
Diperbarui 23 September 2026. DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk) adalah emiten Grup Sinar Mas yang selama ini dikenal sebagai induk usaha pertambangan batu bara melalui Golden Energy Mines (GEMS), namun kini tengah membangun beberapa lapisan bisnis infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Per penutupan perdagangan 22 September 2026, harga saham DSSA tercatat Rp980 per lembar, sehingga 1 lot (100 lembar) setara Rp98.000 di luar biaya transaksi (IDNFinancials, 22 September 2026). Artikel ini membahas bidang usaha dan pemilik DSSA, arah transformasi bisnisnya, proyek-proyek utamanya, serta data saham per 22 September 2026.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Seluruh data dan analisis mengenai DSSA dalam artikel ini disajikan hanya untuk tujuan identifikasi dan edukasi, bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kamu setelah mempertimbangkan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.
DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk) adalah perusahaan investasi milik Grup Sinar Mas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham DSSA, dan menaungi lima lini bisnis utama: pertambangan batu bara, energi terbarukan, infrastruktur digital dan telekomunikasi, listrik industri, serta perdagangan bahan kimia dan pupuk. Per 22 September 2026, kapitalisasi pasar DSSA sekitar Rp151,6 triliun, dihitung dari jumlah saham beredar di luar saham treasuri (IDNFinancials, 22 September 2026). Struktur pemegang sahamnya dibahas pada bagian "Siapa Pemilik Saham DSSA?" di bawah.
Jawaban Singkat:
• Bisnis inti DSSA masih bertumpu pada batu bara lewat anak usaha Golden Energy Mines (GEMS), penyumbang mayoritas pendapatan grup.
• DSSA memperluas portofolio ke energi panas bumi, surya, pusat data (SMX01), serta telekomunikasi (XLSmart, MoraRepublic).
• DSSA juga memegang saham minoritas di dompet digital DANA dan platform streaming Vidio.
Berikut ringkasan entitas utama dalam struktur bisnis DSSA berdasarkan data perusahaan:
Entitas | Segmen | Kepemilikan DSSA |
Golden Energy Mines Tbk (GEMS) | Pertambangan batu bara | 51% |
Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic) | Telekomunikasi/FTTH | 51% |
SM+ Data Centers | Infrastruktur digital | Mayoritas |
Pasifik Satelit Nusantara (PSN) | Satelit | Minoritas |
DANA | Dompet digital | ~20% |
Vidio | Media/OTT | Minoritas |
XLSmart (EXCL) | Telekomunikasi seluler | Kepemilikan tidak langsung di tingkat Grup Sinar Mas |
Rolimex Kimia Nusamas | Distribusi kimia & pupuk | Anak usaha |
DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, perusahaan sektor energi yang tercatat di BEI sejak 10 Desember 2009 dan berkantor pusat di Sinar Mas Land Plaza, Jakarta (IDNFinancials, 22 September 2026). Perusahaan ini didirikan pada 2 Agustus 1996 dan mulai beroperasi secara komersial pada 1998.
Menurut profil perusahaan yang sama, induk usaha DSSA bergerak di bidang pembangkitan listrik dan uap, sedangkan anak-anak usahanya menjalankan pertambangan dan perdagangan batu bara serta emas, bisnis teknologi, dan perdagangan pupuk serta bahan kimia. DSSA mengoperasikan empat pembangkit listrik captive (pembangkit yang memasok kebutuhan listrik kawasan industri tertentu) berkapasitas total 300 MW di tiga lokasi di Pulau Jawa.
Dari sisi pendapatan, DSSA pada praktiknya masih merupakan saham batu bara: segmen ini menyumbang sekitar 86,7% pendapatan Kuartal I 2026 (Databoks/Katadata, 2 Juli 2026). Portofolio non-batu bara, yaitu pusat data, jaringan fiber, panas bumi, dan surya, yang membuat DSSA kerap dibahas sebagai saham infrastruktur AI.
Pemegang saham pengendali DSSA adalah PT Sinar Mas Tunggal, entitas Grup Sinar Mas, dengan kepemilikan 59,9% per 31 Juli 2026 (Katadata, 4 Agustus 2026). Pada tanggal yang sama, saham treasuri yang dikuasai perusahaan sendiri mencapai 19,68%, diikuti UOB Kay Hian Pte Ltd (3,76%), Fitzgerald & Wilkinson Investments Ltd (3,45%), dan Citibank Hong Kong S/A PBG Clients HK (2,97%), dengan sisanya dipegang publik.
