ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Trading banner 1
Trading banner 2
Trading banner 3
Trading banner 4
Trading banner 5
Trading banner 6
Trading banner 7
Trading banner 8
Trading banner 9
Berita & Analisis
Pertumbuhan AI Ditopang Kuat oleh Sektor Energi, Simak Analisa Sahamnya
shareIcon

Pertumbuhan AI Ditopang Kuat oleh Sektor Energi, Simak Analisa Sahamnya

19 Feb 2026, 3:47 AM
·
Waktu baca: 6 menit
shareIcon
Pertumbuhan AI Ditopang Kuat oleh Sektor Energi, Simak Analisa Sahamnya
Selama setahun terakhir, narasi pasar modal didominasi oleh satu kata: AI. Begitu pula dengan keseharian kita. Lalu, pernahkah kamu membayangkan bahwa setiap jawaban yang dihasilkan oleh ChatGPT atau setiap gambar yang diciptakan oleh platform AI Midjourney sebenarnya "memakan" tetesan minyak atau aliran elektron dari pembangkit listrik?

Melalui AI, kita telah melihat saham Amerika di sektor teknologi melejit. Dari meroketnya saham NVIDIA, saham Microsoft mencapai valuasi selangit, dan pusat data dibangun secepat kilat. Namun, ada satu after effect yang luput dari perhatian banyak investor ritel, namun mulai digarap serius oleh para smart money di Wall Street: Commodity Bull Phase 2.0.

Sekarang, saatnya kamu melihat sektor penggerak revolusi tersebut, yaitu sektor Energi. 

Beli ETF XLE di Sini!

Beli ETF ICLN di Sini!

Paradoks AI – Membutuhkan Beragam Penopang

Kita sering menganggap teknologi digital sebagai sesuatu yang "ringan" dan "tak berwujud". Namun, kenyataannya sangat kontras. Kecerdasan Buatan (AI) adalah konsumen energi paling rakus dalam sejarah komputasi modern.

Sebagai perbandingan, satu pencarian di Google Search memerlukan energi yang sangat kecil. Namun, satu permintaan (prompt) pada model bahasa besar (LLM) seperti GPT-4 memerlukan daya listrik hingga 10 kali lipat lebih besar. Ketika jutaan orang menggunakan AI secara bersamaan, kita tidak lagi berbicara tentang konsumsi listrik level rumah tangga, melainkan level negara.

Inilah yang memicu fase bullish baru pada komoditas. Kita baru saja keluar dari fase kenaikan harga komoditas akibat gangguan rantai pasok pasca-pandemi, dan sekarang kita memasuki fase yang didorong oleh permintaan struktural yang tak terelakkan. Dunia menyadari bahwa untuk menjalankan "otak" digital yang cerdas, kita butuh "otot" fisik yang kuat dalam bentuk energi.

Mengapa Energi Fosil Menjadi Alpha di Era AI?

Di sinilah letak ironinya. Di tengah kampanye global untuk Go Green, kebutuhan mendesak akan listrik untuk pusat data AI justru memberikan "napas kedua" bagi energi konvensional atau yang sering disebut dirty energy.

Melalui ETF seperti XLE (Energy Select Sector SPDR Fund) yang tersedia di Pluang, kita melihat perusahaan raksasa seperti ExxonMobil dan Chevron kembali menjadi primadona. Mengapa energi fosil justru menjadi Alpha (sumber keuntungan utama) di era AI?

