
BI-Rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia dalam RDG bulanan untuk mengarahkan suku bunga pasar uang, termasuk suku bunga simpanan dan pinjaman perbankan, sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi. Saat BI-Rate naik, biaya dana bank cenderung ikut naik, yang pada akhirnya tercermin pada suku bunga kredit — termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) — meski dengan jeda waktu tertentu.
BI-Rate naik dua kali pada 2026: masing-masing 50 basis poin pada RDG Mei dan Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%, sebagai respons atas tekanan rupiah yang sempat melemah melewati Rp18.000 per dolar AS di tengah gejolak global. Setelah itu, BI menahan suku bunga selama tiga RDG berturut-turut — Juli, Agustus, dan (berdasarkan data per artikel ini ditulis) menjelang RDG September — sembari menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5%±1% untuk 2026–2027. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88% year-on-year, masih dalam rentang target (sumber: Bank Indonesia).
Per awal September 2026, sejumlah bank menawarkan bunga KPR promo periode tetap (fixed) yang jauh lebih rendah dari suku bunga floating pasca-periode promo. Data-data ini bersifat penawaran per bank dan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga nasabah tetap perlu mengecek langsung ke bank terkait.
| Bank | Bunga Fixed Promo | Periode Fixed |
|---|---|---|
| BTN | 2,65% | Promo, 6 kota besar |
| Mandiri | 3,88% | 3 tahun |
| BCA | 4,05% | 3 tahun |
| Danamon | 4,75% | 3 tahun |
| BNI | 6,89% | Per tahun |
Setelah periode fixed berakhir, sebagian besar bank mengenakan bunga floating pada kisaran 11%–14% — jauh lebih tinggi dari bunga promo di awal masa kredit (sumber: Industry.co.id, data 8 September 2026). Bunga floating inilah yang secara langsung terpengaruh pergerakan BI-Rate, karena bank biasanya menyesuaikannya mengikuti tren suku bunga acuan.
Dampak kenaikan BI-Rate terhadap penyaluran KPR baru umumnya tidak instan. Menurut analisis Rumah123, efek kenaikan BI-Rate pada permintaan dan penyaluran KPR baru diperkirakan baru terasa nyata di pasar sekitar satu kuartal setelah kebijakan diambil — karena proses pengajuan, appraisal, dan pencairan KPR membutuhkan waktu, dan bank juga tidak selalu langsung menyesuaikan bunga floating begitu BI-Rate berubah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan penyaluran KPR melambat ke level single digit 4,79% year-on-year pada Maret 2026, jauh di bawah pertumbuhan Maret 2025 yang mencapai 16,31% year-on-year. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut perlambatan ini mencerminkan sikap kehati-hatian perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan proses underwriting yang lebih selektif — terutama pada segmen rumah tipe kecil (tipe 21) yang cukup terdampak tekanan daya beli. Meski penyalurannya melambat, tingkat kredit macet (NPL) KPR relatif terjaga di level 3,14% pada Maret 2026, yang oleh OJK dinilai masih dalam batas wajar.
Di sisi lain, kredit perbankan secara keseluruhan justru tumbuh lebih cepat: 13,58% year-on-year pada Juli 2026, naik dari 12,67% pada Juni 2026, didorong kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang telah menyalurkan insentif senilai Rp446,5 triliun hingga awal Agustus 2026 (sumber: Bank Indonesia).
Selain kredit, BI-Rate juga menjadi acuan bagi suku bunga simpanan seperti deposito. Suku bunga Deposit Facility yang saat ini berada di 4,75% mencerminkan batas bawah suku bunga pasar uang antarbank, yang biasanya turut memengaruhi penawaran bunga deposito perbankan kepada nasabah. Saat BI-Rate bertahan tinggi seperti sekarang, bank umumnya memiliki ruang menawarkan bunga deposito atau produk simpanan berjangka yang lebih kompetitif dibanding periode suku bunga rendah, meski besaran pastinya tetap ditentukan masing-masing bank berdasarkan kebutuhan likuiditasnya.
Bagi calon debitur KPR, suku bunga acuan yang bertahan tinggi berarti cicilan floating berpotensi tetap berada di kisaran atas, sehingga penting mempertimbangkan kemampuan bayar jangka panjang, bukan hanya bunga promo di tahun pertama. Bagi investor, periode suku bunga tinggi seperti ini secara historis membuat instrumen berbasis bunga — seperti deposito dan reksa dana pasar uang — relatif lebih diminati dibanding kredit konsumsi jangka panjang. Pluang menyediakan akses ke sejumlah instrumen investasi, termasuk emas dan reksa dana, yang dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio di tengah dinamika suku bunga acuan. Ini bukan rekomendasi untuk bertransaksi pada instrumen tertentu — keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Berdasarkan RDG 18–19 Agustus 2026, BI-Rate berada di 5,75%, dengan Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50% (sumber: Bank Indonesia). Level ini bertahan sejak kenaikan terakhir pada RDG Juni 2026. RDG berikutnya dijadwalkan berlangsung 22–23 September 2026, dan hasilnya akan memperbarui data suku bunga acuan ini.
Tidak selalu instan. Bunga KPR fixed di awal periode biasanya tidak berubah, tetapi bunga floating pasca-periode fixed (umumnya 11%–14%) cenderung menyesuaikan tren BI-Rate. Menurut analisis Rumah123, dampaknya ke penyaluran KPR baru di pasar umumnya baru terasa nyata sekitar satu kuartal setelah kebijakan suku bunga diambil.
OJK mencatat pertumbuhan KPR melambat ke level single digit 4,79% year-on-year pada Maret 2026, jauh di bawah 16,31% pada Maret 2025. OJK menyebut ini mencerminkan kehati-hatian bank dalam proses underwriting di tengah ketidakpastian global, bukan penurunan kualitas kredit — NPL KPR justru tetap terjaga stabil di 3,14% pada periode yang sama.
Bandingkan tidak hanya bunga fixed promo di tahun-tahun awal — yang di sejumlah bank bisa serendah 1,75%–6,89% — tetapi juga besaran bunga floating setelah periode fixed berakhir, yang umumnya berada di kisaran 11%–14% dan secara langsung terpengaruh pergerakan BI-Rate dalam jangka panjang.
BI-Rate yang bertahan di 5,75% sejak Juni 2026 memberi dampak berlapis: menahan laju penyaluran KPR baru ke level single digit, mempertahankan bunga floating KPR pada kisaran 11%–14%, sekaligus mendorong minat pada instrumen berbasis bunga seperti deposito dan reksa dana. Karena efeknya ke pasar kredit baru terasa nyata beberapa bulan kemudian, calon debitur dan investor sama-sama perlu memantau tren suku bunga acuan secara berkala. Cek sekarang pilihan instrumen investasi di Pluang untuk melengkapi strategi keuanganmu.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Investasi mengandung risiko, termasuk risiko kehilangan modal. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan investasi.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