Saham treasuri adalah saham hasil pembelian kembali (buyback) yang disimpan perusahaan. DSSA berencana melepas hingga sekitar 9,63 miliar saham treasuri (~5% dari total saham) mulai 10 Agustus 2026 (Katadata, 4 Agustus 2026). Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 September 2026 kemudian menyetujui pengurangan modal melalui penarikan kembali saham treasuri serta perubahan susunan pengurus: Franky Oesman Widjaja mundur dari kursi Presiden Komisaris dan digantikan David Fernando Audy, sementara Lay Krisnan Cahya menjabat Presiden Direktur (Liputan6, 12 September 2026).
Pada kuartal I 2026, segmen batu bara masih menyumbang sekitar 86,7% dari total pendapatan DSSA (Databoks/Katadata, 2 Juli 2026, mengutip laporan keuangan Kuartal I 2026 DSSA). Alih-alih hanya membagikannya sebagai dividen, DSSA mengalokasikan sebagian arus kas dari bisnis batu baranya ke proyek transisi energi dan digital jangka panjang, di antaranya ekspansi kapasitas panas bumi yang kini ditargetkan hingga 780 MW (lihat bagian Lapisan Energi di bawah), serta fasilitas manufaktur sel dan modul surya terintegrasi berkapasitas 1-2 GW di Kawasan Industri Kendal, Jawa Tengah, hasil kerja sama dengan Trina Solar dan PT PLN Indonesia Power Renewables yang mulai beroperasi sejak Juni 2025.
Di sisi lain, DSSA juga memperkuat lini infrastruktur digital: jaringan fiber MoraRepublic, jaringan pusat data SM+ dan proyek SMX01, serta ekosistem aplikasi lewat kepemilikan di DANA dan Vidio. Kombinasi ini membentuk empat lapisan bisnis yang saling terkait, dari sumber energi hingga aplikasi pengguna akhir.
Secara garis besar, portofolio non-batu bara DSSA dapat dipetakan ke dalam empat lapisan berikut.
DSSA mengembangkan proyek panas bumi melalui dua anak usaha, PT Daya Anugerah Sejati Utama dan PT Daya Mas Geopatra Pangrango. Berdasarkan keterbukaan informasi resmi perusahaan, tiga proyek awal, yaitu Cipanas dan Cisolok-Cisukarame (Jawa Barat) serta Nage (Nusa Tenggara Timur), ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (COD) pada 2029 dengan total potensi 140 MW (dssa.co.id, keterbukaan informasi, 23 April 2025). Perusahaan kemudian mengumumkan rencana yang jauh lebih besar: investasi sekitar Rp30-35 triliun dalam lima tahun ke depan untuk mengembangkan tujuh lokasi panas bumi di lima wilayah (Jawa Barat, Jambi, Sumatra Barat, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur) dengan potensi kapasitas gabungan hingga 780 MW, dengan ambisi menyamai skala Energy Development Corporation (EDC), operator panas bumi global yang menjadi acuan industri (Kumparan, 3 April 2026). Sebagai pembanding, pembangkit panas bumi umumnya memiliki faktor kapasitas yang lebih tinggi dan lebih stabil dibandingkan pembangkit surya maupun angin, sehingga arus pendapatannya relatif dapat diprediksi selama offtake dengan PLN berjalan sesuai kontrak.
Di segmen surya, pabrik sel dan modul surya JV Kendal, hasil kerja sama tiga pihak antara DSSA, Trina Solar, dan PLN Indonesia Power Renewables, memiliki kapasitas produksi awal 1-2 GW per tahun dengan ketentuan ekspansi kontraktual hingga 2 GW.
MoraRepublic, hasil merger Moratelindo dan MyRepublic pada April 2026, per data 30 April 2026 memiliki jaringan yang menjangkau lebih dari 12,7 juta home pass, lebih dari 2,6 juta pelanggan ritel, dan lebih dari 17.000 pelanggan enterprise, bersaing dengan sejumlah penyedia layanan fixed broadband lain di Indonesia termasuk IndiHome milik Telkom (Bisnis.com, 16 Juni 2026). Untuk 2026, manajemen menargetkan tambahan 5 juta home pass dan 1,5 juta pelanggan ritel baru (Bisnis.com, 16 Juni 2026).
