BiayaKeamanan
Pluang+
ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Berita & Analisis
DSSA Saham Apa? Profil, Pemilik, Buyback & Harga 1 Lot
shareIcon

DSSA Saham Apa? Profil, Pemilik, Buyback & Harga 1 Lot

7 Jul 2026, 11:16 AM
·
Waktu baca: 7 menit
shareIcon
Transformasi bisnis DSSA ke infrastruktur AI - Saham DSSA Adalah Analisis Ekosistem AI Indonesia
Diperbarui 23 Oktober 2026. DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, emiten Grup Sinar Mas dengan bisnis inti batu bara serta portofolio energi terbarukan dan infrastruktur digital. Per penutupan 22 Oktober 2026, harga saham DSSA Rp730 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) setara Rp73.000 di luar biaya transaksi (IDNFinancials, 23 Oktober 2026). Pada 19 Oktober 2026, DSSA juga mengumumkan rencana buyback saham hingga Rp1 triliun. Di Pluang, kamu dapat mengakses Saham Indonesia melalui PT Pluang Maju Sekuritas, Perusahaan Efek yang berizin dan diawasi OJK.Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Seluruh data dan analisis mengenai DSSA disajikan hanya untuk tujuan identifikasi dan edukasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kamu setelah mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.Jawaban singkatnya:Per 22 Oktober 2026, 1 lot DSSA senilai Rp73.000 (harga Rp730 per lembar).DSSA merencanakan buyback maksimal Rp1 triliun pada 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027.Bisnis inti masih batu bara (sekitar 86% pendapatan semester I 2026), dengan perluasan ke energi terbarukan dan infrastruktur digital.

DSSA Saham Apa dan Perusahaan Apa?

DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, perusahaan investasi Grup Sinar Mas di sektor energi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 10 Desember 2009 (IDNFinancials, 22 September 2026). Induk usahanya bergerak di pembangkitan listrik dan uap melalui empat pembangkit captive (memasok kebutuhan listrik kawasan industri) berkapasitas total 300 MW di Pulau Jawa, sedangkan anak usahanya menjalankan pertambangan batu bara dan emas, teknologi, serta perdagangan pupuk dan bahan kimia.

Pada praktiknya DSSA masih merupakan saham batu bara: segmen ini menyumbang US$1,53 miliar dari total pendapatan US$1,77 miliar pada semester I 2026, atau sekitar 86% (Databoks/Katadata, 1 Oktober 2026). Entitas utamanya adalah Golden Energy Mines (GEMS, 51%) untuk batu bara, MoraRepublic (51%) untuk fiber, dan SM+ Data Centers untuk pusat data.

Siapa Pemilik Saham DSSA?

Pemegang saham pengendali DSSA adalah PT Sinar Mas Tunggal, entitas Grup Sinar Mas, dengan kepemilikan 59,9% per 31 Juli 2026 (Katadata, 4 Agustus 2026). Pada tanggal yang sama, saham treasuri milik perusahaan mencapai 19,68%, diikuti UOB Kay Hian Pte Ltd (3,76%), Fitzgerald & Wilkinson Investments Ltd (3,45%), dan Citibank Hong Kong S/A PBG Clients HK (2,97%), dengan sisanya dipegang publik.

Saham treasuri adalah saham hasil pembelian kembali (buyback) yang disimpan perusahaan. RUPSLB 10 September 2026 menyetujui pengurangan modal melalui penarikan kembali saham treasuri (Liputan6, 12 September 2026).

Bagaimana Rencana Buyback Saham DSSA Rp1 Triliun?

DSSA berencana membeli kembali sahamnya senilai maksimal Rp1 triliun selama 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027, dengan kas internal sebagai sumber dana (Keterbukaan Informasi BEI, 19 Oktober 2026). Rinciannya:

KomponenRencana DSSA (data per 19 Oktober 2026)
Nilai maksimalRp1 triliun
Periode19 Oktober 2026 – 18 Januari 2027
PendanaanKas internal perusahaan
MetodeBertahap atau sekaligus, melalui BEI maupun di luar BEI
TujuanMeningkatkan nilai bagi pemegang saham dan menjaga kepercayaan publik
Estimasi biaya transaksiSekitar 0,20% dari nilai saham yang dibeli kembali
Dampak keuangan menurut manajemenTidak berpengaruh negatif terhadap kinerja, pendapatan, dan pembiayaan perseroan

Apa Dampak Buyback DSSA terhadap Harga Saham?

Buyback mengalihkan kas menjadi saham treasuri, sehingga jumlah saham beredar berkurang dan, menurut manajemen, laba per saham (EPS) berpotensi meningkat. Secara umum, buyback berpotensi menambah permintaan dan menahan tekanan jual, tetapi dampaknya bergantung pada realisasi pembelian. Sebagai gambaran skala, Rp1 triliun setara sekitar 0,7% dari kapitalisasi pasar DSSA Rp146,4 triliun pada 23 Oktober 2026 (perhitungan sederhana dari data IDNFinancials).

