Apa Itu Drawdown dalam Trading?Dalam trading, Drawdown adalah selisih antara nilai puncak (harga beli atau nilai portofolio tertinggi) dengan nilai "palung" atau titik terendahnya dalam satu rentang waktu. Sebagai contoh, jika kamu membeli saham dengan harga Rp1.000.000 dan nilainya turun menjadi Rp900.000 sehari berikutnya, maka Drawdown yang tercatat adalah 10%.Penting dicatat, Drawdown bukanlah kerugian yang telah terealisasi (realized loss). Selama posisi belum ditutup, penurunan tersebut masih berstatus unrealized loss alias kerugian yang belum terealisasi. Jika harga aset kembali naik, nilai Drawdown bisa berkurang atau bahkan nihil begitu harga kembali ke titik belinya.Secara historis, IHSG pernah mencatat Drawdown yang cukup dalam, yaitu turun sekitar 37% dari posisi awal tahun ke level 3.937 pada 24 Maret 2020 akibat aksi jual panik selama awal pandemi Covid-19 (sumber: CNN Indonesia, 18 Maret 2025). Data ini bersifat historis dan bukan cerminan performa pasar di masa mendatang. Periode data: Januari–Maret 2020.Bagaimana Cara Menghitung Drawdown?Rumus dasar untuk menghitung Drawdown adalah:Drawdown (%) = [(Nilai Puncak − Nilai Terendah) ÷ Nilai Puncak] × 100%Contoh: portofolio trading kamu sempat mencapai nilai tertinggi Rp10.000.000, lalu turun ke titik terendah Rp8.500.000 sebelum kembali naik. Maka, Drawdown yang tercatat adalah [(10.000.000 − 8.500.000) ÷ 10.000.000] × 100% = 15%. Semakin dalam selisih antara puncak dan palungnya, semakin besar pula persentase Drawdown yang dihasilkan.Mengapa Drawdown Penting Diketahui Trader?Menyaksikan nilai aset turun dari titik tertingginya memang bukan hal yang menyenangkan. Meski begitu, ada beberapa alasan mengapa data Drawdown penting untuk dipantau trader maupun investor:Mengukur risiko historis sebuah instrumen aset, sehingga bisa dibandingkan dengan risiko instrumen lain sebelum memutuskan untuk bertransaksi.Menilai performa dan efektivitas strategi trading berdasarkan besaran potensi kerugian berturut-turut yang pernah terjadi.Merepresentasikan volatilitas pasar serta selera diversifikasi aset seorang trader.Membantu pengelola dana mengatur struktur portofolio dengan rasio risiko dan potensi imbal hasil yang lebih terukur.Apa Saja Jenis-Jenis Drawdown?Terdapat tiga jenis Drawdown yang umum digunakan dalam trading, yaitu Absolute Drawdown, Maximal Drawdown, dan Relative Drawdown.1. Absolute DrawdownAbsolute Drawdown adalah selisih antara modal awal trading dengan nilai terendahnya, dihitung dalam satuan mata uang tanpa memperhitungkan laba yang belum terealisasi. Data ini membantu trader memahami risiko awal dari sebuah aktivitas trading.2. Maximal Drawdown (MDD)Maximal Drawdown atau MDD adalah jenis Drawdown yang umumnya dijadikan acuan utama trader. MDD menghitung penurunan modal awal setelah dikurangi kerugian beruntun dalam bentuk persentase. Semakin dalam koreksinya, semakin besar pula persentase MDD, dan semakin tinggi pula risiko trader menerima margin trading tambahan (margin call) jika bertransaksi menggunakan fasilitas margin.3. Relative DrawdownRelative Drawdown mencerminkan kondisi sementara dari aktivitas trading, berupa rasio antara unrealized profit dan unrealized loss terhadap modal awal. Berbeda dari MDD, angka Relative Drawdown yang besar justru bisa mengindikasikan kinerja portofolio yang sedang membaik, karena mencerminkan potensi keuntungan yang belum direalisasikan.Apa Syarat yang Perlu Disiapkan Sebelum Menyikapi Drawdown?Sebelum masuk ke langkah-langkah menyikapi Drawdown, ada beberapa hal yang perlu kamu siapkan lebih dulu:Data histori pergerakan harga aset yang kamu perdagangkan, minimal dalam 1–3 bulan terakhir.Pemahaman terhadap profil risiko pribadi (risk tolerance) sebelum menentukan batas Drawdown maksimum.Akses ke platform trading yang menyediakan fitur order otomatis seperti Stop Loss, misalnya melalui Web Trading atau fitur Screeners untuk memantau pergerakan aset.Bagaimana Cara Menyikapi Drawdown?Fluktuasi harga aset adalah keniscayaan dalam