Investasi
Fitur
Akademi
Lainnya
ASSET_ICON
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Berita & Analisis
Akhir Era Perry Warjiyo: Destry Damayanti Pegang Kemudi Bank Indonesia di Tengah Rupiah yang Rapuh
shareIcon

Akhir Era Perry Warjiyo: Destry Damayanti Pegang Kemudi Bank Indonesia di Tengah Rupiah yang Rapuh

27 Jul 2026, 10:14 AM
·
Waktu baca: 6 menit
shareIcon
Akhir Era Perry Warjiyo: Destry Damayanti Pegang Kemudi Bank Indonesia di Tengah Rupiah yang Rapuh
Senin pagi, 27 Juli 2026, pasar keuangan Indonesia dibuka dengan kabar yang mengguncang sekaligus mengundang tanya: Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia yang telah memimpin bank sentral sejak Mei 2018, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. 

Kabar tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, dan seketika menjadi sorotan utama pelaku pasar. Sesuai amanat undang-undang, Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti otomatis mengambil alih kemudi sebagai Pejabat Gubernur Sementara, menandai babak baru bagi otoritas moneter di tengah kondisi rupiah yang tengah berada di titik terlemahnya.

Kronologi Pengunduran Diri yang Mendadak

Perry Warjiyo menyampaikan pengunduran dirinya secara sukarela pada 25 Juli 2026 melalui surat yang dikirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menerima surat tersebut pada Minggu, 26 Juli 2026, dan pada hari yang sama Rapat Dewan Gubernur BI menetapkan Destry Damayanti sebagai pejabat gubernur sementara. Penetapan ini merujuk pada Pasal 48 ayat 1 (a) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, yang mengatur bahwa Deputi Gubernur Senior otomatis menjalankan tugas gubernur bila terjadi kekosongan jabatan.

Alasan resmi yang disampaikan adalah "alasan pribadi". Destry sendiri, dalam konferensi persnya, tidak merinci lebih jauh. Namun sumber CNBC Indonesia mengungkapkan bahwa pengunduran diri Perry dilatarbelakangi masalah kesehatan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut murni keputusan pribadi tanpa tekanan dari Presiden Prabowo, dan pemerintah akan menerbitkan Keputusan Presiden mengenai pemberhentian dengan hormat sebelum memulai proses penunjukan gubernur definitif.

Meski demikian, konteks politiknya tidak bisa diabaikan sepenuhnya. Pada Mei 2026, anggota DPR Primus Yustisio sempat mendesak Perry untuk mundur jika merasa tidak mampu menjaga stabilitas rupiah, seiring pelemahan tajam mata uang Garuda terhadap dolar AS. Rupiah kini diperdagangkan di kisaran Rp17.965 per dolar AS, level yang secara historis sangat lemah dan menjadi sumber tekanan publik terhadap bank sentral dalam beberapa bulan terakhir.

Warisan Delapan Tahun Perry Warjiyo

Perry Warjiyo meninggalkan jejak yang sulit diabaikan. Diangkat pertama kali pada era Presiden Joko Widodo tahun 2018 dan terpilih kembali untuk periode 2023-2028, Perry adalah sosok bankir sentral karier yang menghabiskan hampir seluruh hidup profesionalnya di Bank Indonesia. Di awal masa jabatannya, ia langsung diuji gejolak global dan merespons dengan menaikkan suku bunga acuan agresif dari 4,25 persen menjadi 6 persen sepanjang 2018, langkah yang berhasil mempersempit defisit transaksi berjalan.

Warisan terbesarnya justru di ranah digitalisasi. Di bawah kepemimpinannya, BI melahirkan standardisasi QRIS yang mengubah wajah pembayaran ritel Indonesia, membangun infrastruktur BI-FAST, memperluas QRIS lintas negara di kawasan ASEAN, dan meletakkan fondasi Rupiah Digital. Pada masa pandemi, Perry juga dikenal lewat kebijakan burden sharing dengan pemerintah, sebuah terobosan yang kontroversial namun diakui membantu Indonesia melewati krisis. Presiden Prabowo, melalui Mensesneg, menyampaikan apresiasi atas dedikasi Perry memimpin bank sentral selama hampir delapan tahun.

