Berita & Analisis
Apa Kode Saham Google? Ticker GOOGL vs GOOG dan Cara Beli dari Indonesia 2026

Prospek investasi Google saat ini didorong oleh pertumbuhan Google Cloud, adopsi AI lewat Gemini, serta rencana belanja modal besar untuk infrastruktur AI di 2026. Artikel ini membahas perbedaan ticker, prospek terbaru, dan cara membeli sahamnya dari Indonesia.
Kode saham Google atau ticker-nya bukan hanya satu, melainkan dua: GOOGL dan GOOG. Keduanya merupakan saham dari Alphabet Inc, perusahaan induk Google, dan sama-sama diperdagangkan di bursa Nasdaq, Amerika Serikat.
Kehadiran dua ticker untuk satu perusahaan ini cukup unik dan sering membingungkan investor pemula yang baru mengenal saham teknologi Amerika. Memahami perbedaan keduanya penting sebelum memutuskan beli saham Google, agar tidak salah pilih instrumen.
Pada 2014, Google melakukan pemecahan saham (stock split) yang tidak konvensional. Saham kelas A yang sudah ada dipecah dengan rasio 2-for-1, dan dari proses ini lahir kelas saham baru, yaitu kelas C, yang diberi kode saham GOOG dan tidak memiliki hak suara sama sekali.
Tujuan utama penciptaan kelas saham baru ini adalah agar pendiri dan manajemen Alphabet tetap mempertahankan kendali suara mayoritas perusahaan, meskipun jumlah saham yang beredar di publik terus bertambah melalui penerbitan saham baru maupun program kompensasi karyawan.
Berikut tabel perbandingan dua kode saham Google yang beredar di pasar, untuk memudahkan memahami perbedaan utamanya.
Aspek | GOOGL (Class A) | GOOG (Class C) |
Hak Suara | 1 suara per saham | Tidak memiliki hak suara |
Bursa Pencatatan | Nasdaq | Nasdaq |
Dividen per Saham | Sama dengan GOOG | Sama dengan GOOGL |
Performa Harga | Bergerak hampir identik dengan GOOG | Bergerak hampir identik dengan GOOGL |
Cocok untuk | Investor yang ingin memiliki hak suara dalam RUPS | Investor yang fokus pada eksposur harga saham, bukan hak suara |
Meski memiliki perbedaan hak suara, harga GOOGL dan GOOG cenderung bergerak hampir identik dari waktu ke waktu, karena keduanya merepresentasikan kepemilikan yang sama atas seluruh lini bisnis dan potensi pertumbuhan Alphabet sebagai satu entitas perusahaan.
Selisih harga kecil di antara keduanya kadang muncul akibat preferensi investor institusi yang membutuhkan hak suara, namun secara historis selisih ini relatif tipis dan tidak signifikan bagi investor ritel yang membeli dalam jumlah kecil hingga menengah.
Alphabet Inc adalah perusahaan induk dari Google yang dibentuk pada 2015 untuk memisahkan bisnis inti mesin pencari dan periklanan dari unit bisnis lain seperti Waymo (kendaraan otonom), Verily (kesehatan), dan berbagai proyek riset jangka panjang lainnya di bawah payung yang disebut "Other Bets".
Bisnis utama Alphabet tetap bertumpu pada Google Search, YouTube, Google Cloud, dan ekosistem Android, dengan pendapatan terbesar masih berasal dari iklan digital, meskipun kontribusi Google Cloud terus meningkat signifikan setiap tahunnya.
Prospek investasi saham Google saat ini banyak dikaitkan dengan akselerasi adopsi kecerdasan buatan (AI). Google Cloud mencatat pertumbuhan pendapatan sekitar 34% secara tahunan, dengan lebih dari 70% pelanggan cloud kini sudah menggunakan layanan berbasis AI, menandakan permintaan enterprise yang terus menguat.
