Berita & Analisis
BACH IPO Juli 2026: Panduan Lengkap Valuasi dan Prospek

PT Bach Multi Global Tbk (BACH) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026 dengan harga penawaran Rp400–500 per saham. Perusahaan ini bergerak di penjualan dan penyewaan genset serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi, melayani lebih dari 41.000 site telekomunikasi milik klien kelas atas seperti Telkomsel dan XL Axiata. Dengan PER hanya 10,5–13,1x dan pertumbuhan laba bersih hampir 98% di 2025, BACH menawarkan valuasi yang relatif murah untuk skala bisnisnya. Bagi investor yang tertarik investasi saham dari IPO lokal berkapitalisasi menengah dengan latar belakang konglomerat Djarum, BACH layak dicermati.
PT Bach Multi Global Tbk adalah perusahaan infrastruktur energi dan telekomunikasi yang berdiri sejak September 2006. Bisnis utamanya mencakup dua segmen: (1) penjualan dan penyewaan genset sebagai agen tunggal merek Himoinsa di Indonesia, dan (2) jasa konstruksi serta pemeliharaan infrastruktur jaringan telekomunikasi. BACH saat ini merawat sekitar 41.000 site telekomunikasi di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu pemain terbesar di ceruk ini. Secara kepemilikan, BACH berafiliasi dengan Grup Djarum melalui Global Telekomunikasi Prima (GTP) — entitas yang juga mengendalikan Protelindo (TOWR), yang sekaligus menjadi klien utama BACH.
Atribut | Detail |
|---|---|
Ticker | BACH |
Nama Perusahaan | PT Bach Multi Global Tbk |
Industri | Penjualan & penyewaan genset; konstruksi & pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi |
Berdiri | September 2006 |
Market Cap Pasca-IPO | Rp1,63 triliun – Rp2,04 triliun |
BACH menawarkan 615.000.000 lembar saham baru, setara 15,06% dari total modal pasca-IPO sebesar 4.084.430.000 lembar. Target perolehan dana berkisar Rp307,5 miliar (asumsi harga tengah). Penjamin emisi adalah PT Erdikha Elit Sekuritas.
Keterangan | Detail |
|---|---|
Harga Penawaran | Rp400 – Rp500 per saham |
Saham Ditawarkan | 615.000.000 lembar (15,06% pasca-IPO) |
Total Saham Pasca-IPO | 4.084.430.000 lembar |
Target Dana | ~Rp307,5 miliar |
Masa Penawaran Umum | 1 – 3 Juli 2026 |
Tanggal Listing BEI | 7 Juli 2026 |
Underwriter | PT Erdikha Elit Sekuritas |
Tanggal bersifat indikatif dan dapat berubah sesuai persetujuan OJK. Konfirmasi jadwal final melalui prospektus resmi di eDUS OJK.
Catatan struktur pasca-listing: GTP akan melaksanakan opsi beli saham BMSI sehingga kepemilikan GTP naik ke 51% dan BMSI turun ke 26,77%. Proses ini diselesaikan maksimal 5 hari kerja setelah tanggal listing.
Alokasi | Jumlah (estimasi) | Persentase |
|---|---|---|
Pembelian armada genset baru (3 pemasok) | ~Rp214 miliar | ~70% |
Modal kerja operasional | ~Rp93,5 miliar | ~30% |
Total | ~Rp307,5 miliar | 100% |
Rencana penggunaan dana disusun berdasarkan asumsi harga penawaran maksimal (Rp500). Jika harga final ditetapkan di Rp400, selisih kekurangan untuk pembelian genset akan ditutup dari fasilitas utang perbankan — risiko yang perlu diperhatikan investor.
Metrik | Harga Rp400 | Harga Rp500 |
|---|---|---|
PER (EPS diluted ~Rp38,1) | ~10,5x | ~13,1x |
PBV Pasca-IPO | ~2,1x | ~2,4x |
Market Cap | Rp1,63 triliun | Rp2,04 triliun |
Untuk sektor infrastruktur pendukung telekomunikasi, PER 10,5–13,1x tergolong murah — rata-rata peers tower seperti TOWR dan MTEL diperdagangkan di atas 20x. Murahnya valuasi kemungkinan mencerminkan ukuran perusahaan yang masih kecil (small-cap), konsentrasi klien pada grup yang berafiliasi, serta kas tunai yang sangat tipis. Investor yang bisa mentoleransi risiko likuiditas berpotensi mendapat margin of safety yang cukup menarik dari level harga ini.
Metrik | 2023 | 2024 | 2025 |
|---|---|---|---|
Pendapatan | Rp1.246 miliar | Rp1.540 miliar (+23,57%) | Rp2.151 miliar (+39,66%) |
Laba Bersih | Rp35,4 miliar | Rp78,7 miliar (+122,31%) | Rp155,6 miliar (+97,54%) |
Perubahan Laba | — | +122% | +98% |
Pertumbuhan topline dan bottomline BACH dalam dua tahun terakhir sangat kuat, didorong oleh ekspansi armada genset dan peningkatan kontrak pemeliharaan site. ROE terus naik dan Interest Coverage Ratio (ICR) stabil di atas 9x, menandakan kemampuan bayar bunga yang sehat meski DER meningkat dari 0,83x (2023) ke 1,30x (2025) akibat pembiayaan ekspansi. Satu catatan penting: cash ratio hanya 0,02x dan current ratio turun ke 1,29x, sehingga likuiditas jangka pendek perlu dipantau secara berkala.