Reaksi di hari pengumuman menunjukkan buyback bukan penahan otomatis: pada 19 Oktober 2026, saham DSSA tetap turun 6,93% hingga menyentuh auto rejection bawah (ARB) (EmitenNews, 19 Oktober 2026). Bedanya dengan dividen, baca buyback vs dividen.

Apa Kaitan Buyback dengan Sanksi OJK dan Tekanan Pasar?

Pada 16 Oktober 2026, OJK mengumumkan sanksi administratif berupa denda Rp1,5 triliun terkait pelanggaran dalam perdagangan saham DSSA (Bisnis.com, 16 Oktober 2026). Manajemen DSSA menyatakan sanksi itu tidak berdampak material terhadap kondisi keuangan dan operasional, serta berkomitmen bersikap kooperatif (Bisnis.com, 19 Oktober 2026). Pada 19 Oktober 2026, IHSG turun 5,26% ke 4.912,25 (pukul 09.37 WIB) setelah MSCI membuka konsultasi reklasifikasi pasar saham Indonesia (Bisnis.com, 19 Oktober 2026).

Bagaimana Transformasi Bisnis DSSA dari Batu Bara ke Infrastruktur AI?

Batu bara masih menyumbang sekitar 86% pendapatan DSSA pada semester I 2026, tetapi sebagian arus kasnya dialokasikan ke empat lapisan bisnis baru:

  • Energi: tiga proyek panas bumi awal (Cipanas, Cisolok-Cisukarame, Nage) berpotensi 140 MW dengan target COD 2029 (dssa.co.id, 23 April 2025), serta rencana investasi Rp30-35 triliun untuk tujuh lokasi hingga 780 MW (Kumparan, 3 April 2026). Pabrik sel dan modul surya Kendal berkapasitas awal 1-2 GW per tahun.
  • Konektivitas: MoraRepublic menjangkau lebih dari 12,7 juta home pass dan 2,6 juta pelanggan ritel per 30 April 2026 (Bisnis.com, 16 Juni 2026). Di tingkat grup, XLSmart (EXCL) membukukan pendapatan semester I 2026 Rp24 triliun (naik 26%) dengan margin EBITDA 45,7% (Bisnis.com, 13 Agustus 2026).
  • Komputasi: jaringan pusat data SM+ berkapasitas sekitar 24 MW, dan SMX01 (Tier IV, CBD Jakarta, JV dengan LG Sinar Mas dan KIRA) ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026 dengan kapasitas IT awal 18 MW hingga 60 MW (dssa.co.id/w.media, 8 Mei 2026).
  • Data dan aplikasi: saham minoritas sekitar 20% di DANA (lebih dari 200 juta pengguna), yang memakai Azure OpenAI dan asisten agentic AI DIANA (Microsoft News Source Asia, 6 Maret 2026), serta di Vidio.

Bagaimana Data Saham dan Kinerja Keuangan DSSA Saat Ini?

MetrikNilai
Harga penutupan 22 Oktober 2026 (Rp/lembar)Rp730
Nilai 1 lot (100 lembar)Rp73.000
Harga penutupan 16 Oktober 2026 (Rp/lembar)Rp715 (turun 14,8% hari itu; turun 36,7% pada 12-16 Oktober 2026)
Kapitalisasi pasar pada harga Rp760 (23 Oktober 2026, 14.31 WIB)~Rp146,4 triliun

Sumber: IDNFinancials (23 Oktober 2026); Topik.id (penutupan 16 Oktober 2026). Kapitalisasi pasar dapat berbeda antarpenyedia data, tergantung perlakuan saham treasuri.

Metrik (Semester I 2026)Nilai
PendapatanUS$1,77 miliar (naik sekitar 34% YoY)
Laba kotorUS$641,23 juta
Laba usahaUS$327,96 juta
Laba bersih (pemilik entitas induk)US$174,4 juta (naik sekitar 79% YoY)
Arus kas operasiUS$261,50 juta

Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data: 1 Januari-30 Juni 2026 (Akurat, 30 September 2026; Databoks/Katadata, 1 Oktober 2026). Karena mayoritas pendapatan bersumber dari emiten batu bara GEMS, kinerja grup tetap sensitif terhadap harga batu bara acuan.

Apa Katalis dan Risiko Utama yang Perlu Diperhatikan pada Saham DSSA?

Perkembangan yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar, tanpa memastikan arah harga:

  • Realisasi buyback Rp1 triliun hingga 18 Januari 2027, yang dampaknya bergantung pada nilai yang benar-benar dibeli.
  • Operasional SMX01 (target kuartal IV 2026) dan COD panas bumi (target 2029).

Di sisi risiko:

  • Risiko regulasi pasar modal: denda OJK Rp1,5 triliun terkait perdagangan saham DSSA, serta konsultasi MSCI soal reklasifikasi pasar Indonesia ke standalone (masukan hingga 30 April 2027, keputusan selambat-lambatnya 30 Juni 2027; Bisnis.com, 19 Oktober 2026).
  • Volatilitas harga saham: DSSA turun 36,7% hanya dalam lima hari perdagangan pada 12-16 Oktober 2026 (Topik.id).
  • Volatilitas harga batu bara, karena kontribusinya sekitar 86% pendapatan semester I 2026.
  • Risiko eksekusi dan perizinan pada proyek joint venture (SMX01, Kendal, panas bumi).

