Investasi
Fitur
Akademi
Lainnya
ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Berita & Analisis
Cara Beli Koin Crypto untuk Pemula: Panduan Pilih Altcoin 2026
shareIcon

Cara Beli Koin Crypto untuk Pemula: Panduan Pilih Altcoin 2026

13 Jul 2026, 1:52 PM
·
Waktu baca: 8 menit
shareIcon
tampilan-btc-pluang-cara-beli-koin-crypto-pemula
Beli koin crypto adalah proses membeli aset digital di luar Bitcoin, mulai dari koin blue-chip seperti Ethereum dan Solana hingga altcoin niche dengan kapitalisasi pasar lebih kecil, melalui platform yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Berikut cara memilih koin yang tepat, langkah beli koin crypto di aplikasi, modal minimal, risiko, strategi aman, hingga aspek pajak dan regulasi yang perlu dipahami pemula sebelum mulai bertransaksi.

Apa Itu Koin Crypto (Altcoin) dan Bedanya dengan Bitcoin?

Koin crypto atau altcoin adalah istilah untuk seluruh aset crypto selain Bitcoin (BTC). Istilah ini mencakup ribuan token, mulai dari koin lapis pertama (layer-1) seperti ETH dan SOL yang punya jaringan blockchain sendiri, hingga token yang dibangun di atas jaringan tersebut untuk kebutuhan spesifik seperti DeFi, gaming, atau stablecoin.

Bedanya dengan Bitcoin cukup jelas dari sisi tujuan. Bitcoin dirancang sebagai penyimpan nilai (store of value) dan alat tukar terdesentralisasi, sementara sebagian besar altcoin dibangun untuk fungsi tambahan: smart contract, transaksi berkecepatan tinggi, atau ekosistem aplikasi terdesentralisasi. Karena variasi fungsi ini, tingkat risiko dan volatilitas antar koin juga jauh berbeda, sehingga pemilihan koin tidak bisa disamaratakan.

Secara garis besar, altcoin dapat dipecah menjadi beberapa sub-kategori. Koin layer-1 seperti Ethereum dan Solana punya jaringan blockchain independen dan menjadi fondasi bagi ribuan aplikasi terdesentralisasi (DeFi, NFT, gaming). Token layer-2 dibangun di atas jaringan layer-1 untuk meningkatkan kecepatan transaksi. Stablecoin seperti USDT dirancang agar nilainya relatif stabil terhadap mata uang fiat, sering dipakai sebagai pasangan trading (trading pair). Sementara meme coin adalah kategori paling spekulatif, nilainya lebih banyak digerakkan oleh tren komunitas ketimbang fundamental teknologi. Memahami kategori ini adalah langkah pertama sebelum menentukan koin mana yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko Anda.

Bagaimana Cara Kerja Membeli Koin Crypto?

Secara teknis, membeli koin crypto berarti menukar Rupiah atau stablecoin (misalnya USDT) dengan koin pilihan melalui order book di exchange. Ada dua jenis order utama: Market Order untuk eksekusi instan di harga pasar saat itu, dan Limit Order untuk menunggu hingga harga menyentuh level yang Anda tentukan. Setelah order tereksekusi, koin akan masuk ke wallet atau portofolio Anda di aplikasi, siap untuk disimpan (hold), diperdagangkan kembali, atau ditransfer ke wallet lain.

Harga koin bergerak 24 jam nonstop mengikuti permintaan-penawaran global, sentimen pasar, dan berita regulasi, sehingga waktu eksekusi order dapat memengaruhi harga rata-rata beli Anda.

Setelah dibeli, koin dapat disimpan dengan dua pendekatan berbeda. Penyimpanan kustodian (custodial) berarti aset disimpan oleh platform tempat Anda bertransaksi, dengan keamanan yang bergantung pada standar dan sertifikasi platform tersebut. Penyimpanan non-kustodial berarti Anda memegang kendali penuh atas private key melalui wallet pribadi, dengan konsekuensi tanggung jawab keamanan sepenuhnya berada di tangan pengguna. Bagi pemula, penyimpanan kustodian di platform berizin umumnya lebih praktis, sementara wallet non-kustodial lebih cocok bagi pengguna yang sudah memahami pengelolaan seed phrase secara mandiri. Perlu diketahui juga bahwa memindahkan koin ke wallet eksternal biasanya dikenakan biaya jaringan (network fee) yang besarannya berubah mengikuti kepadatan blockchain saat itu.