PT Erdikha Elit Sekuritas bukan underwriter dengan reputasi "hype machine." Berikut kinerja hari pertama dari IPO terbarunya:
Emiten | Tanggal IPO | Kinerja Hari Pertama |
|---|---|---|
PART | Juli 2024 | +25% |
SMLE | Januari 2024 | +35% |
MEJA | Februari 2024 | +10% |
TOSK | Februari 2024 | +4%, kemudian melemah |
Secara historis, Erdikha cenderung menetapkan harga yang lebih konservatif, menghasilkan return hari pertama yang positif namun tidak spektakuler. Ini berarti permintaan pada masa book-building BACH mungkin tidak se-ramai IPO yang dijamin oleh penjamin emisi dengan profil "retail hype" lebih tinggi — meski secara fundamental valuasi BACH justru lebih menarik. Track record masa lalu bukan jaminan kinerja masa depan.
Sebelum memutuskan berpartisipasi dalam IPO BACH, pertimbangkan risiko-risiko berikut:
Konsentrasi klien dan konflik kepentingan: Protelindo (TOWR) adalah klien terbesar sekaligus berada satu grup pengendali (GTP/Djarum) dengan BACH. Jika hubungan ini terganggu atau syarat kontrak diubah, pendapatan BACH bisa terdampak signifikan.
Likuiditas sangat tipis: Cash ratio 0,02x dan penurunan current ratio ke 1,29x menunjukkan ruang gerak kas yang sempit. Bila ekspansi genset lebih lambat dari rencana, tekanan arus kas bisa meningkat.
Risiko shortfall dana IPO: Rencana penggunaan dana berbasis harga Rp500; jika harga final Rp400, kekurangan ~Rp60 miliar untuk pembelian genset akan bergantung pada utang baru.
Likuiditas saham di pasar sekunder: Dengan free float hanya 15,06%, volume perdagangan harian bisa tipis, memperbesar volatilitas harga pasca-listing.
BACH adalah perusahaan dengan fundamental yang solid dan model bisnis yang bernilai — kombinasi recurring revenue dari pemeliharaan 41.000 site telekomunikasi dan penjualan genset ke klien blue-chip memberikan visibilitas pendapatan yang baik. Valuasi PER 10,5–13,1x tergolong murah untuk kualitas bisnis ini, terutama dengan latar belakang grup Djarum yang telah terbukti membangun TOWR menjadi pemain infrastruktur telekomunikasi kelas dunia.
Di sisi lain, investor perlu masuk dengan mata terbuka: likuiditas kas yang sangat tipis, ketergantungan pada satu grup klien yang berafiliasi, dan underwriter yang tidak agresif dalam membangun hype berarti sentimen pasar pada hari pertama bisa lebih tenang dibanding valuasinya yang sesungguhnya menarik. Bagi investor dengan horizon menengah-panjang yang fokus pada pertumbuhan fundamental, BACH bisa menjadi kandidat menarik di harga bawah. Untuk trader jangka pendek yang mengincar first-day pop, ekspektasi perlu disesuaikan.
Semua investasi mengandung risiko dan kemungkinan kerugian nilai investasi. Kinerja pada masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, expected return, dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Apa itu saham BACH?
BACH adalah kode ticker saham PT Bach Multi Global Tbk, perusahaan yang bergerak di penjualan dan penyewaan genset serta pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Saham ini mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.
Berapa harga IPO BACH?
Harga penawaran IPO BACH berada di kisaran Rp400–500 per saham. Harga final ditentukan berdasarkan hasil book-building selama masa penawaran 1–3 Juli 2026.
Siapa pemilik atau pemegang saham pengendali BACH?
BACH dikendalikan oleh Global Telekomunikasi Prima (GTP), entitas dari Grup Djarum yang dikuasai keluarga Hartono (Martin dan Victor Hartono). GTP juga mengendalikan Protelindo (TOWR), yang merupakan klien utama BACH sekaligus satu atap grup pengendali.
Apakah BACH akan membagikan dividen?
Manajemen berencana membagikan dividen hingga 50% dari laba bersih mulai tahun buku 2026, namun kebijakan ini tidak mengikat dan bergantung pada kondisi keuangan perusahaan. Catatan: dividen 2023 (Rp129,1 miliar) sempat melampaui laba bersih 2023 (Rp35,4 miliar) karena dibayar dari akumulasi saldo laba tahun-tahun sebelumnya.
Bagaimana cara beli saham IPO BACH?
Investor dapat membeli saham BACH melalui Pluang pada tanggal 7 Juli 2026 setelah listing. Panduan lengkap tersedia di artikel cara beli saham Indonesia untuk memahami alur pembukaan akun, syarat RDN, dan proses pembelian saham Indonesia di Pluang.
Apa risiko terbesar IPO BACH?
Risiko utama meliputi konsentrasi klien yang berafiliasi dengan pengendali (Protelindo/GTP), likuiditas kas yang sangat tipis (cash ratio 0,02x), potensi shortfall dana jika harga IPO final di Rp400, dan free float rendah (15,06%) yang dapat membatasi likuiditas perdagangan.
Bagaimana kinerja underwriter BACH, Erdikha Elit Sekuritas?
Erdikha Elit Sekuritas memiliki rekam jejak positif namun konservatif — IPO yang dijaminnya menghasilkan return hari pertama antara +4% hingga +35%. Erdikha bukan underwriter yang dikenal agresif membangun permintaan ritel, sehingga volume pemesanan mungkin lebih tenang dibanding emiten yang dijamin penjamin emisi dengan profil lebih agresif.
Apakah valuasi BACH murah dibanding kompetitor?
Relatif ya. PER 10,5–13,1x untuk perusahaan dengan pertumbuhan laba ~98% per tahun tergolong murah dibanding rata-rata emiten infrastruktur telekomunikasi seperti TOWR atau MTEL yang diperdagangkan di atas 20x PER. Namun, ukuran perusahaan yang lebih kecil dan risiko konsentrasi klien wajar diperhitungkan dalam diskon valuasi tersebut.


