
Artikel ini mengulas lima perusahaan AI—GitLab, NICE, Samsara, ServiceNow, dan Palantir—yang mampu bertahan jika harga minyak melonjak hingga $200 per barel. Kelima perusahaan ini memiliki model bisnis ringan aset dan berbasis langganan yang justru menguntungkan saat biaya operasional naik, sehingga solusi AI mereka makin bernilai di masa tekanan ekonomi. Masing-masing menunjukkan kinerja keuangan dan prospek pertumbuhan yang kuat, dengan Palantir sebagai yang paling tahan banting berkat kontrak pemerintah dan platform intelijen operasionalnya. Analisis ini menyimpulkan saham AI tersebut berpotensi terus tumbuh meski kondisi makroekonomi memburuk akibat harga energi yang tinggi.