Kriteria Memilih Koin Crypto yang Tepat untuk Dibeli

Sebelum membeli koin di luar Bitcoin dan Ethereum, ada beberapa kriteria dasar yang perlu dicek agar keputusan tidak semata-mata mengikuti tren atau FOMO (Fear of Missing Out):

  • Market cap dan peringkat: Koin dengan kapitalisasi pasar besar (top 20-50) umumnya lebih stabil dan likuid dibanding koin baru dengan market cap kecil.
  • Likuiditas dan volume trading: Cek likuiditas harian; koin dengan volume rendah rawan slippage dan spread lebar saat dieksekusi.
  • Use case dan tokenomics: Pahami fungsi nyata koin tersebut (pembayaran, smart contract, governance) serta struktur suplai — apakah ada mekanisme inflasi atau burning token.
  • Tim pengembang dan roadmap: Proyek dengan tim transparan dan roadmap yang jelas cenderung punya kredibilitas lebih tinggi dibanding proyek anonim.
  • Riwayat volatilitas: Semua crypto punya volatilitas tinggi, tapi altcoin kapitalisasi kecil biasanya jauh lebih fluktuatif dibanding Bitcoin atau Ethereum.
  • Adopsi dan kemitraan nyata: Periksa apakah koin tersebut sudah diadopsi oleh perusahaan atau institusi besar, atau memiliki kemitraan strategis yang mendukung utilitas jangka panjangnya.

Kelima kriteria di atas bukan jaminan sebuah koin akan naik nilainya, tetapi berfungsi sebagai filter awal untuk menyaring proyek yang punya dasar lebih kuat dibanding sekadar mengikuti tren viral di media sosial. Semakin banyak kriteria yang terpenuhi, semakin besar keyakinan yang bisa dibangun sebelum mengalokasikan dana.

Jenis-Jenis Koin Crypto Populer: Blue-Chip vs Altcoin

Secara umum, koin crypto yang tersedia di pasar Indonesia bisa dikelompokkan berdasarkan tingkat risiko dan kematangan proyeknya. Tabel berikut merangkum perbandingannya sebagai gambaran awal, bukan rekomendasi beli:

KategoriContoh KoinKarakteristikTingkat Risiko
Layer-1 Blue-ChipETH, SOLJaringan blockchain besar dengan ekosistem aplikasi luas dan likuiditas tinggiSedang
Altcoin Kapitalisasi MenengahKoin DeFi & Layer-2 populerFokus pada kasus penggunaan spesifik, volatilitas lebih tinggi dari blue-chipSedang-Tinggi
Altcoin Kapitalisasi KecilToken niche & proyek baruPotensi kenaikan besar namun likuiditas rendah dan risiko proyek gagal tinggiTinggi
Meme CoinToken berbasis komunitas/trenNilai sangat bergantung sentimen sosial, minim fundamental teknisSangat Tinggi

Semakin ke bawah tabel di atas, semakin tinggi pula potensi imbal hasil sekaligus potensi kerugiannya. Investor pemula umumnya disarankan mengalokasikan porsi terbesar portofolio crypto pada kategori layer-1 blue-chip, lalu secara bertahap mengeksplorasi kategori dengan risiko lebih tinggi setelah memahami mekanisme pasar dengan lebih baik.

Cara Beli Koin Crypto di Pluang: Langkah demi Langkah

Berikut langkah praktis membeli koin crypto pilihan Anda di aplikasi Pluang:

  1. Unduh dan Buka Aplikasi Pluang: Pastikan akun sudah terverifikasi (KYC) menggunakan KTP dan foto selfie sesuai ketentuan regulasi.
  2. Deposit Dana: Top up saldo melalui transfer bank lokal, QRIS, atau e-wallet menggunakan uang dingin — dana yang siap ditempatkan dalam aset berisiko.
  3. Cari Koin yang Diinginkan: Gunakan fitur pencarian di menu Crypto dan pilih koin berdasarkan riset yang sudah dilakukan (bukan sekadar tren).
  4. Pilih Jenis Order: Tentukan Market Order untuk eksekusi cepat di harga pasar, atau Limit Order jika ingin membeli di level harga tertentu.
  5. Masukkan Nominal Pembelian: Modal beli koin crypto di Pluang bisa dimulai dari nominal kecil, sehingga pemula bisa belajar mekanisme pasar terlebih dahulu sebelum menempatkan dana yang lebih besar. Pendekatan bertahap ini membantu mengukur toleransi risiko sebelum menambah alokasi.
  6. Konfirmasi Transaksi: Periksa kembali rincian order — koin, nominal, dan tipe order — sebelum konfirmasi. Koin akan masuk ke portofolio setelah order tereksekusi.
  7. Pantau dan Kelola Portofolio: Manfaatkan fitur Screeners dan grafik Web Trading untuk memantau pergerakan harga dan meninjau ulang alokasi portofolio secara berkala.

