
Krisis Selat Hormuz menyebabkan perubahan besar dalam perdagangan minyak global, dengan AS kini mengekspor minyak mentah ke Australia yang biasanya bergantung pada Asia dan Timur Tengah. Perubahan ini menunjukkan peran AS sebagai eksportir fleksibel yang mengisi kekurangan pasokan di wilayah Asia-Pasifik di tengah kenaikan harga minyak akibat risiko pasokan. Meski ekspor meningkat, kapasitas penyulingan AS membatasi produksi bensin domestik, dan tekanan politik bisa meningkat jika harga bensin melewati $5 hingga $7 per galon. Perusahaan minyak besar seperti BP, Shell, dan TotalEnergies mendapat keuntungan dari harga minyak dan margin penyulingan yang lebih tinggi, sementara solusi akhir bergantung pada dibukanya kembali Selat Hormuz untuk menormalkan alur perdagangan.