Di tingkat Grup Sinar Mas, yang belum terkonsolidasi langsung ke DSSA, terdapat pula XLSmart (EXCL), hasil merger XL Axiata dan Smartfren yang melayani sekitar 73 juta pelanggan. Kinerja XLSmart pada semester I 2026 menunjukkan perbaikan: pendapatan mencapai Rp24 triliun (naik 26% secara tahunan), laba bersih ternormalisasi melonjak menjadi Rp2,7 triliun dari Rp693 miliar pada semester I 2025, sementara rugi bersih konsolidasi menyempit menjadi Rp994 miliar dari Rp1,2 triliun, dengan margin EBITDA terjaga di 45,7% (Bisnis.com, 13 Agustus 2026). Perbaikan ini sejalan dengan realisasi sinergi biaya pascamerger yang tengah berjalan.
Melalui anak usaha SM+, DSSA mengoperasikan jaringan pusat data edge di sejumlah kota di Indonesia dengan total kapasitas sekitar 24 MW. Proyek utamanya, SMX01, adalah pusat data bersertifikasi Tier IV di kawasan CBD Jakarta yang dikembangkan lewat joint venture dengan LG Sinar Mas (LG CNS) bersama Korea Investment Real Asset Management (KIRA). Konstruksi tahap topping-off SMX01 rampung pada 8 Mei 2026, dengan target mulai beroperasi (ready for service) pada kuartal IV 2026, dengan kapasitas IT awal sekitar 18 MW yang dapat ditingkatkan hingga 60 MW (dssa.co.id/w.media, 8 Mei 2026).
Perkembangan lebih baru: salah satu fasilitas SM+ berkapasitas 21 MW di kawasan Kuningan, Jakarta, dilaporkan telah terisi penuh (fully sold out), dengan alokasi sekitar 20 MW untuk penyewa hyperscaler dan 1 MW untuk klien enterprise (Receh.in, September 2026, mengutip riset sekuritas). Laporan yang sama menyebut target kapasitas SM+ mencapai 43 MW pada 2026 (12 MW di Tangerang, 21 MW di Kuningan), dengan potensi jangka pendek sekitar 83 MW dan skenario jangka panjang hingga 1 GW.
DSSA memegang saham minoritas sekitar 20% di DANA, dompet digital dengan lebih dari 200 juta pengguna (Microsoft News Source Asia, 6 Maret 2026), serta kepemilikan minoritas di platform streaming Vidio dan jaringan iklan digital luar ruang TMN Digital. Yang relevan dengan tema infrastruktur AI: DANA telah mengintegrasikan Azure OpenAI dan mengoperasikan asisten virtual berbasis agentic AI bernama DIANA untuk layanan pelanggan, yang menurut laporan yang sama berkontribusi pada peningkatan produktivitas operasional sekitar 57% sepanjang 2025 (Microsoft News Source Asia, 6 Maret 2026). Kombinasi produk-produk ini membentuk lapisan aplikasi yang berpotensi memanfaatkan kapasitas komputasi dari lapisan pusat data di atas.
Per 22 September 2026, harga saham DSSA berada di Rp980 per lembar dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp151,6 triliun. Rinciannya:
Metrik (per 22 September 2026) | Nilai |
Harga penutupan (Rp/lembar) | Rp980 |
Kapitalisasi pasar (Market Cap), di luar saham treasuri | ~Rp151,6 triliun |
~41x | |
Rentang harga 52 minggu (Rp/lembar) | Rp410 - Rp4.720 |
Sumber: IDNFinancials (harga penutupan dan kapitalisasi pasar, 22 September 2026); Investing.com (PER dan rentang 52 minggu, diakses 23 September 2026). Kapitalisasi pasar dapat berbeda antarpenyedia data, tergantung apakah saham treasuri ikut dihitung.
Sementara itu, ringkasan kinerja keuangan aktual Kuartal I 2026 (Databoks/Katadata, 2 Juli 2026; achmadnurhidayat.id, 22 Juli 2026, keduanya mengutip laporan keuangan resmi Kuartal I 2026 DSSA):
Metrik (Kuartal I 2026) | Nilai |
Pendapatan | USD693,23 juta (turun 6% YoY) |
Laba kotor | USD246,96 juta |
Laba bersih | USD82,26 juta (naik 2,18% YoY) |
Margin laba kotor | ~35,6% |
Margin laba bersih | ~11,9% |
Angka ini bukan cerminan performa mendatang. Periode data: 1 Januari–31 Maret 2026. Data keuangan dipublikasikan 2–22 Juli 2026 (Databoks/Katadata; achmadnurhidayat.id).