Risiko Beli Koin Crypto yang Wajib Diketahui

Membeli koin di luar Bitcoin dan Ethereum membawa profil risiko yang lebih tinggi. Beberapa risiko utama yang perlu dipahami sebelum bertransaksi:

  • Volatilitas ekstrem: Altcoin kapitalisasi kecil bisa naik atau turun puluhan persen dalam hitungan jam akibat sentimen pasar yang tipis likuiditasnya.
  • Risiko proyek gagal: Tidak semua proyek crypto bertahan; sebagian bisa kehilangan nilai signifikan jika pengembangan terhenti atau adopsi tidak tercapai.
  • Risiko likuiditas: Koin dengan volume trading rendah sulit dijual cepat tanpa memengaruhi harga secara signifikan (slippage).
  • Risiko keamanan: Ancaman phishing, aplikasi tiruan, dan permintaan OTP palsu tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai setiap transaksi.
  • Risiko regulasi: Kebijakan terkait aset crypto di Indonesia dapat berubah seiring waktu dan memengaruhi akses atau perlakuan pajak.
  • Risiko emosional (FOMO dan panic selling): Pergerakan harga yang cepat sering memicu keputusan impulsif — membeli saat harga sudah tinggi karena takut ketinggalan, atau menjual saat harga turun karena panik.

Dengan risiko-risiko ini, alokasi dana untuk altcoin sebaiknya proporsional terhadap total portofolio dan profil risiko masing-masing investor. Sebagai prinsip umum, semakin kecil kapitalisasi pasar sebuah koin, semakin besar pula porsi risiko yang perlu diperhitungkan, dan semakin kecil pula porsi dana yang idealnya dialokasikan ke koin tersebut dibanding koin blue-chip.

Strategi Aman Beli Koin Crypto untuk Pemula

Beberapa pendekatan berikut dapat membantu pemula mengurangi risiko saat mulai membeli koin crypto:

  • Dollar Cost Averaging (DCA): Membeli koin secara rutin dengan nominal tetap, tanpa mencoba menebak waktu terbaik pasar, sehingga harga beli lebih merata dari waktu ke waktu.
  • Diversifikasi Portofolio: Sebar dana ke beberapa koin dan kelas aset lain, alih-alih menempatkan seluruh dana pada satu altcoin. Pelajari lebih lanjut soal diversifikasi portofolio.
  • Manfaatkan Auto Invest: Fitur Auto Invest / Recurring memungkinkan pembelian otomatis berkala tanpa harus memantau pasar setiap saat.
  • Riset Mandiri (DYOR): Baca whitepaper proyek, pahami tokenomics, dan hindari keputusan beli hanya karena ikut-ikutan tren di media sosial.
  • Gunakan Uang Dingin: Alokasikan dana yang memang siap ditempatkan pada aset berisiko tinggi, bukan dana kebutuhan pokok.
  • Tentukan Batas Alokasi Sejak Awal: Tetapkan persentase maksimal portofolio yang dialokasikan ke altcoin kapitalisasi kecil, lalu disiplin mengikuti batas tersebut meski harga sedang naik tajam.

Kombinasi strategi ini tidak menghilangkan risiko sepenuhnya, tetapi membantu investor pemula membangun kebiasaan berinvestasi yang lebih terukur dan tidak reaktif terhadap fluktuasi harga jangka pendek.

Pajak dan Regulasi Koin Crypto di Indonesia

Aset crypto di Indonesia kini berada di bawah pengawasan OJK, menggantikan pengawasan Bappebti sebelumnya. Perubahan ini bertujuan meningkatkan kepastian hukum, tata kelola, dan perlindungan konsumen bagi pengguna. Dari sisi perpajakan, transaksi beli koin crypto tidak dikenakan pajak, sementara transaksi jual dikenakan PPh Pasal 22 final sesuai ketentuan Peraturan Menteri Keuangan yang berlaku. Kewajiban pelaporan tetap berada pada pengguna, sehingga penting untuk menyimpan bukti setiap transaksi.