trading, sehingga Drawdown pun cepat atau lambat pasti akan dialami. Ada 2 langkah utama yang bisa kamu lakukan untuk menyikapinya secara terukur.LangkahTujuanEstimasi Waktu1. Menentukan Batas Toleransi DrawdownMenetapkan MDD maksimum yang bisa diterima±15–30 menit analisis data historis2. Menentukan Titik Stop LossMembatasi potensi kerugian lebih lanjut±5–10 menit saat membuka posisiLangkah 1: Menentukan Batas Toleransi DrawdownTentukan lebih dulu titik Drawdown maksimum yang sanggup kamu toleransi, alih-alih panik saat nilai aset mulai terkoreksi. Caranya, hitung rerata persentase penurunan harga aset dari puncak ke palung terendahnya dalam rentang waktu tertentu, misalnya satu hingga tiga bulan terakhir. Angka rerata itulah yang bisa dijadikan patokan batas Drawdown yang bisa kamu iklaskan.Setelah itu, ukur juga nilai recovery yang dibutuhkan — yaitu rerata kenaikan aset dari titik terendah kembali ke puncaknya. Sebagai gambaran, Drawdown 10% membutuhkan tingkat recovery sekitar 11%, sedangkan Drawdown 20% membutuhkan recovery sekitar 25%. Karena itu, banyak trader membatasi MDD tidak lebih dari 20% agar waktu dan usaha pemulihan portofolio tidak berlarut-larut.Langkah 2: Menentukan Titik Stop LossSetelah batas toleransi Drawdown ditentukan, langkah berikutnya adalah menetapkan titik Stop Loss sebagai jaring pengaman. Kamu bisa memasang Stop Loss di antara titik entry dan batas MDD yang telah ditentukan jika ingin bersikap lebih konservatif, atau tepat di titik MDD jika kamu menilai potensi koreksi masih bisa berlanjut. Keputusan ini sepenuhnya bergantung pada profil risiko masing-masing trader.Ingin menerapkan strategi manajemen risiko seperti ini secara langsung? Kamu bisa mulai trading dengan manajemen risiko menggunakan fitur order dan pelacakan posisi yang tersedia di Pluang.FAQ Seputar DrawdownBerapa persen Drawdown yang wajar dalam trading?Tidak ada angka baku, karena batas wajar Drawdown bergantung pada profil risiko masing-masing trader dan jenis aset yang diperdagangkan. Secara umum, banyak trader membatasi Maximal Drawdown (MDD) di kisaran 10–20% agar waktu pemulihan modal tidak memakan waktu terlalu lama. Selalu sesuaikan dengan toleransi risiko dan tujuan investasimu.Apa bedanya Drawdown dengan Stop Loss?Drawdown adalah data historis yang mengukur seberapa besar penurunan nilai aset dari titik tertinggi ke terendahnya. Stop Loss adalah perintah otomatis untuk menutup posisi pada harga tertentu guna membatasi kerugian. Singkatnya, Drawdown adalah alat ukur risiko, sedangkan Stop Loss adalah alat untuk mengelola risiko tersebut.Apakah Drawdown termasuk kerugian permanen?Tidak selalu. Selama posisi trading belum ditutup, Drawdown masih berstatus unrealized loss atau kerugian yang belum terealisasi. Nilainya bisa berkurang, bahkan nihil, jika harga aset kembali naik ke titik belinya. Drawdown baru menjadi kerugian permanen (realized loss) setelah posisi ditutup dalam kondisi rugi.Mulai Trading dengan Manajemen Risiko di Pluang!Menghadapi Drawdown menjadi lebih terukur jika kamu memiliki akses ke fitur manajemen risiko yang lengkap. Lewat Pluang, kamu bisa memantau pergerakan aset, mengatur Stop Loss, dan mulai trading dengan manajemen risiko pada produk Crypto Futures, lengkap dengan fitur Web Trading dan Screeners untuk membantu analisis sebelum bertransaksi.Baca Juga: Apa Itu Trading?Disclaimer Produk (Crypto Futures): Pluang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aset Kripto dan Derivatif Aset Kripto oleh PT Bumi Santosa Cemerlang berizin dan diawasi oleh OJK. Trading Crypto Futures merupakan produk berisiko tinggi, tidak ada jaminan keuntungan, dan tidak sesuai untuk seluruh kalangan konsumen dan masyarakat. Lakukan riset mandiri sebelum bertransaksi.Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi investasi. Segala keputusan trading maupun investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.Gambar yang ditampilkan dalam konten ini dibuat dengan menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.