Perlu dicatat, mayoritas pendapatan DSSA saat ini masih bersumber dari emiten batu bara GEMS, sehingga kinerja grup tetap sensitif terhadap pergerakan harga batu bara acuan. Sepanjang Agustus 2026, harga batu bara Newcastle tercatat bertahan di kisaran USD124-130 per ton, didorong permintaan impor China yang kembali menguat (SWA.co.id, 4 Agustus 2026; Receh.in, 23 Agustus 2026).
Beberapa perkembangan yang berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap DSSA di masa mendatang, tanpa memastikan arah pergerakan harga sahamnya:
• Progres operasional SMX01 dan permintaan kapasitas SM+. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026; laporan Receh.in (September 2026) yang mengutip riset sekuritas menyebut salah satu fasilitas SM+ 21 MW di Kuningan sudah terisi penuh permintaan hyperscaler, meski realisasi skenario kapasitas 1 GW jangka panjang masih bersifat proyeksi.
• Commercial operation date (COD) proyek panas bumi. Tiga proyek awal (140 MW) ditargetkan COD pada 2029, sementara rencana ekspansi ke tujuh lokasi (hingga 780 MW) masih dalam tahap awal dan bergantung pada proses perizinan serta konstruksi di masing-masing wilayah kerja.
• Konsolidasi XLSmart. Sinar Mas sebelumnya menggabungkan Moratelindo dan MyRepublic ke DSSA menjadi MoraRepublic; apakah pola serupa akan diterapkan pada kepemilikan XLSmart masih bersifat spekulatif dan belum dipastikan perusahaan.
• Tindak lanjut hasil RUPSLB. RUPSLB 10 September 2026 telah menyetujui pengurangan modal melalui penarikan kembali saham treasuri (Liputan6, 12 September 2026); dampaknya terhadap jumlah saham beredar dan free float bergantung pada pelaksanaan penarikan serta pelepasan hingga ~9,63 miliar saham treasuri (Katadata, 4 Agustus 2026).
Di sisi risiko:
• Volatilitas harga batu bara. Karena segmen batu bara masih menjadi kontributor utama pendapatan (~86,7% pada Kuartal I 2026), penurunan harga batu bara global dapat menekan kinerja keuangan DSSA secara keseluruhan.
• Risiko regulasi dan perizinan. Operasional SMX01 serta proyek panas bumi memerlukan berbagai persetujuan regulasi yang dapat memengaruhi linimasa pengembangan.
• Risiko eksekusi proyek joint venture. Sejumlah proyek strategis DSSA (SMX01, Kendal, WKP panas bumi) dijalankan bersama mitra seperti LG Sinar Mas, KIRA, Trina Solar, dan FirstGen Geothermal Indonesia, sehingga hasil akhirnya juga bergantung pada kinerja para mitra tersebut.
• Risiko pasar saham secara umum. Seperti saham lainnya, harga DSSA dapat naik maupun turun mengikuti kondisi pasar, sentimen investor, dan kinerja fundamental perusahaan.
Saham DSSA dapat dibeli di aplikasi Pluang melalui menu Saham Indonesia, dengan minimum pembelian 1 lot (100 lembar). Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Maju Sekuritas sebagai Perusahaan Efek dan difasilitasi oleh PT Sarana Santosa Sejati sebagai Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Level II, berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
1. Buka aplikasi Pluang dan pilih menu Saham Indonesia.
2. Cari kode saham DSSA, lalu gunakan fitur Screeners untuk membandingkan data fundamentalnya dengan emiten sejenis.
3. Pantau pergerakan harga secara real-time lewat Pluang Web Trading sebelum melakukan transaksi, dan lakukan analisa fundamental kamu sendiri terlebih dahulu.
Modal minimum untuk membeli saham DSSA adalah 1 lot saham atau 100 lembar, setara Rp98.000 berdasarkan harga penutupan 22 September 2026, ditambah biaya beli 0,15% sehingga totalnya sekitar Rp98.147.
