
Korelasi aset adalah ukuran statistik (berkisar dari -1 hingga +1) yang menunjukkan seberapa erat pergerakan harga dua instrumen investasi bergerak searah (korelasi positif), berlawanan arah (korelasi negatif), atau tidak saling memengaruhi (mendekati nol). Semakin mendekati 0, semakin besar potensi manfaat diversifikasi ketika dua aset tersebut digabungkan dalam satu portofolio.
Jawaban Singkat:
Berdasarkan data performa 10 tahun (2016–2025) yang dihimpun Gale Finance (diterbitkan 5 Januari 2026, diperbarui 2 Agustus 2026), emas dan S&P 500 mencatatkan hasil yang relatif berimbang dalam jangka panjang:
| Indikator (2016–2025) | Emas (XAU) | S&P 500 (SPY) |
|---|---|---|
| Total return 10 tahun | +306,9% | +294,9% |
| Return tahunan (CAGR) | +15,1% | +14,7% |
| Volatilitas tahunan | 14,5% | 18,0% |
Rata-rata korelasi tahunan antara emas dan S&P 500 sepanjang periode ini tercatat 0,00, dengan rentang tahunan dari -0,57 hingga 0,60 — misalnya -0,31 pada 2016 dan +0,21 pada 2024 (Gale Finance, Agustus 2026). Artinya, meski korelasi tahunan bisa bergeser cukup jauh, secara rata-rata jangka panjang kedua aset ini tidak bergerak searah maupun berlawanan secara konsisten.
Periode data: Jan 2016–Des 2025. Data per 9 September 2026. Angka ini bukan cerminan performa mendatang.
Korelasi 30 hari antara Bitcoin dan S&P 500 sempat melonjak ke 0,74 pada awal Maret 2026 — level tertinggi tahun berjalan saat itu — bersamaan dengan meningkatnya volatilitas pasar akibat ketegangan geopolitik (Bloomberg, 6 Maret 2026). Namun, analisis Investing.com (12 Januari 2026) mencatat bahwa korelasi Bitcoin dan S&P 500 "tidak memiliki narasi yang sederhana": pada periode tertentu Bitcoin bergerak searah dengan saham, namun pada periode lain justru menjauh, sehingga crypto tetap dianggap sebagai kelas risiko tersendiri, bukan sekadar substitusi saham dengan leverage.
Data korelasi bulanan yang dihimpun Mudrex (22 April 2026) menunjukkan hubungan Bitcoin dan emas yang berfluktuasi dan cenderung melemah dalam setahun terakhir:
| Periode | Koefisien Korelasi Bitcoin–Emas |
|---|---|
| April 2025 | -0,61 |
| September 2025 | -0,49 |
| Oktober 2025 | +0,29 |
| Desember 2025 | -0,55 |
| Februari 2026 | -0,22 |
| Maret 2026 | -0,88 |
Korelasi rolling 1 tahun pada awal 2026 tercatat -0,17, dan angka -0,88 pada Maret 2026 disebut sebagai level terendah sejak masa bear market 2022 (Mudrex, 22 April 2026). Fenomena ini oleh sejumlah analis disebut sebagai "pemisahan historis" (historic divergence) antara Bitcoin dan emas, seiring emas yang makin diperlakukan sebagai lindung nilai geopolitik, sementara Bitcoin lebih banyak bergerak mengikuti sentimen likuiditas dan aset teknologi.
IHSG ditutup menguat 1,01% ke level 6.686,44 pada perdagangan 8 September 2026, dengan ruang penguatan lanjutan ke area resistance 6.723 (Pasardana, dipublikasikan 9 September 2026). Perlu dicatat, penguatan IHSG belakangan ini banyak ditopang oleh faktor domestik — termasuk kinerja emiten perbankan besar — dan bukan semata mengikuti pergerakan bursa global.