  1. Masalah Baseload (Beban Dasar): Pusat data AI adalah fasilitas yang beroperasi 24/7. Mereka tidak boleh mati sedetik pun karena proses pelatihan model (model training) yang terhenti bisa memakan biaya jutaan dolar. Saat ini, hanya gas alam, batubara, dan nuklir yang mampu menyediakan baseload yang konsisten dalam skala masif tanpa terpengaruh oleh apakah matahari sedang bersinar atau angin sedang bertiup.
  2. Kecepatan Eksekusi: Permintaan akan pusat data AI meledak hari ini, bukan sepuluh tahun lagi. Membangun infrastruktur energi terbarukan yang masif sering kali terbentur masalah perizinan lahan dan birokrasi yang memakan waktu bertahun-tahun. Sebaliknya, infrastruktur gas alam jauh lebih siap untuk diakselerasi guna mengejar ketertinggalan pasokan listrik.
  3. Profitabilitas Tinggi: Dengan harga energi yang tetap tinggi akibat permintaan AI yang konstan, perusahaan di dalam indeks XLE mencatatkan arus kas (cash flow) yang sangat sehat. Mereka tidak lagi hanya membakar modal untuk eksplorasi, tapi mengembalikannya kepada pemegang saham dalam bentuk dividen yang tebal dan aksi buyback saham.

Lalu Bagaimana Nasib Energi Terbarukan?

Apakah ICLN (iShares Global Clean Energy ETF) akan tertinggal? Jawabannya adalah tidak,  tetapi perannya berubah. Energi bersih kini menjadi derived effect atau efek turunan yang didorong oleh kebijakan korporat dan tekanan sosial. Perusahaan Big Tech seperti Google, Amazon, dan Microsoft memiliki janji Net Zero Emission. Mereka berada dalam posisi dilematis: mereka butuh energi fosil untuk reliabilitas sekarang, tapi mereka harus tetap hijau untuk menjaga reputasi dan kepatuhan ESG.

Hal ini menciptakan fenomena unik yang menguntungkan pemegang $ICLN  dalam jangka panjang:

  • Kontrak PPA Raksasa: Big Tech kini menjadi pembeli terbesar kontrak energi terbarukan di dunia. Mereka menjamin pembelian listrik dari ladang surya dan angin untuk puluhan tahun ke depan, memberikan kepastian pendapatan bagi perusahaan EBT.
  • Inovasi Nuklir dan SMR: Ketertarikan pada nuklir generasi terbaru (Small Modular Reactors) mulai bangkit kembali karena dianggap sebagai satu-satunya energi "bersih" yang bisa memberikan daya baseload seperti gas alam.
  • Lantai Harga yang Kuat: ICLN mungkin tidak bergerak secepat XLE dalam jangka sangat pendek, namun ia memiliki floor (lantai harga) yang kuat karena permintaan dari sektor teknologi bersifat jangka panjang dan mengikat secara hukum.

AI Spending vs Geopolitik – Siapa Dalang Sebenarnya?

Banyak investor bertanya: "Apakah kenaikan harga energi ini murni karena AI, atau karena ketegangan di Timur Tengah dan krisis Ukraina yang belum usai?"

Geopolitik bertindak sebagai faktor Supply-Side (sisi pasokan). Perang dan sanksi membuat pasokan energi global menjadi langka, mahal, dan sangat sensitif terhadap berita. Ini menciptakan volatilitas yang kita lihat sehari-hari di pasar minyak dunia.

Sementara itu, AI Spending bertindak sebagai faktor Demand-Side (sisi permintaan). AI menciptakan permintaan yang bersifat "in elastis" yang artinya, mereka akan tetap membeli energi berapapun harganya. Bagi raksasa teknologi, biaya listrik adalah harga yang harus dibayar untuk memenangkan perlombaan dominasi AI.

Jadi, sementara geopolitik mungkin memicu lonjakan harga sesaat, AI-lah yang memastikan bahwa harga energi tidak akan kembali ke level rendah seperti dekade lalu. Kita sedang berada dalam rezim "Higher for Longer" untuk harga komoditas energi karena dunia tidak lagi hanya berebut minyak untuk transportasi, tapi berebut listrik untuk kecerdasan buatan.

Seberapa Lama Reli Ini Akan Bertahan?

