
Jawaban Singkat
M2 supply adalah ukuran jumlah uang beredar dalam perekonomian, mencakup uang tunai, simpanan, dan aset likuid lain, yang lazim dijadikan salah satu indikator kondisi likuiditas global saat digabungkan dari beberapa ekonomi besar seperti Amerika Serikat, Jepang, China, dan kawasan Eropa. Ketika M2 global meningkat, likuiditas di sistem keuangan berpotensi ikut meningkat, sehingga membuka ruang bagi sebagian dana untuk dialokasikan ke berbagai kelas aset, termasuk aset berisiko seperti saham dan crypto.
M2 supply bisa dilihat sebagai salah satu sumber “bahan bakar” likuiditas, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga Bitcoin.
Sejumlah analis pasar crypto membandingkan pergerakan M2 global dengan harga Bitcoin menggunakan jeda waktu (offset) tertentu, dengan estimasi yang bervariasi antar-analis mulai dari sekitar 78 hingga lebih dari 100 hari. CryptoSlate (23 April 2025) mencatat bahwa lag sekitar 90 hari sempat menunjukkan korelasi kuat pada periode tertentu, tetapi korelasi bergulir (rolling correlation) antara M2 dan Bitcoin sejak 2021 justru berayun ekstrem dari +0,95 hingga -0,90 — menandakan hubungan ini jauh dari konsisten.
Menurut analisis yang sama, “Bitcoin tidak selalu mengikuti M2 global yang di-lag, tapi ketika mengikuti, pergerakannya bisa sangat besar” — sementara faktor lain seperti arus dana ETF, siklus halving, kebijakan regulasi, dan leverage washout bisa mengaburkan sinyal ini kapan saja (CryptoSlate, 23 April 2025). Data historis semacam ini bersifat informatif, bukan alat prediksi yang pasti.
Kombinasi keduanya. Dalam jangka panjang, butuh waktu bagi tambahan likuiditas untuk berputar di sistem keuangan sebelum berdampak ke aset berisiko — sebagaimana terlihat pada periode pascapandemi ketika kebijakan moneter longgar diikuti rally di berbagai aset, termasuk Bitcoin. Namun dalam jangka pendek, sentimen pasar tetap berperan besar: investor bereaksi terhadap berita, kebijakan bank sentral, inflasi, keputusan suku bunga The Fed, dan ekspektasi ekonomi secara keseluruhan.
Peningkatan likuiditas tidak berarti seluruh dana langsung masuk ke Bitcoin. Prosesnya lebih menyerupai rotasi modal bertahap:
M2 yang meningkat menunjukkan sistem keuangan sedang mengalami ekspansi likuiditas, tetapi belum tentu langsung membuat investor bersedia mengalihkan dana ke aset berisiko. Salah satu pemicu tambahan yang kerap dibahas adalah kebijakan suku bunga The Fed yang lebih dovish. Saat suku bunga turun, biaya modal (cost of capital) ikut turun, sehingga sebagian investor mulai mencari aset dengan potensi return lebih tinggi — termasuk Bitcoin.
Selain kondisi likuiditas, meningkatnya partisipasi institusi melalui ETF Bitcoin turut memperkuat sisi permintaan. ETF memberi akses yang lebih sederhana bagi institusi keuangan untuk mendapatkan eksposur ke Bitcoin, tanpa harus mengelola aset crypto secara langsung. Total arus masuk bersih (net inflow) ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat tercatat mencapai sekitar US$55,6 miliar sejak diluncurkan pada 11 Januari 2024 (TFTC.io, 4 September 2026). Semakin besar dan konsisten arus masuk ini, semakin besar pula potensi permintaan tambahan terhadap Bitcoin dari sisi institusi.
Proyeksi harga Bitcoin ke depan sangat bervariasi antar-lembaga dan tidak bisa dijadikan kepastian. Sebagai contoh, Standard Chartered sempat memproyeksikan Bitcoin bisa mencapai US$300.000 pada 2026, sebelum merevisi turun proyeksinya menjadi US$150.000 pada Desember 2025 — dengan alasan laju kenaikan diperkirakan lebih lambat dari perkiraan awal karena permintaan makin bergantung pada arus beli ETF, bukan lagi ekspansi pembelian oleh treasury korporasi (CryptoSlate, 23 Januari 2026). Rentang prediksi analis untuk 2026 sendiri terentang lebar, dari sekitar US$75.000 hingga US$250.000, yang menunjukkan bahwa bahkan lembaga keuangan besar pun tidak selalu sepakat soal arah Bitcoin ke depan.
Data dan proyeksi di atas bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk bertransaksi. Pergerakan Bitcoin tetap bisa berubah dengan cepat akibat peristiwa tak terduga (black swan) yang mengubah sentimen pasar.
Menjadikan korelasi M2-Bitcoin sebagai satu-satunya dasar keputusan investasi punya risiko tersendiri:
Bitcoin mencatatkan rekor tertinggi di level US$123.000 pada 14 Juli 2025, tak lama sebelum pekan kebijakan crypto ("Crypto Week") di Washington D.C. (Forbes, 14 Juli 2025).
Estimasinya bervariasi antar-analis, umumnya berkisar 78 hingga lebih dari 100 hari, dengan salah satu kajian menyoroti lag sekitar 90 hari (CryptoSlate, 23 April 2025). Angka ini adalah hubungan historis, bukan aturan pasti.
Tidak sepenuhnya. Korelasi bergulir antara M2 global dan Bitcoin sejak 2021 tercatat sangat fluktuatif, dari +0,95 hingga -0,90, sehingga hubungan ini lebih tepat dibaca sebagai konteks historis dibanding alat prediksi yang presisi (CryptoSlate, 23 April 2025).
Total arus masuk bersih ETF Bitcoin spot di AS mencapai sekitar US$55,6 miliar sejak diluncurkan pada 11 Januari 2024 hingga awal September 2026 (TFTC.io, 4 September 2026).
Kenaikan Bitcoin ke level US$123.000 pada Juli 2025 tidak bisa dijelaskan oleh satu faktor tunggal. M2 supply dan likuiditas global memberi konteks makro yang mendukung, tetapi butuh pemicu tambahan — mulai dari kebijakan suku bunga, arus dana ETF, hingga sentimen pasar — agar likuiditas tersebut benar-benar mengalir ke Bitcoin. Proyeksi harga ke depan, termasuk angka-angka seperti US$150.000, tetap merupakan pandangan lembaga tertentu yang bisa berubah sewaktu-waktu, bukan kepastian arah harga.
Disclaimer Produk Aset Crypto:
Pluang sebagai Pedagang Aset Keuangan Digital berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh transaksi tercatat di Central Finansial X (CFX) dan Kliring Komoditi Indonesia (KKI).
Investasi aset crypto seperti Bitcoin mengandung risiko tinggi, termasuk volatilitas harga yang signifikan dan potensi kehilangan sebagian atau seluruh modal. Kinerja atau data historis, termasuk korelasi dengan indikator makro seperti M2 supply, tidak mencerminkan atau menjamin kinerja di masa depan.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Segala keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca setelah melakukan riset secara mandiri.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