Bagaimana Cara Membeli Saham DSSA di Pluang?

Saham DSSA dapat dibeli di aplikasi Pluang melalui menu Saham Indonesia, dengan minimum pembelian 1 lot (100 lembar). Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Langkah Membeli Saham DSSA di Aplikasi Pluang

  1. Buka aplikasi Pluang dan pilih menu Saham Indonesia.
  2. Cari kode saham DSSA, lalu gunakan fitur Screeners untuk membandingkan data fundamentalnya dengan emiten sejenis.
  3. Pantau pergerakan harga lewat Web Trading di Pluang sebelum bertransaksi, dan lakukan analisis fundamental kamu sendiri terlebih dahulu.

Berapa Modal Minimum untuk Membeli 1 Lot Saham DSSA?

Modal minimum untuk membeli saham DSSA adalah 1 lot atau 100 lembar, setara Rp73.000 berdasarkan harga penutupan 22 Oktober 2026, ditambah biaya beli 0,15% sehingga totalnya sekitar Rp73.110.

KomponenNilai (Rp)Keterangan
Harga per lembar730Harga penutupan 22 Oktober 2026 (IDNFinancials)
Nilai 1 lot (100 lembar)73.000100 lembar × Rp730
Biaya beli di Pluang (0,15%)110Termasuk levy BEI/KSEI 0,03%, biaya KPEI 0,01%, trading fee Pluang 0,0961261%, dan PPN 11% atas levy serta trading fee; dibulatkan
Estimasi total dana beli 1 lot73.110Rp73.000 + Rp110
Biaya jual di Pluang (0,25%)183Komponen biaya beli ditambah PPh Final 0,1% atas nilai jual; ilustrasi pada harga Rp730

Tarif sesuai halaman biaya trading Saham Indonesia di Pluang, diakses 23 Oktober 2026. Harga saham berubah setiap hari perdagangan, sehingga nilai 1 lot juga ikut berubah.

Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.

Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.

Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.

Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.

Investasi saham mengandung risiko, termasuk potensi kerugian atas modal yang diinvestasikan. Pelajari lebih lanjut mengenai produk Saham Indonesia di Pluang sebelum mengambil keputusan.

FAQ Seputar Saham DSSA

DSSA saham apa?

DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, emiten Grup Sinar Mas di sektor energi yang tercatat di BEI sejak 10 Desember 2009. Bisnis inti DSSA masih batu bara melalui GEMS, yang menyumbang sekitar 86% pendapatan semester I 2026, dengan diversifikasi ke energi terbarukan dan infrastruktur digital.

Siapa pemilik saham DSSA?

Pemegang saham pengendali DSSA adalah PT Sinar Mas Tunggal dengan kepemilikan 59,9% per 31 Juli 2026, diikuti saham treasuri perusahaan 19,68%, UOB Kay Hian Pte Ltd 3,76%, dan Fitzgerald & Wilkinson Investments Ltd 3,45% (Katadata, 4 Agustus 2026). Sisanya dipegang publik.

Berapa harga 1 lot saham DSSA?

Dengan harga penutupan Rp730 per lembar pada 22 Oktober 2026, 1 lot saham DSSA (100 lembar) setara Rp73.000, atau sekitar Rp73.110 setelah biaya beli 0,15% di Pluang. Harga saham berubah setiap hari perdagangan, sehingga nilai 1 lot juga ikut berubah.

Apa itu buyback saham DSSA Rp1 triliun?

Buyback saham DSSA adalah rencana pembelian kembali saham senilai maksimal Rp1 triliun pada 19 Oktober 2026 hingga 18 Januari 2027, dibiayai kas internal. Pembelian dapat dilakukan bertahap atau sekaligus, melalui BEI maupun di luar BEI (Keterbukaan Informasi BEI, 19 Oktober 2026).

Apakah saham DSSA berisiko?

Ya. Segmen batu bara menyumbang sekitar 86% pendapatan DSSA pada semester I 2026, sehingga kinerjanya sensitif terhadap harga batu bara. Harga saham juga bergejolak: turun 36,7% pada 12-16 Oktober 2026, selain adanya risiko regulasi, eksekusi proyek, dan pasar saham secara umum.

Kesimpulan

DSSA bertransformasi dari emiten yang identik dengan batu bara menjadi grup usaha dengan portofolio lebih terdiversifikasi, dan kini menjalankan rencana buyback hingga Rp1 triliun. Meski begitu, pendapatannya masih bertumpu pada batu bara dan saham DSSA sedang berada di tengah sorotan regulator serta pasar yang bergejolak.

Riwayat Pembaruan Artikel

TanggalPerubahan
7 Juli 2026Artikel dipublikasikan.
23 Oktober 2026H2 buyback Rp1 triliun ditambahkan; harga, 1 lot, kinerja semester I 2026, sanksi OJK, konsultasi MSCI, dan FAQ diperbarui.

Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor.

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Ditulis oleh
channel logo
Marcella Kusuma
Right baner
Bagikan artikel ini