Produk AI andalan Google, Gemini, diperkirakan telah meraih pangsa pasar sekitar 20% dan terintegrasi langsung pada perangkat Android terbaru, memberi keunggulan distribusi dibanding kompetitor yang mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi terpisah. Sejumlah analis bahkan menilai Google berpotensi menjadi saham dengan performa terbaik di antara kelompok "Magnificent Seven" pada 2026, berkat ekosistem AI yang terintegrasi penuh mulai dari chip, cloud, hingga aplikasi.
📌 Catatan
Alphabet merencanakan belanja modal sebesar 175-185 miliar dolar AS pada 2026 untuk infrastruktur AI, sebuah angka yang sangat besar dan membuat sebagian investor bersikap hati-hati meski kinerja pendapatan dan laba tetap bertumbuh.
Sebagai gambaran, pada akhir Juni 2026, saham GOOGL diperdagangkan di kisaran 353 dolar AS per lembar, dengan rentang 52 minggu antara sekitar 173 dolar AS hingga 409 dolar AS. Target harga rata-rata analis untuk 12 bulan ke depan berada di kisaran 433 dolar AS, dengan estimasi tertinggi mencapai 515 dolar AS.
Mayoritas analis yang memantau saham ini memberikan rekomendasi beli, tanpa ada rekomendasi jual, menandakan sentimen pasar yang secara umum masih positif terhadap prospek bisnis Alphabet ke depan. Namun, harga saham bisa berubah setiap saat sehingga investor disarankan selalu memantau data terbaru sebelum mengambil keputusan.
▸ Risiko Regulasi: Alphabet menghadapi berbagai gugatan dan pengawasan antimonopoli di berbagai negara terkait dominasi pasar pencarian dan periklanan digital.
▸ Risiko Belanja Modal Besar: Investasi infrastruktur AI yang sangat besar bisa menekan margin laba dalam jangka pendek jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi pasar.
▸ Risiko Persaingan AI: Kompetisi ketat dari pemain AI lain bisa menggerus pangsa pasar Gemini maupun bisnis pencarian inti Google.
▸ Risiko Fluktuasi Kurs: Karena diperdagangkan dalam dolar AS, nilai investasi bagi investor Indonesia juga dipengaruhi oleh fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar.
Beli saham Google dari Indonesia kini jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu, karena sudah banyak platform broker lokal yang menyediakan akses langsung ke saham-saham Amerika Serikat, termasuk GOOGL dan GOOG, tanpa perlu membuka rekening broker luar negeri secara manual.
Salah satu fitur penting yang memudahkan investor ritel adalah fractional share, yaitu fitur yang memungkinkan pembelian sebagian kecil dari satu lembar saham, sehingga investor tidak perlu menyiapkan dana ratusan dolar hanya untuk membeli satu lembar penuh saham Google.
Unduh aplikasi Pluang dan selesaikan pendaftaran serta verifikasi e-KYC menggunakan KTP dan foto wajah.
Top up saldo dalam Rupiah ke akun Pluang melalui metode pembayaran yang tersedia.
Konversi sebagian saldo ke USD balance untuk transaksi saham Amerika Serikat.
Cari ticker GOOGL atau GOOG di menu saham AS, lalu pelajari data harga dan profil perusahaan yang tersedia.
Tentukan nominal investasi, mulai dari nominal kecil berkat fitur fractional share, lalu lakukan pembelian.
📌 Catatan
Seluruh produk saham Amerika Serikat di Pluang difasilitasi oleh pialang berjangka yang berizin dan diawasi otoritas terkait di Indonesia, sehingga prosesnya tetap berada dalam koridor regulasi yang berlaku.
▸ Pahami Model Bisnis Perusahaan: Jangan hanya tergiur nama besar, pelajari dari mana sumber pendapatan utama perusahaan tersebut berasal.
▸ Perhatikan Valuasi Saham: Bandingkan rasio valuasi seperti PER dengan kompetitor sejenis sebelum memutuskan membeli di harga tertentu.
▸ Siapkan Dana yang Memang Siap Berisiko: Investasi saham individu seperti Google sebaiknya menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk instrumen berisiko, bukan dana darurat.