Di Pluang, aset crypto difasilitasi oleh PT Bumi Santosa Cemerlang selaku Pedagang Aset Keuangan Digital yang berizin dan diawasi OJK, dengan transaksi dijalankan melalui bursa JFX dan dikliring oleh KKI. Struktur ini memastikan setiap transaksi tercatat pada infrastruktur pasar yang diawasi secara resmi, memberikan lapisan kepastian hukum tambahan dibanding bertransaksi di platform yang tidak berizin resmi di Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Berapa modal minimal untuk beli koin crypto?

Modal minimal untuk beli koin crypto di aplikasi seperti Pluang umumnya sangat terjangkau, sehingga pemula dapat memulai dengan nominal kecil sebelum menambah alokasi secara bertahap sambil mempelajari mekanisme pasar.

Apa koin crypto yang cocok untuk pemula?

Pemula umumnya disarankan memulai dari koin blue-chip dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, seperti Ethereum atau Solana, sebelum mempertimbangkan altcoin kapitalisasi lebih kecil yang risikonya lebih tinggi dan pergerakan harganya lebih sulit diprediksi.

Apakah beli koin crypto aman secara hukum di Indonesia?

Membeli koin crypto aman secara hukum selama dilakukan melalui platform yang berizin dan diawasi OJK. Selalu pastikan aplikasi yang digunakan memiliki izin Pedagang Aset Keuangan Digital yang resmi.

Apa beda Market Order dan Limit Order saat beli koin?

Market Order mengeksekusi pembelian langsung di harga pasar saat itu untuk kecepatan, sedangkan Limit Order menunggu hingga harga yang ditentukan tercapai sebelum order dieksekusi.

Berapa pajak yang dikenakan saat membeli koin crypto?

Transaksi beli koin crypto tidak dikenakan pajak. Pajak baru berlaku saat transaksi jual, berupa PPh Pasal 22 final sesuai ketentuan yang berlaku saat ini.

Apakah bisa beli koin crypto dengan modal kecil dan menambah bertahap?

Bisa. Strategi Dollar Cost Averaging memungkinkan pembelian rutin dengan nominal kecil secara bertahap, sehingga risiko salah waktu beli di harga puncak dapat diminimalkan.

Bagaimana cara menyimpan koin crypto yang sudah dibeli?

Koin dapat disimpan di kustodian aplikasi yang menerapkan standar keamanan seperti ISO/IEC 27001, atau dipindahkan ke wallet non-kustodial pribadi bagi pengguna yang memahami pengelolaan seed phrase secara mandiri. Kedua pendekatan memiliki trade-off antara kemudahan dan kendali penuh atas aset.

Apa risiko terbesar membeli koin crypto altcoin dibanding Bitcoin?

Risiko terbesar altcoin adalah volatilitas dan likuiditas yang jauh lebih rendah dibanding Bitcoin, sehingga pergerakan harga bisa lebih ekstrem dan lebih sulit dijual cepat tanpa memengaruhi harga pasar, terutama pada altcoin dengan kapitalisasi pasar kecil.

Kapan waktu terbaik untuk beli koin crypto?

Tidak ada waktu yang pasti terbaik untuk membeli koin crypto karena harga bergerak 24 jam mengikuti sentimen pasar. Banyak investor memilih strategi DCA untuk mengurangi risiko menebak waktu pasar (market timing).

Kesimpulan

Beli koin crypto di luar Bitcoin membuka peluang diversifikasi, tetapi menuntut riset yang lebih mendalam karena tingkat risiko dan volatilitas yang bervariasi antar koin. Mulai dari memahami kriteria pemilihan koin, memilih platform yang diawasi OJK, hingga menerapkan strategi DCA dan diversifikasi, setiap langkah membantu meminimalkan risiko sekaligus membangun portofolio yang lebih matang. Selain crypto, Pluang menawarkan beragam produk lain dalam satu aplikasi, mulai dari saham AS, saham Indonesia, emas digital, hingga reksa dana, lengkap dengan fitur riset dan edukasi yang membantu pengguna membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi.

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1