
DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, perusahaan investasi Grup Sinar Mas di sektor energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 10 Desember 2009 (IDNFinancials, 22 September 2026). Induk usahanya bergerak di pembangkitan listrik dan uap melalui empat pembangkit captive (memasok kebutuhan listrik kawasan industri) berkapasitas total 300 MW di Pulau Jawa, sedangkan anak usahanya menjalankan pertambangan batu bara dan emas, teknologi, serta perdagangan pupuk dan bahan kimia.
Pada praktiknya DSSA masih merupakan saham batu bara: segmen ini menyumbang US$1,53 miliar dari total pendapatan US$1,77 miliar pada semester I 2026, atau sekitar 86% (Databoks/Katadata, 1 Oktober 2026). Entitas utamanya adalah Golden Energy Mines (GEMS, 51%) untuk batu bara, MoraRepublic (51%) untuk fiber, dan SM+ Data Centers untuk pusat data.
Pemegang saham pengendali DSSA adalah PT Sinar Mas Tunggal, entitas Grup Sinar Mas, dengan kepemilikan 59,9% per 31 Juli 2026 (Katadata, 4 Agustus 2026). Pada tanggal yang sama, saham treasuri milik perusahaan mencapai 19,68%, diikuti UOB Kay Hian Pte Ltd (3,76%), Fitzgerald & Wilkinson Investments Ltd (3,45%), dan Citibank Hong Kong S/A PBG Clients HK (2,97%), dengan sisanya dipegang publik.
Saham treasuri adalah saham hasil pembelian kembali (buyback) yang disimpan perusahaan. RUPSLB 10 September 2026 menyetujui pengurangan modal melalui penarikan kembali saham treasuri (Liputan6, 12 September 2026).
DSSA berencana membeli kembali sahamnya senilai maksimal Rp1 triliun selama 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027, dengan kas internal sebagai sumber dana (Keterbukaan Informasi BEI, 19 Oktober 2026). Rinciannya:
| Komponen | Rencana DSSA (data per 19 Oktober 2026) |
|---|---|
| Nilai maksimal | Rp1 triliun |
| Periode | 19 Oktober 2026 – 18 Januari 2027 |
| Pendanaan | Kas internal perusahaan |
| Metode | Bertahap atau sekaligus, melalui BEI maupun di luar BEI |
| Tujuan | Meningkatkan nilai bagi pemegang saham dan menjaga kepercayaan publik |
| Estimasi biaya transaksi | Sekitar 0,20% dari nilai saham yang dibeli kembali |
| Dampak keuangan menurut manajemen | Tidak berpengaruh negatif terhadap kinerja, pendapatan, dan pembiayaan perseroan |
Buyback mengalihkan kas menjadi saham treasuri, sehingga jumlah saham beredar berkurang dan, menurut manajemen, laba per saham (EPS) berpotensi meningkat. Secara umum, buyback berpotensi menambah permintaan dan menahan tekanan jual, tetapi dampaknya bergantung pada realisasi pembelian. Sebagai gambaran skala, Rp1 triliun setara sekitar 0,7% dari kapitalisasi pasar DSSA Rp146,4 triliun pada 23 Oktober 2026 (perhitungan sederhana dari data IDNFinancials).
Reaksi di hari pengumuman menunjukkan buyback bukan penahan otomatis: pada 19 Oktober 2026, saham DSSA tetap turun 6,93% hingga menyentuh auto rejection bawah (ARB) (EmitenNews, 19 Oktober 2026). Bedanya dengan dividen, baca buyback vs dividen.
Pada 16 Oktober 2026, OJK mengumumkan sanksi administratif berupa denda Rp1,5 triliun terkait pelanggaran dalam perdagangan saham DSSA (Bisnis.com, 16 Oktober 2026). Manajemen DSSA menyatakan sanksi itu tidak berdampak material terhadap kondisi keuangan dan operasional, serta berkomitmen bersikap kooperatif (Bisnis.com, 19 Oktober 2026). Pada 19 Oktober 2026, IHSG turun 5,26% ke 4.912,25 (pukul 09.37 WIB) setelah MSCI membuka konsultasi reklasifikasi pasar saham Indonesia (Bisnis.com, 19 Oktober 2026).
Batu bara masih menyumbang sekitar 86% pendapatan DSSA pada semester I 2026, tetapi sebagian arus kasnya dialokasikan ke empat lapisan bisnis baru:
| Metrik | Nilai |
|---|---|
| Harga penutupan 22 Oktober 2026 (Rp/lembar) | Rp730 |
| Nilai 1 lot (100 lembar) | Rp73.000 |
| Harga penutupan 16 Oktober 2026 (Rp/lembar) | Rp715 (turun 14,8% hari itu; turun 36,7% pada 12-16 Oktober 2026) |
| Kapitalisasi pasar pada harga Rp760 (23 Oktober 2026, 14.31 WIB) | ~Rp146,4 triliun |
Sumber: IDNFinancials (23 Oktober 2026); Topik.id (penutupan 16 Oktober 2026). Kapitalisasi pasar dapat berbeda antarpenyedia data, tergantung perlakuan saham treasuri.