▸ Pantau Laporan Keuangan Kuartalan: Alphabet merilis laporan keuangan setiap kuartal, yang bisa menjadi acuan untuk mengevaluasi kinerja bisnis secara berkala.
Meski prospek Google saat ini cukup menarik, sebaiknya investor tidak menempatkan seluruh dana investasi saham hanya pada satu kode saham saja, termasuk GOOGL atau GOOG. Diversifikasi ke beberapa saham teknologi lain atau sektor berbeda tetap penting untuk mengurangi risiko jika kinerja satu perusahaan tidak sesuai ekspektasi.
Investor juga bisa mempertimbangkan ETF berbasis indeks teknologi sebagai alternatif untuk mendapatkan eksposur ke beberapa perusahaan teknologi besar sekaligus, termasuk Google, Apple, dan Microsoft, dalam satu produk investasi yang lebih terdiversifikasi.
❓ Apa kode saham Google?
Kode saham atau ticker Google ada dua, yaitu GOOGL (Class A, dengan hak suara) dan GOOG (Class C, tanpa hak suara), keduanya merupakan saham dari Alphabet Inc dan tercatat di bursa Nasdaq.
❓ Apa beda GOOGL dan GOOG?
Perbedaan utama GOOGL dan GOOG terletak pada hak suara. GOOGL memiliki satu hak suara per saham, sementara GOOG tidak memiliki hak suara sama sekali, namun keduanya memiliki hak dividen dan eksposur harga yang sama.
❓ Beli saham Google di mana dari Indonesia?
Investor di Indonesia bisa membeli saham Google melalui platform broker lokal yang menyediakan akses saham Amerika Serikat, seperti Pluang, dengan fitur fractional share yang memungkinkan investasi mulai dari nominal kecil.
❓ Bagaimana prospek investasi saham Google saat ini?
Prospek saham Google didukung oleh pertumbuhan Google Cloud, adopsi AI lewat Gemini yang terintegrasi di Android, serta rencana belanja modal besar untuk infrastruktur AI pada 2026, meski perlu diwaspadai risiko tekanan margin jangka pendek.
❓ Apakah harus beli minimal 1 lembar saham Google?
Tidak harus. Dengan fitur fractional share di platform seperti Pluang, investor bisa membeli sebagian kecil dari satu lembar saham Google sesuai nominal yang dimiliki.
❓ Apakah investasi saham Google berisiko?
Ya, seperti saham lainnya, saham Google memiliki risiko fluktuasi harga, risiko regulasi terkait antimonopoli, serta risiko fluktuasi kurs bagi investor Indonesia karena diperdagangkan dalam dolar AS.
❓ Apakah lebih baik beli GOOGL atau GOOG?
Tidak ada jawaban mutlak karena keduanya memiliki eksposur ekonomi yang sama. Investor yang menginginkan hak suara biasanya memilih GOOGL, sementara investor yang hanya fokus pada eksposur harga bisa memilih salah satu sesuai ketersediaan di platform.
Kode saham Google terdiri dari dua ticker, yaitu GOOGL dan GOOG, yang sama-sama mewakili kepemilikan di Alphabet Inc namun berbeda dalam hal hak suara. Kedua saham ini diperdagangkan di bursa Nasdaq dan harganya bergerak hampir identik sepanjang waktu.
Beli saham Google dari Indonesia kini bisa dilakukan dengan mudah lewat platform broker lokal yang menyediakan akses saham Amerika Serikat dan fitur fractional share. Dengan prospek bisnis yang didorong pertumbuhan AI dan cloud computing, Google tetap menjadi salah satu saham teknologi yang banyak diperhatikan investor, meski seperti instrumen lain, tetap perlu diimbangi dengan diversifikasi dan riset mandiri.
⚠️ Disclaimer
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli saham tertentu. Harga saham dapat berubah setiap saat dan investasi saham mengandung risiko, termasuk potensi kehilangan modal.