Komponen | Nilai (Rp) | Keterangan |
Harga per lembar | 980 | Harga penutupan 22 September 2026 (IDNFinancials) |
Jumlah lembar per lot | 100 lembar | Satuan perdagangan di BEI |
Nilai 1 lot = minimum pembelian | 98.000 | 100 lembar × Rp980 |
Biaya beli di Pluang (0,15%) | 147 | Termasuk levy BEI/KSEI 0,03%, biaya KPEI 0,01%, trading fee Pluang 0,0961261%, dan PPN 11% atas levy serta trading fee |
Estimasi total dana beli 1 lot | 98.147 | Rp98.000 + Rp147 |
Biaya jual di Pluang (0,25%) | 245 | Komponen biaya beli ditambah PPh Final 0,1% atas nilai jual; ilustrasi pada harga Rp980 |
e-Meterai | 10.000 | Hanya untuk konfirmasi transaksi bernilai di atas Rp10.000.000; tidak berlaku untuk transaksi 1 lot DSSA pada harga ini |
Data harga per 22 September 2026. Tarif biaya sesuai halaman biaya trading saham Indonesia di Pluang, diakses 23 September 2026. Harga saham berubah setiap hari perdagangan, sehingga nilai 1 lot juga ikut berubah.
Komponen biaya perlu dibaca terpisah: trading fee atau komisi broker berbeda-beda antarsekuritas, levy BEI/KSEI dan biaya KPEI merupakan pungutan yang diatur, sedangkan PPh Final 0,1% atas penjualan dikenakan sesuai ketentuan perpajakan pasar modal, bukan komponen biaya sekuritas. Rincian lengkapnya tersedia di halaman biaya trading saham Indonesia di Pluang.
Produk ini termasuk produk berisiko tinggi.
Lakukan analisis pribadi Anda sebelum memutuskan menggunakan produk ini.
Produk ini tidak sesuai untuk semua kalangan konsumen.
Informasi hanya untuk identifikasi, bukan rekomendasi investasi.
Investasi saham mengandung risiko, termasuk potensi kerugian atas modal yang diinvestasikan. Pelajari lebih lanjut mengenai produk Saham Indonesia di Pluang sebelum mengambil keputusan.
DSSA adalah kode saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, emiten Grup Sinar Mas di sektor energi yang tercatat di BEI sejak 10 Desember 2009, dengan bisnis inti batu bara melalui GEMS.
Pemegang saham pengendali DSSA adalah PT Sinar Mas Tunggal dengan kepemilikan 59,9% per 31 Juli 2026, diikuti saham treasuri perusahaan sebesar 19,68% (Katadata, 4 Agustus 2026).
Dengan harga penutupan Rp980 per lembar pada 22 September 2026, 1 lot saham DSSA (100 lembar) setara Rp98.000, atau sekitar Rp98.147 setelah biaya beli 0,15% di Pluang.
SMX01 adalah pusat data Tier IV milik SM+ di CBD Jakarta dengan kapasitas IT awal sekitar 18 MW, yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2026.
Ya. Segmen batu bara menyumbang sekitar 86,7% pendapatan DSSA pada Kuartal I 2026, sehingga kinerjanya sensitif terhadap harga batu bara, selain risiko eksekusi proyek dan fluktuasi pasar.
DSSA bertransformasi dari emiten yang identik dengan batu bara menjadi grup usaha dengan portofolio yang lebih terdiversifikasi ke energi terbarukan dan infrastruktur digital, termasuk beberapa proyek yang relevan dengan kebutuhan infrastruktur AI di Indonesia. Meski demikian, mayoritas pendapatannya saat ini tetap bertumpu pada bisnis batu bara, dan sejumlah proyek baru (SMX01, panas bumi, potensi konsolidasi XLSmart) masih dalam tahap pengembangan dengan berbagai risiko eksekusi.
Tanggal | Perubahan |
7 Juli 2026 | Artikel dipublikasikan. |
10 September 2026 | Data pasar, kinerja Kuartal I 2026, serta perkembangan MoraRepublic, XLSmart, dan SM+ diperbarui. |
23 September 2026 | Angka Kunci harga 1 lot, 2 H2 baru (DSSA saham apa & perusahaan apa; siapa pemilik saham DSSA), tabel modal minimum dan biaya transaksi, FAQ 5 pertanyaan, serta pernyataan risiko produk berisiko tinggi ditambahkan. Data pasar per 22 September 2026 dan hasil RUPSLB 10 September 2026 diperbarui. |
Artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan atau rekomendasi investasi. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu. Gambar ilustrasi pada artikel ini dibuat menggunakan AI.


