
Konflik AS-Iran yang sedang berlangsung menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur transit minyak penting, sehingga terjadi defisit pasokan sekitar 9-12 juta barel per hari. Presiden AS Trump memperingatkan serangan akan berlanjut selama 2-3 minggu lagi, termasuk kemungkinan serangan pada infrastruktur energi Iran jika tidak ada kesepakatan. Analis UBS dan JP Morgan memperingatkan gangguan ini bisa mendorong harga minyak di atas $150 per barel, dengan persediaan global turun ke rata-rata lima tahun. Situasi ini membuat pasar energi tetap waspada, sementara saham perusahaan minyak Eropa dinilai undervalued meski harga minyak naik, dan JP Morgan merekomendasikan posisi overweight pada perusahaan seperti Shell dan TotalEnergies.