke milis kriptografi dengan Satoshi Nakamoto sebagai penulisnya.
Bitcoin baru memiliki nilai tukar praktis pada tahun berikutnya. Kurs informal pertama yang tercatat berasal dari New Liberty Standard pada Oktober 2009, yang menilai 1.309 BTC setara US$1 — sekitar US$0,0008 per keping (sumber: New Liberty Standard, dihimpun CoinMarketCap Academy). Pada masa itu, hanya segelintir orang di komunitas kriptografi yang memahami potensi teknologi di baliknya, sementara sebagian besar publik meragukan apakah mata uang digital tanpa otoritas pusat ini bisa bernilai.
Momen paling ikonik dalam sejarah harga Bitcoin terjadi pada 22 Mei 2010, ketika programmer Laszlo Hanyecz membeli dua loyang pizza seharga 10.000 BTC — kini dikenal sebagai “Bitcoin Pizza Day” dan menjadi transaksi komersial pertama menggunakan Bitcoin (sumber: arsip forum Bitcointalk, dihimpun CoinMarketCap Academy). Saat itu, nilai 10.000 BTC setara sekitar US$41. Dikonversi dengan harga Bitcoin per 6 Agustus 2026 (~US$64.500), nilai tersebut setara ratusan juta dolar AS — ilustrasi paling nyata seberapa jauh perjalanan harga Bitcoin sejak kemunculannya.
Berikut ringkasan milestone harga Bitcoin di titik-titik penting sejarahnya, disusun dari data historis CoinMarketCap dan liputan pasar terkini. Data ini membantu Sobat Cuan memahami skala kenaikan dan penurunan yang pernah terjadi, sekaligus memberi konteks seberapa jauh Bitcoin telah berkembang sejak menjadi eksperimen teknologi yang diragukan banyak pihak:
Periode | Harga / Peristiwa | Sumber |
2009 | Diluncurkan tanpa nilai pasar resmi (harga efektif US$0); belum ada bursa. | Bitcoin whitepaper, Okt 2008 |
Okt 2009 | Kurs tercatat pertama: ~US$0,0008/BTC (New Liberty Standard, 1.309 BTC = US$1). | New Liberty Standard, dihimpun CoinMarketCap Academy |
22 Mei 2010 | “Bitcoin Pizza Day”: 10.000 BTC ditukar 2 loyang pizza, saat itu senilai ~US$41. | Bitcointalk forum, dihimpun CoinMarketCap Academy |
2011 | Sempat menembus ~US$31–32 (Mt. Gox, Jun 2011), lalu ambruk ke ~US$2 (–93,8%) usai insiden peretasan. | Data historis CoinMarketCap |
2013 | Menembus US$1.000 untuk pertama kali (Nov–Des 2013), sempat menyentuh ~US$1.150. | Data historis CoinMarketCap |
2014–2015 | Usai keruntuhan exchange Mt. Gox (Feb 2014), harga anjlok dari ~US$1.163 ke ~US$152 (–87%). | Data historis CoinMarketCap |
2017 | Reli menuju ATH ~US$19.783 (17 Des 2017), didorong euforia ICO. | Data historis CoinMarketCap |
2018 | Koreksi tajam ke ~US$3.200 (–84% dari ATH 2017). | Data historis CoinMarketCap |
2020–2021 | ATH baru ~US$69.000 (Nov 2021), didorong stimulus pandemi & masuknya investor institusional. | Data historis CoinMarketCap |
2022 | Terkoreksi ke ~US$15.476, dipicu runtuhnya FTX, Terra/Luna, dan Celsius. | Data historis CoinMarketCap |
2024–2025 | Menembus US$100.000 (Des 2024) usai persetujuan ETF spot Bitcoin AS; ATH tertinggi US$126.198 (6 Okt 2025). | Data historis CoinMarketCap |
2026 (per 6 Agu) | Bergerak korektif di kisaran ~US$62.000–US$65.000, ~49% di bawah ATH Okt 2025. | Fortune, 6 Agu 2026 |
Disclaimer data historis (Rule 10)
Kinerja masa lalu tidak mengindikasikan proyeksi kinerja masa depan.
Periode data: Okt 2009–Agu 2026. *Data per 6 Agu 2026.
Sejarah harga Bitcoin yang penuh gejolak ini terjadi karena beberapa faktor struktural yang melekat pada asetnya, berbeda dari aset tradisional seperti saham atau obligasi yang nilainya lebih terikat pada kinerja fundamental entitas penerbitnya:
• Pasokan terbatas: Bitcoin memiliki batas maksimum 21 juta koin, berbeda dari mata uang fiat yang bisa dicetak bank sentral, sehingga perubahan permintaan berdampak lebih signifikan terhadap harga.
• Siklus halving: setiap sekitar empat tahun sekali, reward penambang Bitcoin dipotong separuh, mengurangi laju pasokan baru — secara historis sering diikuti fase kenaikan harga, meski Bitcoin tidak menjamin pola ini berulang persis sama di setiap siklus.
