ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Berita & Analisis
Apa Itu Altcoin? Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap 2026
shareIcon

Apa Itu Altcoin? Pengertian, Jenis, dan Contoh Lengkap 2026

3 Jul 2026, 3:25 PM
·
Waktu baca: 6 menit
shareIcon
eth-xrp-ltc-apa-itu-altcoin
Altcoin adalah istilah yang mengacu pada seluruh aset crypto selain Bitcoin, mulai dari Ethereum, XRP, hingga ribuan token lain yang diluncurkan setelah kesuksesan Bitcoin sebagai mata uang digital pertama. Berikut penjelasan lengkap mengenai pengertian, jenis, contoh, dan risiko altcoin yang perlu dipahami sebelum berinvestasi. Istilah altcoin sering muncul dalam percakapan seputar crypto, terutama saat harga Bitcoin sedang bergerak stagnan dan perhatian investor beralih ke aset-aset alternatif yang menawarkan potensi kenaikan lebih tinggi. Namun, potensi kenaikan yang lebih besar ini juga selalu berbanding lurus dengan tingkat risiko yang lebih tinggi, sehingga memahami karakteristik altcoin secara mendalam menjadi langkah penting sebelum memutuskan berinvestasi.

Apa Itu Altcoin?

Altcoin adalah singkatan dari "alternative coin", merujuk pada seluruh aset crypto yang diluncurkan sebagai alternatif dari Bitcoin. Sebagian besar altcoin dibangun di atas fondasi teknologi yang dipelopori Bitcoin, namun dikembangkan dengan tujuan mengatasi keterbatasan yang dianggap ada pada Bitcoin, seperti kecepatan transaksi, biaya, atau fungsionalitas tambahan seperti smart contract.

Hingga saat ini, terdapat ribuan altcoin yang beredar di pasar global dengan berbagai use case, mulai dari platform smart contract, token utilitas, hingga stablecoin yang nilainya dipatok pada mata uang tertentu. Meski jumlahnya sangat banyak, tidak semua altcoin memiliki likuiditas dan adopsi yang memadai untuk dijadikan instrumen investasi yang layak dipertimbangkan.

Apa Saja Jenis-Jenis Altcoin?

Altcoin dapat dikelompokkan berdasarkan fungsi dan tujuan penggunaannya:

  • Smart contract platform: altcoin yang berfungsi sebagai infrastruktur untuk menjalankan aplikasi terdesentralisasi (dApps), seperti Ethereum dan Solana.
  • Payment coin: altcoin yang difokuskan untuk mempercepat dan mempermurah transaksi pembayaran, seperti XRP dan Litecoin.
  • Stablecoin: altcoin yang nilainya dipatok pada aset stabil seperti dolar AS, bertujuan mengurangi volatilitas harga, misalnya USDT dan USDC.
  • Utility token: altcoin yang memberikan akses ke layanan atau produk tertentu dalam ekosistem blockchain-nya, sering diluncurkan melalui skema initial coin offering (ICO).
  • Meme coin: altcoin yang awalnya muncul dari budaya internet atau candaan komunitas, namun sebagian berkembang memiliki kapitalisasi pasar signifikan meski minim use case fundamental.

Mengetahui kategori suatu altcoin membantu investor memahami tujuan dan potensi risiko yang melekat padanya. Altcoin dari kategori smart contract platform misalnya, nilainya sering dikaitkan dengan seberapa banyak aplikasi dan proyek yang dibangun di atas jaringannya, sementara meme coin lebih banyak digerakkan oleh sentimen komunitas dan tren media sosial yang bisa berubah dengan sangat cepat.

Apa Bedanya Altcoin dengan Bitcoin?

Bitcoin dirancang sebagai aset penyimpan nilai dan alat tukar terdesentralisasi menggunakan mekanisme proof-of-work, dengan pasokan terbatas 21 juta koin. Altcoin, di sisi lain, hadir dengan beragam mekanisme konsensus, tujuan, dan model pasokan yang berbeda-beda tergantung proyeknya masing-masing.

Secara umum, Bitcoin memiliki tingkat adopsi, likuiditas, dan kapitalisasi pasar terbesar di antara seluruh aset crypto, sehingga sering dijadikan tolok ukur (benchmark) pergerakan pasar crypto secara keseluruhan, termasuk oleh altcoin. Pergerakan harga sebagian besar altcoin cenderung berkorelasi dengan pergerakan harga Bitcoin, meski tidak selalu identik.