Destry Damayanti: Ekonom Pasar di Pucuk Bank Sentral

Berbeda dengan Perry yang merupakan "orang dalam" BI tulen, Destry Damayanti datang dari jalur yang lebih beragam, dan justru di situlah letak kekuatannya. Perempuan kelahiran Jakarta, 16 Desember 1963 ini menempuh pendidikan Sarjana Ekonomi di Universitas Indonesia dan meraih gelar Master of Science bidang regional science dari Cornell University, Amerika Serikat.

Rekam jejaknya membentang dari sektor swasta, akademik, hingga pemerintahan. Ia memulai karier sebagai ekonom Citibank Indonesia pada 1997, kemudian menjadi Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000-2003. Ia sempat menjadi peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebelum menduduki posisi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas (2005-2011) dan Kepala Ekonom Bank Mandiri (2011-2015). Pengalaman birokrasinya terasah sebagai Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN (2014-2015) dan Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (2015-2019).

Pada 2019, melalui Keputusan Presiden Nomor 74/P Tahun 2019, Destry ditetapkan sebagai Deputi Gubernur Senior BI, dan pada Juli 2024 ia kembali dipercaya untuk periode kedua hingga 2029. Kini, ia menjadi perempuan yang memegang posisi puncak di Bank Indonesia, meski dalam kapasitas sementara, sebuah catatan tersendiri dalam sejarah bank sentral yang selama ini didominasi laki-laki di kursi gubernurnya.

Latar belakang sebagai ekonom pasar ini penting untuk dipahami. Destry menghabiskan lebih dari satu dekade membaca pasar dari sisi pelaku, bukan regulator. Ia memahami bagaimana investor berpikir, bagaimana sentimen bekerja, dan bagaimana komunikasi kebijakan bisa menenangkan atau justru mengguncang pasar. Bagi bank sentral yang tengah menghadapi krisis kepercayaan terhadap rupiah, kemampuan semacam ini bukan sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan.

Arah Kebijakan: Stabilitas Dulu, Pertumbuhan Kemudian

Lantas ke mana arah kebijakan moneter di bawah Destry? Jejak pernyataannya memberikan petunjuk yang cukup jelas: ia bukan sosok dovish yang gemar melonggarkan kebijakan demi pertumbuhan. Destry adalah pragmatis yang menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama.

Pada Juni 2026, ia secara terbuka membela keputusan BI menaikkan BI Rate hingga 100 basis poin, dengan argumen bahwa kenaikan diperlukan agar imbal hasil rupiah kembali menarik di mata investor ketika bank-bank sentral global, terutama The Fed, masih menahan suku bunga di level tinggi. "Kita naikkan suku bunga biar rupiah menarik lagi," demikian intinya. Dalam berbagai forum, termasuk Economic Outlook 2026, Destry juga menekankan bahwa ekspektasi pelonggaran moneter Amerika Serikat cenderung mundur karena ekonomi AS yang masih tangguh, sinyal bahwa ia tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga.

Namun Destry bukan hawkish murni. Ia konsisten menyuarakan pendekatan seimbang: kebijakan suku bunga untuk stabilitas, dikombinasikan dengan pelonggaran makroprudensial berupa insentif bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Ia juga menilai likuiditas perbankan secara agregat masih memadai. Artinya, pasar bisa berharap pada kontinuitas: kerangka kebijakan Perry kemungkinan besar dilanjutkan tanpa perubahan mendadak, dengan fokus utama menjaga rupiah dari pelemahan lebih dalam.