• Sentimen pasar dan adopsi institusional: masuknya dana institusi melalui produk seperti ETF spot dapat mendorong permintaan, sementara berita negatif seperti kebangkrutan exchange besar bisa memicu aksi jual masif.
• Regulasi global: kebijakan pemerintah di berbagai negara terhadap aset crypto turut memengaruhi sentimen pasar, baik positif maupun negatif.
• Likuiditas pasar yang masih berkembang: dibanding pasar saham global yang sudah matang, pasar crypto relatif lebih muda dan rentan terhadap pergerakan harga tajam akibat volume transaksi besar dari segelintir pelaku pasar.
Sebagai gambaran skala volatilitasnya: volatilitas tahunan Bitcoin tercatat sekitar 54%, dibandingkan emas yang sekitar 15,1% (data Bloomberg per 31 Jan 2025, dihimpun iShares/BlackRock). Emas dan Bitcoin melayani peran berbeda dalam portofolio: emas sebagai penstabil nilai dengan volatilitas rendah, Bitcoin sebagai aset pertumbuhan berisiko tinggi dengan potensi fluktuasi harga yang jauh lebih besar — secara historis, bukan sebagai proyeksi ke depan.
Memahami sejarah harga Bitcoin penting, namun bukan berarti pola masa lalu menjamin pergerakan harga di masa depan. Beberapa risiko yang perlu dipahami investor:
• Volatilitas ekstrem: koreksi harga 70–90% dari puncaknya telah terjadi berulang kali sepanjang sejarah Bitcoin (lihat tabel di atas), sehingga investor harus siap secara psikologis dan finansial menghadapi fluktuasi tajam.
• Tidak ada jaminan pola berulang: meski pola siklus empat tahunan sering dibahas, sejumlah analis pasar meragukan pola ini akan terus berulang persis sama, karena dinamika pasar terus berubah seiring bertambahnya basis investor dan regulasi baru.
• Risiko keamanan dan penyimpanan: kehilangan akses ke dompet digital atau menjadi korban penipuan tetap menjadi risiko nyata bagi pemilik aset crypto.
• Ketergantungan pada sentimen makro: kebijakan suku bunga bank sentral dan kondisi ekonomi global turut memengaruhi arus dana ke aset berisiko seperti Bitcoin.
Aset crypto seperti Bitcoin tergolong aset dengan risiko tinggi dan volatilitas signifikan. Sobat Cuan disarankan hanya mengalokasikan dana yang siap menanggung risiko fluktuasi tinggi, serta menyesuaikan porsi investasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Aset crypto bukan produk yang cocok untuk seluruh kalangan investor.
Meski tidak menjamin prediksi masa depan, memahami sejarah harga Bitcoin memberi beberapa manfaat praktis, terutama dalam membentuk cara berpikir yang lebih matang saat menghadapi gejolak pasar crypto yang sering memicu keputusan emosional:
• Kalibrasi ekspektasi: investor lebih siap menghadapi volatilitas dan tidak panik berlebihan saat terjadi koreksi harga tajam.
• Konteks siklus pasar: memahami pola siklus halving dan sejarah bear-bull market membantu investor menilai posisi pasar saat ini secara lebih rasional.
• Perspektif jangka panjang: data historis menunjukkan setiap koreksi tajam dalam sejarah Bitcoin akhirnya diikuti periode pemulihan, meski jangka waktunya bervariasi — dari hitungan bulan hingga lebih dari dua tahun, tergantung kondisi makroekonomi yang menyertainya.
Meski begitu, investor sebaiknya tidak menggunakan pola historis semata sebagai dasar keputusan investasi. Setiap siklus pasar memiliki karakteristik dan pemicu berbeda, sehingga analisis fundamental dan pemahaman kondisi pasar terkini tetap perlu dipadukan dengan konteks sejarah harga sebelum mengambil keputusan alokasi dana.
Bagi Sobat Cuan yang ingin mulai memantau atau berinvestasi Bitcoin setelah memahami sejarah harganya, berikut langkah praktisnya melalui Pluang. Prosesnya sepenuhnya digital dan bisa diselesaikan dalam hitungan menit:
1. Unduh aplikasi Pluang dan selesaikan proses pendaftaran serta verifikasi KYC.
2. Cari aset BTC melalui fitur pencarian di halaman explore.
3. Pelajari grafik harga historis yang tersedia untuk memahami pola pergerakan harga dari berbagai rentang waktu.
4. Tentukan nominal investasi sesuai kemampuan — kepemilikan fraksional memungkinkan investor membeli sebagian kecil BTC tanpa harus membeli satu koin penuh.
5. Gunakan strategi Dollar Cost Averaging (DCA) melalui fitur Auto Invest untuk investasi rutin tanpa perlu menebak waktu pasar terbaik.