Investor khususnya di pasar saham Amerika tentu akan mempertanyakan keberlanjutan. Apakah ini hanya (bubble)? Data menunjukkan bahwa kita baru berada di tahap awal dari siklus panjang ini.

Pembangunan pusat data global diproyeksikan tumbuh dengan CAGR (laju pertumbuhan tahunan majemuk) lebih dari 20% hingga 2030. Selama chip AI terus diproduksi oleh NVIDIA dan diadopsi oleh semua lini industri, dari kesehatan hingga keuangan-kebutuhan energi akan terus membengkak.

Selain itu, ada satu faktor lagi: The Great Grid Upgrade. Bottleneck terbesar saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan bahan bakar, melainkan kapasitas jaringan listrik (grid) yang sudah tua. Dunia perlu merombak seluruh infrastruktur transmisinya untuk menampung beban AI. Proses ini memerlukan waktu 10-20 tahun. Artinya, sektor energi, baik itu produsen bahan bakar maupun penyedia infrastruktur, memiliki landasan pacu yang sangat panjang untuk terus tumbuh.

Mengatur Strategi Investasi Saham

Sebagai investor di Pluang, Anda memiliki akses unik untuk memanfaatkan dinamika ini tanpa harus menjadi ahli energi. Berikut adalah langkah taktis yang bisa Anda ambil:

1. Diversifikasi Dua Jalur (Barbell Strategy)

Jangan hanya memilih salah satu. Anda bisa mengalokasikan sebagian portofolio di XLE untuk menangkap keuntungan dari energi konvensional yang sedang panen raya karena harga gas dan minyak yang stabil tinggi. Di sisi lain, sisihkan porsi di ICLN untuk menangkap pertumbuhan struktural dari transisi energi hijau yang didanai oleh kantong tebal Big Tech.

2. Eksposur pada Logam Industri

Ingatlah pepatah: "In a gold rush, sell shovels." Energi tidak hanya soal bahan bakar, tapi juga transmisi. Membangun jaringan listrik baru dan pusat data membutuhkan tembaga dalam jumlah masif. Melalui Pluang, Anda bisa mengoleksi saham yang bergerak di industri tembaga seperti Freeport-McMoRan Inc. (FCX), Southern Copper Corporation (SCCO), dan BHP Group

Beli Saham $FCX di Sini!

Beli Saham BHP di Sini!

3. Manfaatkan Fitur DCA

Implementasi DCA (Auto-Invest): Jangan menunggu waktu yang "tepat" untuk masuk ke pasar. Gunakan fitur cicil rutin (DCA) di Pluang untuk membeli XLE, ICLN, saham Amerika yang bergerak di bidang logam secara berkala (mingguan atau bulanan). Strategi ini akan membantu Anda mendapatkan harga rata-rata yang lebih efisien di tengah volatilitas sektor teknologi dan energi. Selain itu, anda juga dapat terhindar dari bias emosional atau rasa takut berlebihan saat pasar sedang terkoreksi.

Beli ETF XLE di Sini!

Beli ETF ICLN di Sini!

Kesimpulan: Jangan Hanya Jadi Penonton Revolusi AI

Revolusi AI sering kali digambarkan secara romantis sebagai perang algoritma di dalam ruang hampa. Namun, di balik layar, ini adalah perang memperebutkan daya dan sumber daya alam. Efek lanjutan dari commodity bull phase ini adalah bukti kuat bahwa ekonomi fisik (energi) dan ekonomi digital (data) kini telah menyatu.

Bagi Anda pengguna Pluang, momentum ini adalah peluang emas. Anda tidak perlu menjadi insinyur listrik atau membangun sumur minyak sendiri. Dengan platform yang tepat dan pemahaman akan narasi makro ini, Anda bisa memiliki bagian dari perusahaan-perusahaan yang menyalakan masa depan dunia.

Note: Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek.

Ditulis oleh
channel logo
Davion ArsinioRight baner
Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1