| Metrik (Semester I 2026) | Nilai |
|---|---|
| Pendapatan | US$1,77 miliar (naik sekitar 34% YoY) |
| Laba kotor | US$641,23 juta |
| Laba usaha | US$327,96 juta |
| Laba bersih (pemilik entitas induk) | US$174,4 juta (naik sekitar 79% YoY) |
| Arus kas operasi | US$261,50 juta |
Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data: 1 Januari-30 Juni 2026 (Akurat, 30 September 2026; Databoks/Katadata, 1 Oktober 2026). Karena mayoritas pendapatan bersumber dari emiten batu bara GEMS, kinerja grup tetap sensitif terhadap harga batu bara acuan.
Perkembangan yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar, tanpa memastikan arah harga:
Di sisi risiko:
Saham DSSA dapat dibeli di aplikasi Pluang melalui menu Saham Indonesia, dengan minimum pembelian 1 lot (100 lembar). Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Modal minimum untuk membeli saham DSSA adalah 1 lot atau 100 lembar, setara Rp73.000 berdasarkan harga penutupan 22 Oktober 2026, ditambah biaya beli 0,15% sehingga totalnya sekitar Rp73.110.
| Komponen | Nilai (Rp) | Keterangan |
|---|---|---|
| Harga per lembar | 730 | Harga penutupan 22 Oktober 2026 (IDNFinancials) |
| Nilai 1 lot (100 lembar) | 73.000 | 100 lembar × Rp730 |
| Biaya beli di Pluang (0,15%) | 110 | Termasuk levy BEI/KSEI 0,03%, biaya KPEI 0,01%, trading fee Pluang 0,0961261%, dan PPN 11% atas levy serta trading fee; dibulatkan |
| Estimasi total dana beli 1 lot | 73.110 | Rp73.000 + Rp110 |
| Biaya jual di Pluang (0,25%) | 183 | Komponen biaya beli ditambah PPh Final 0,1% atas nilai jual; ilustrasi pada harga Rp730 |
Tarif sesuai halaman biaya trading Saham Indonesia di Pluang, diakses 23 Oktober 2026. Harga saham berubah setiap hari perdagangan, sehingga nilai 1 lot juga ikut berubah.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.
Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.
Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Investasi saham mengandung risiko, termasuk potensi kerugian atas modal yang diinvestasikan. Pelajari lebih lanjut mengenai produk Saham Indonesia di Pluang sebelum mengambil keputusan.
DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, emiten Grup Sinar Mas di sektor energi yang tercatat di BEI sejak 10 Desember 2009. Bisnis inti DSSA masih batu bara melalui GEMS, yang menyumbang sekitar 86% pendapatan semester I 2026, dengan diversifikasi ke energi terbarukan dan infrastruktur digital.
Pemegang saham pengendali DSSA adalah PT Sinar Mas Tunggal dengan kepemilikan 59,9% per 31 Juli 2026, diikuti saham treasuri perusahaan 19,68%, UOB Kay Hian Pte Ltd 3,76%, dan Fitzgerald & Wilkinson Investments Ltd 3,45% (Katadata, 4 Agustus 2026). Sisanya dipegang publik.
Dengan harga penutupan Rp730 per lembar pada 22 Oktober 2026, 1 lot saham DSSA (100 lembar) setara Rp73.000, atau sekitar Rp73.110 setelah biaya beli 0,15% di Pluang. Harga saham berubah setiap hari perdagangan, sehingga nilai 1 lot juga ikut berubah.
Buyback saham DSSA adalah rencana pembelian kembali saham senilai maksimal Rp1 triliun pada 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027, dibiayai kas internal. Pembelian dapat dilakukan bertahap atau sekaligus, melalui BEI maupun di luar BEI (Keterbukaan Informasi BEI, 19 Oktober 2026).
Ya. Segmen batu bara menyumbang sekitar 86% pendapatan DSSA pada semester I 2026, sehingga kinerjanya sensitif terhadap harga batu bara. Harga saham juga bergejolak: turun 36,7% pada 12-16 Oktober 2026, selain adanya risiko regulasi, eksekusi proyek, dan pasar saham secara umum.
DSSA bertransformasi dari emiten yang identik dengan batu bara menjadi grup usaha dengan portofolio lebih terdiversifikasi, dan kini menjalankan rencana buyback hingga Rp1 triliun. Meski begitu, pendapatannya masih bertumpu pada batu bara dan saham DSSA sedang berada di tengah sorotan regulator serta pasar yang bergejolak.
| Tanggal | Perubahan |
|---|---|
| 7 Juli 2026 | Artikel dipublikasikan. |
| 23 Oktober 2026 | H2 buyback Rp1 triliun ditambahkan; harga, 1 lot, kinerja semester I 2026, sanksi OJK, konsultasi MSCI, dan FAQ diperbarui. |
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.
Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.