Korelasi ini penting dipahami investor, karena ketika harga Bitcoin mengalami koreksi tajam, mayoritas altcoin juga cenderung ikut melemah, bahkan sering kali dengan persentase penurunan yang lebih besar dibanding Bitcoin itu sendiri akibat likuiditas yang lebih rendah.

Apa Kelebihan dan Risiko Berinvestasi di Altcoin?

Sebelum mempertimbangkan altcoin sebagai bagian dari portofolio, penting memahami potensi kelebihan sekaligus risikonya secara berimbang:

  • Potensi inovasi teknologi: sebagian altcoin menawarkan use case yang lebih spesifik dibanding Bitcoin, seperti smart contract atau pembayaran lintas negara.
  • Diversifikasi dalam kelas aset crypto: altcoin memungkinkan investor mengakses berbagai sektor dalam ekosistem crypto, bukan hanya Bitcoin, mulai dari infrastruktur blockchain hingga aplikasi keuangan terdesentralisasi.
  • Volatilitas lebih tinggi: mayoritas altcoin memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas lebih kecil dibanding Bitcoin, sehingga pergerakan harganya cenderung lebih fluktuatif.
  • Risiko proyek gagal: tidak semua altcoin bertahan jangka panjang; sebagian proyek berhenti dikembangkan atau kehilangan nilai secara signifikan seiring waktu.
  • Risiko regulasi: status hukum sebagian altcoin masih terus berkembang di berbagai yurisdiksi, termasuk Indonesia, sehingga dapat memengaruhi aksesibilitas maupun harga.

Semakin kecil kapitalisasi pasar suatu altcoin, umumnya semakin tinggi pula potensi volatilitasnya. Altcoin dengan kapitalisasi pasar besar seperti Ethereum cenderung memiliki pergerakan harga yang relatif lebih stabil dibanding altcoin baru dengan kapitalisasi pasar kecil yang rentan terhadap manipulasi harga akibat likuiditas rendah.

Artikel ini bersifat edukasi dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi untuk membeli aset crypto tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu setelah memahami profil risikonya.

Contoh Altcoin Populer yang Perlu Diketahui

  • Ethereum (ETH): altcoin dengan kapitalisasi pasar terbesar setelah Bitcoin, dikenal sebagai pelopor platform smart contract dan aplikasi terdesentralisasi.
  • XRP: altcoin yang berfokus pada kecepatan dan efisiensi biaya transaksi pembayaran lintas negara.
  • Solana (SOL): altcoin berbasis smart contract yang dikenal dengan kecepatan transaksi tinggi dan biaya rendah.
  • USDT dan USDC: stablecoin yang nilainya dipatok pada dolar AS, sering digunakan sebagai instrumen lindung nilai terhadap volatilitas pasar crypto.
  • Litecoin (LTC): salah satu altcoin tertua yang dirancang sebagai versi "lebih ringan dan cepat" dari Bitcoin untuk transaksi pembayaran sehari-hari.

Daftar di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan altcoin yang beredar di pasar global. Setiap altcoin memiliki whitepaper, tim pengembang, dan roadmap teknologi masing-masing yang sebaiknya dipelajari investor sebelum memutuskan untuk membeli, alih-alih hanya mengandalkan nama besar atau tren harga jangka pendek semata.

Apa Itu "Altcoin Season" yang Sering Dibicarakan?

Altcoin season adalah periode ketika mayoritas altcoin mencatatkan kenaikan harga yang lebih tinggi dibanding Bitcoin dalam jangka waktu tertentu, biasanya ditandai dengan penurunan dominasi Bitcoin (Bitcoin dominance) terhadap total kapitalisasi pasar crypto secara keseluruhan.

Fenomena ini umumnya terjadi setelah kenaikan harga Bitcoin mulai stagnan, sehingga sebagian investor mengalihkan modal ke altcoin dengan harapan mendapatkan potensi keuntungan yang lebih besar dalam waktu singkat. Meski demikian, altcoin season juga membawa risiko yang lebih tinggi, karena kenaikan harga yang cepat sering kali diikuti dengan koreksi yang sama tajamnya begitu sentimen pasar berbalik arah.

Bagaimana Cara Membeli Altcoin di Indonesia?