Pluang adalah platform investasi multi-aset yang telah digunakan lebih dari 13 juta pengguna di Indonesia, dengan akses ke ratusan aset crypto termasuk Bitcoin, di samping saham Indonesia, saham AS, emas digital, dan reksa dana dalam satu ekosistem.
Disclaimer produk — Aset Kripto (SSOT D.7, wajib verbatim)
Pluang sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh transaksi tercatat di Central Finansial X (CFX) dan Kliring Komoditi Indonesia (KKI).
Bitcoin mulai diperdagangkan di kisaran harga sekitar US$0,0008 pada akhir 2009/awal 2010 (New Liberty Standard), sebelum naik ke sekitar US$0,08 pada Juli 2010. Sebelum periode ini, Bitcoin belum memiliki nilai pasar resmi karena belum ada bursa yang memperdagangkannya.
Bitcoin Pizza Day merujuk pada 22 Mei 2010, saat Laszlo Hanyecz membeli dua loyang pizza dengan 10.000 BTC (~US$41 saat itu) — transaksi komersial pertama menggunakan Bitcoin. Peristiwa ini menjadi patokan sejarah untuk mengilustrasikan seberapa jauh harga Bitcoin telah berkembang sejak awal kemunculannya.
Halving adalah peristiwa setiap sekitar empat tahun sekali ketika reward penambang Bitcoin dipotong separuh, mengurangi laju pasokan baru. Secara historis, periode setelah halving sering diikuti fase kenaikan harga dalam 12–18 bulan berikutnya, meski tidak ada jaminan pola ini akan terus berulang persis sama karena basis investor dan likuiditas pasar terus berubah dari satu siklus ke siklus berikutnya.
Ya. Berdasarkan data Bloomberg per 31 Januari 2025 (dihimpun iShares/BlackRock), volatilitas tahunan Bitcoin tercatat sekitar 54%, dibandingkan emas yang sekitar 15,1%. Dari sisi pertumbuhan nilai jangka panjang, Bitcoin historis mencatatkan kenaikan persentase yang jauh lebih besar dibanding emas, dengan konsekuensi risiko fluktuasi yang juga jauh lebih tinggi.
Bitcoin pertama kali menembus level US$1.000 pada akhir November–Desember 2013, sebelum mengalami koreksi tajam pada tahun-tahun berikutnya menyusul runtuhnya exchange Mt. Gox pada 2014 (data historis CoinMarketCap).
Per 6 Agustus 2026, Bitcoin diperdagangkan di kisaran ~US$64.500 (sumber: Fortune, 6 Agu 2026), sekitar 49% di bawah rekor tertinggi US$126.198 yang dicatat pada 6 Oktober 2025. Harga bergerak real-time; cek grafik harga terkini di halaman aset BTC Pluang sebelum bertransaksi.
Tidak ada yang bisa memastikan pergerakan harga Bitcoin di masa depan. Meski data historis menunjukkan tren pemulihan setelah setiap koreksi tajam, performa masa lalu bukan jaminan hasil di masa mendatang, dan investor perlu memahami risiko fluktuasi tinggi sebelum berinvestasi.
Berkat fitur kepemilikan fraksional, investor tidak perlu membeli satu Bitcoin penuh. Investasi bisa dimulai dari nominal kecil yang disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing investor.
ATH adalah harga tertinggi yang pernah dicapai Bitcoin sepanjang sejarah perdagangannya (saat ini US$126.198, 6 Okt 2025), sementara harga saat ini mencerminkan kondisi pasar terkini yang terus berubah mengikuti dinamika permintaan dan penawaran global.
Perbedaan harga antar platform terjadi karena perbedaan likuiditas, volume order book, dan kecepatan update data di masing-masing exchange. Selisih ini biasanya kecil dan cepat menyempit karena mekanisme arbitrase pasar, namun tetap disarankan mengecek harga real-time di platform tempat bertransaksi sebelum mengonfirmasi order.
Perjalanan harga Bitcoin dari mendekati nol pada 2009 hingga rekor US$126.198 pada Oktober 2025, lalu terkoreksi ke kisaran US$62.000–US$65.000 pada Agustus 2026, menunjukkan bagaimana aset ini melewati siklus naik-turun ekstrem sepanjang sejarahnya. Memahami milestone dan pola siklus ini membantu investor mengelola ekspektasi secara lebih rasional — namun data historis bukan jaminan pergerakan harga di masa depan. Keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing individu.
Bagi investor yang baru mengenal Bitcoin, memahami sejarah harganya adalah langkah awal yang baik sebelum terjun langsung. Langkah selanjutnya yang sama pentingnya adalah menentukan strategi investasi yang jelas — apakah strategi jangka panjang dengan DCA rutin, atau alokasi kecil sebagai diversifikasi portofolio — alih-alih sekadar mengikuti euforia pasar tanpa perencanaan matang.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.
Ditulis oleh Jonathan Santoso, Content Writer at Pluang.