Reaksi Pasar: Negatif Tipis, Bukan Kepanikan

Respons pasar pada hari pertama menggambarkan kegelisahan yang terkendali. IHSG dibuka melemah sekitar 0,50-0,53 persen ke level 6.163, melanjutkan tekanan akhir pekan sebelumnya yang lebih disebabkan sentimen tarif dagang Amerika Serikat. Rupiah dibuka melemah tipis 0,03 persen ke Rp17.969 per dolar AS. Pelemahan terjadi, tetapi jauh dari kata guncangan.

Para analis umumnya sepakat bahwa transisi ini tidak akan memicu gejolak berarti. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, menilai penunjukan Destry "seharusnya tidak memberikan shock terhadap pasar" karena ia figur berpengalaman yang sangat memahami arah kebijakan moneter. Ekonom yang disurvei Kompas memprediksi pasar akan mengambil sikap wait and see, mencermati dampaknya terhadap rupiah, IHSG, dan pasar Surat Berharga Negara.

Justru risiko sesungguhnya ada di babak berikutnya: siapa gubernur definitif yang akan ditunjuk Presiden Prabowo dan disetujui DPR. Seperti diingatkan Fath, "apakah ada suatu hal yang di luar ekspektasi pasar, itu yang akan membuat market positif atau negatif." Jika penggantinya figur kredibel dan independen, pasar bisa merespons positif. Sebaliknya, jika muncul nama yang dianggap terlalu politis, kekhawatiran soal independensi bank sentral bisa menekan rupiah dan obligasi lebih dalam.

Catatan Unik dari Sebuah Transisi

Ada beberapa hal yang membuat pergantian ini layak dicatat dalam sejarah. Pertama, pengunduran diri sukarela seorang Gubernur BI di tengah masa jabatan adalah peristiwa langka; lazimnya gubernur menyelesaikan periodenya atau berpindah karena jabatan negara lain. Kedua, transisi berjalan tanpa kekosongan hukum sedetik pun berkat mekanisme suksesi otomatis dalam UU P2SK, bukti bahwa arsitektur kelembagaan keuangan Indonesia telah matang. Ketiga, Perry diangkat di era Jokowi dan mundur di era Prabowo, menjadikannya simbol peralihan zaman kebijakan ekonomi antar dua pemerintahan. Keempat, naiknya Destry menempatkan perempuan di kursi tertinggi bank sentral, melengkapi perjalanan kariernya yang pernah pula dipercaya memimpin panitia seleksi di lembaga publik dan kini mencapai puncaknya di BI.

Penutup: Kontinuitas di Tengah Ketidakpastian

Pergantian Perry Warjiyo ke Destry Damayanti pada akhirnya adalah cerita tentang kontinuitas, bukan perubahan haluan. Destry mewarisi kerangka kebijakan yang ia sendiri ikut merumuskan selama tujuh tahun sebagai Deputi Gubernur Senior: disiplin menjaga stabilitas rupiah, kehati-hatian membaca The Fed, dan kreativitas makroprudensial untuk menopang pertumbuhan. Bagi pasar, arah kebijakan jangka pendek relatif dapat diprediksi, cenderung netral hingga positif secara berhati-hati, selama komunikasi kebijakan tetap jernih.

Yang belum dapat diprediksi adalah politik penunjukan gubernur definitif. Di situlah pertaruhan sebenarnya bagi kredibilitas Bank Indonesia, dan di situlah investor akan menaruh perhatian dalam beberapa pekan ke depan. Untuk saat ini, kemudi bank sentral berada di tangan yang oleh pasar sendiri dinilai tepat, dan itu mungkin kabar terbaik yang bisa diharapkan dari sebuah pengunduran diri yang mendadak.

Grup Pluang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), dan/atau Bank Indonesia (BI) dalam menyediakan produk dan layanan tertentu.

Gambar yang ditampilkan dalam konten ini dibuat dengan menggunakan AI dan hanya ditujukan untuk tujuan ilustrasi saja.

Bagikan artikel ini
no_content
Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1