Di Indonesia, perdagangan aset crypto termasuk altcoin berada di bawah pengawasan OJK. Berikut langkah umum untuk mulai membeli altcoin secara legal dan lebih aman:

  1. Pilih platform yang terdaftar di OJK, seperti Pluang, agar transaksi tercatat resmi dan dana lebih terlindungi.
  2. Selesaikan proses KYC (verifikasi identitas) sesuai ketentuan yang berlaku di platform tersebut.
  3. Top up saldo melalui metode pembayaran yang tersedia di aplikasi.
  4. Lakukan riset mandiri (DYOR) terhadap fundamental, whitepaper, dan tim pengembang altcoin sebelum membeli.
  5. Sesuaikan porsi investasi dengan profil risiko, mengingat volatilitas altcoin umumnya lebih tinggi dibanding Bitcoin.

Pluang menyediakan akses ke berbagai altcoin populer dalam ekosistem multi-aset yang sama dengan saham, emas, dan reksa dana, lengkap dengan fitur Screeners dan Web Trading untuk membantu analisis sebelum bertransaksi. Investor juga disarankan menghindari sikap FOMO (Fear of Missing Out) saat harga altcoin naik tajam dalam waktu singkat, karena volatilitas tinggi juga berarti risiko koreksi harga yang sama besarnya. Sebagai alternatif, sebagian investor memilih strategi Dollar Cost Averaging untuk mengurangi dampak fluktuasi harga jangka pendek saat membeli altcoin secara bertahap.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah semua aset crypto selain Bitcoin disebut altcoin?

Ya. Secara definisi, altcoin mencakup seluruh aset crypto yang bukan Bitcoin, termasuk Ethereum, XRP, stablecoin, hingga meme coin.

Apakah altcoin lebih berisiko dibanding Bitcoin?

Secara umum ya, karena mayoritas altcoin memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas lebih kecil dibanding Bitcoin, sehingga pergerakan harganya cenderung lebih fluktuatif dan sensitif terhadap sentimen pasar.

Apakah stablecoin termasuk altcoin?

Ya. Stablecoin seperti USDT dan USDC termasuk kategori altcoin karena bukan merupakan Bitcoin, meskipun karakteristik volatilitasnya berbeda karena nilainya dipatok pada aset stabil.

Berapa banyak jenis altcoin yang beredar saat ini?

Jumlah altcoin yang beredar di pasar global mencapai ribuan token dengan berbagai use case, meski hanya sebagian kecil yang memiliki likuiditas dan adopsi memadai untuk dipertimbangkan sebagai instrumen investasi yang layak dan berkelanjutan.

Apakah altcoin legal diperdagangkan di Indonesia?

Sebagian besar altcoin populer dapat diperdagangkan secara legal di Indonesia selama dilakukan melalui platform yang terdaftar dan diawasi Bappebti.

Apakah altcoin cocok untuk investor pemula?

Altcoin dapat dipertimbangkan oleh pemula yang sudah memahami risiko volatilitas crypto, namun sebaiknya hanya menjadi porsi kecil dari portofolio yang terdiversifikasi, tidak dijadikan alokasi utama.

Apa perbedaan altcoin dengan token?

Secara teknis, altcoin umumnya memiliki blockchain sendiri (seperti Ethereum dan Solana), sedangkan token dibangun di atas blockchain yang sudah ada, misalnya token berbasis standar ERC-20 di jaringan Ethereum. Perbedaan ini penting dipahami karena memengaruhi cara kerja, biaya transaksi, dan tingkat desentralisasi masing-masing aset.

Bagaimana cara menyimpan altcoin dengan aman?

Altcoin dapat disimpan di dompet digital milik platform berizin atau dipindahkan ke cold wallet pribadi untuk keamanan jangka panjang, tergantung kebutuhan dan preferensi masing-masing investor terhadap pengelolaan private key dan tingkat kenyamanan penggunaan.

Kesimpulan

Altcoin adalah kategori luas yang mencakup seluruh aset crypto selain Bitcoin, mulai dari platform smart contract, payment coin, stablecoin, hingga meme coin. Setiap jenis altcoin memiliki use case, tingkat risiko, dan potensi yang berbeda-beda, sehingga penting bagi investor untuk melakukan riset mandiri sebelum memutuskan berinvestasi. Memahami perbedaan karakteristik masing-masing kategori altcoin juga membantu investor menghindari keputusan impulsif yang hanya didasarkan pada tren harga sesaat atau ajakan komunitas di media sosial. Gunakan platform yang berizin dan diawasi OJK seperti Pluang untuk mulai bertransaksi altcoin secara lebih aman dan terkontrol.

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1