Berbeda dari data korelasi emas, S&P 500, dan Bitcoin di atas yang bersumber dari riset internasional dengan metodologi terukur, ketersediaan data koefisien korelasi terkini (kurang dari dua tahun) yang secara spesifik mengukur hubungan IHSG dengan ketiga aset tersebut masih terbatas di ranah publik. Sebagai gambaran umum, IHSG sebagai indeks saham pasar berkembang (emerging market) cenderung dipengaruhi kombinasi sentimen global (termasuk arah S&P 500) dan katalis domestik seperti kebijakan Bank Indonesia serta kinerja emiten unggulan. Investor yang ingin mendalami hubungan ini secara kuantitatif disarankan merujuk pada data historis IHSG dan membandingkannya sendiri dengan pergerakan aset global menggunakan periode yang sama.
Memahami korelasi antar-aset membantu investor membangun diversifikasi portofolio yang lebih terukur. Menggabungkan aset dengan korelasi rendah atau negatif — seperti emas dan saham berdasarkan data 10 tahun di atas — berpotensi meredam volatilitas portofolio secara keseluruhan dibandingkan hanya mengandalkan satu jenis aset.
Setiap alokasi aset sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko masing-masing, bukan semata mengikuti data korelasi historis.
Berdasarkan data di atas, kombinasi saham, emas, dan crypto memiliki karakteristik korelasi yang berbeda-beda pada setiap periode, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pelengkap satu sama lain — bukan pengganti.
Fitur Screeners dan Web Trading di Pluang dapat membantu memantau pergerakan harga emas, saham AS, dan crypto dalam satu aplikasi.
Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) lewat fitur Auto Invest dapat membantu investor membangun eksposur ke berbagai aset secara bertahap dan disiplin.
Pluang menyediakan akses ke berbagai kelas aset yang dibahas dalam studi korelasi ini dalam satu aplikasi:
Sebelum memulai, pelajari lebih lanjut karakteristik dan risiko masing-masing produk di atas, dan pastikan alokasi aset disesuaikan dengan profil risiko pribadi.
Tidak selalu. Data terbaru menunjukkan korelasi Bitcoin dan emas justru berbalik negatif hingga -0,88 pada Maret 2026, level terendah sejak masa bear market 2022 (Mudrex, 22 April 2026), berbeda dari anggapan umum bahwa keduanya bergerak sebagai sesama "aset lindung nilai".
Secara rata-rata 10 tahun (2016–2025) iya, mendekati 0,00, namun korelasi tahunan tetap berfluktuasi dari -0,57 hingga 0,60 tergantung kondisi pasar pada tahun tertentu (Gale Finance, 2026).
Korelasi ini cenderung meningkat saat terjadi gejolak pasar atau ketegangan geopolitik yang memicu aksi jual serentak di berbagai aset berisiko, seperti yang terlihat pada Maret 2026 saat korelasi 30 hari mencapai 0,74 (Bloomberg, 6 Maret 2026).
Data korelasi historis berguna sebagai bahan edukasi untuk memahami karakteristik hubungan antar-aset, namun bukan jaminan bahwa pola yang sama akan berulang di masa depan, sehingga tetap perlu dilengkapi riset mandiri dan mempertimbangkan profil risiko.
Studi korelasi 10 tahun terakhir menunjukkan bahwa emas dan S&P 500 secara rata-rata bergerak nyaris independen (korelasi 0,00), sementara hubungan Bitcoin dengan emas maupun S&P 500 jauh lebih dinamis dan berubah signifikan dari waktu ke waktu. Bagi IHSG, penguatan yang terjadi belakangan ini masih banyak dipengaruhi faktor domestik. Pemahaman atas pola-pola ini dapat membantu investor menyusun strategi diversifikasi yang lebih terukur, dengan tetap memanfaatkan riset mandiri serta fitur-fitur yang tersedia di Pluang untuk memantau pergerakan pasar.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau nasihat investasi untuk membeli atau menjual aset tertentu, termasuk emas, saham, maupun Bitcoin. Seluruh data korelasi dan kinerja historis pada artikel ini bersumber dari riset pihak ketiga yang independen sebagaimana dicantumkan, bersifat historis, dan bukan cerminan atau jaminan kinerja di masa mendatang. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca setelah mempertimbangkan tujuan keuangan, profil risiko, dan melakukan riset secara mandiri.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


