Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Fitur Proarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Blog

Apa Sih, Pentingnya Musim Pelaporan Keuangan S&P 500 Bagi Investor?
shareIcon

Apa Sih, Pentingnya Musim Pelaporan Keuangan S&P 500 Bagi Investor?

22 Apr 2021, 7:42 AM·READING_TIME
shareIcon
Kategori
Apa Sih, Pentingnya Musim Pelaporan Keuangan S&P 500 Bagi Investor?

Sekarang sudah memasuki bulan April. Banyak perusahaan terbuka yang sudah mulai melaporkan kinerjanya untuk periode triwulan pertama 2021, atau biasanya dikenal dengan earning season. Tidak ketinggalan, begitu juga dengan perusahaan yang masuk dalam daftar Indeks S&P 500.

Hanya saja, earning season S&P 500 kali ini terbilang spesial. Hingga Kamis (22/4), setidaknya ada 75 perusahaan S&P 500 yang sudah mengumumkan kinerja keuangannya. Hasilnya, 85% diantaranya berhasil melampaui estimasi laba per saham (Earning per Share) yang disusun para analis.

Adapun, salah satu sektor yang menorehkan kinerja moncer S&P 500 adalah sektor jasa keuangan. Nilai EPS USBancorp, misalnya, tercatat 49% lebih tinggi dari konsensus. Begitu pun JPMorgan dan Bank of America yang pertumbuhannya masing-masing mencatat 48% dan 25% lebih tinggi di atas konsesus analis.

Analis Earning Scouts Nick Raich menjelaskan, kebanyakan perusahaan yang sudah merilis kinerja keuangannya menatap pencapaian di triwulan II dengan lebih positif. Hal itu akan berdampak baik bagi saham perusahaan itu sendiri.

Meski demikian, apa sih, alasan utama investor harus memperhatikan earning season kali ini? Mengapa semua mata pelaku pasar tertuju pada momen pelaporan kinerja tahunan tersebut?

Baca juga: Menganalisa Kinerja Indeks S&P500

Earning Season Memberi Petunjuk Mengenai Nasib S&P 500

Seperti yang kita tahu, indeks S&P 500 seolah tak henti-hentinya mencetak rekor sejak Maret. Terakhir, indeks S&P 500 mencetak rekor di angka 4.185 pada 16 April lalu.

Nah, nilai indeks tersebut kemungkinan bisa mencetak rekor baru lagi jika hasil laporan keuangan para perusahaan S&P 500 saat earning season juga terbilang tokcer. Mengapa demikian?

Sekadar informasi, nilai indeks S&P 500 dihitung berdasarkan nilai kapitalisasi pasar atas saham-saham perusahaan yang berada di dalamnya. Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar sendiri dihitung berdasarkan total jumlah saham beredar dan harga saham tersebut.

Tentu saja, jika kinerja keuangan perusahaan kian mumpuni, maka harga sahamnya juga bisa terdongkrak. Ujungnya, kapitalisasi pasar membengkak, dan mempengaruhi pembobotan nilai indeks S&P 500. Hasilnya, nilai indeks saham paling bonafit di AS ini pun melesat bak roket.

Nah, di sisi lain, nilai indeks S&P 500 adalah cerminan dari laju tingkat return indeks saham tersebut. Jika laju nilai indeks S&P 500 bergerak secara pelan, itu mengindikasikan bahwa mendulang cuan dari indeks ini pun kemungkinan akan sukar. Begitu pun sebaliknya.

Intinya, investor S&P 500 wajib mengikuti hasil earning season untuk memutuskan apakah ia harus tetap berinvestasi atau justru menarik diri dari indeks S&P 500.

Meski demikian, hasil earning season yang buruk bukan berarti bahwa perusahaan-perusahaan, atau kinerja indeks S&P 500 secara keseluruhan, terbilang parah. Sebab, buruknya kinerja keuangan perusahaan bisa jadi disebabkan perbedaan sistem pencatatan keuangan.

Di AS, terdapat perusahaan yang menggunakan perhitungan aktvitas keuangannya dengan sistem tahun fiskal. Artinya, publikasi laporan keuangannya akan berbeda dengan perusahaan lain yang biasanya berjalan di bulan Maret, Juni, September dan Desember.

Setiap laporan keuangan yang dirilis oleh perusahaan dapat memengaruhi pergerakan sahamnya. Investor, media keuangan, analis semua memfokuskan pandangannya pada saat momentum laporan keuangan seperti sekarang.

Karena saat laporan keuangan perusahaan A dirilis misalnya, pergerakan harga sahamnya memiliki dua kemungkinan, yakni meningkat tajam atau justru amblas.

Sehingga momentum seperti ini dijadikan penentu keputusan bagi investor, apakah tetap mengoleksi saham tersebut atau justru melepasnya dan melihat potensi kenaikan yang lebih tinggi lagi dari hasil laporan keuangan yang dipublikasikan.

Baca juga: Investasi S&P 500 Bisa Bikin Kamu Sultan Lho, Simak 3 Alasannya!

Setelah Earning Season, Masa Depan S&P 500 Akan Tetap Cerah

Tadi, dijelaskan bahwa earning season bisa menjadi bahan pertimbangan investor untuk terus berinvestasi di S&P 500 atau tidak. Kali ini, mungkin investor masih optimistis dengan kinerja S&P 500, mengingat nilainya dianggap “masih bisa menuju puncak yang lebih tinggi lagi”.

Salah satu sentimen pendukungnya adalah data-data ekonomi AS yang mumpuni. Sejak dua pekan lalu, data-data seperti indeks harga konsumen, data penjualan ritel, klaim pengangguran AS terus menunjukkan perbaikan. Di saat ekonomi tengah bergeliat, maka investor pun mulai berani untuk menggenggam aset berisiko seperti saham.

Chris Low dari FHN Financial menambahkan, data tersebut akan menambah optimisme pelaku pasar jika dikombinasikan dengan kebijakan moneter The Fed. Yakni, berupaya keras untuk terus memfasilitasi ekonomi AS hingga benar-benar pulih seutuhnya.

“Kami mendapatkan jaminan dari salah satu Pejabat The Fed, bahwa kondisi ini adalah kondisi yang nyaman dengan lingkungan ekonomi dan inflasi. Sehingga hal itu juga menjadi berita baik bagi ekuitas,” kata dia.

Selain itu, laju return indeks S&P 500 yang diperkirakan makin kencang juga bikin investor yakin untuk membenamkan dana di indeks tersebut.

Indeks S&P 500 pertama kali menembus level 1.000 pada 1998 silam. Dibutuhkan waktu 16 tahun lamanya sampai akhirnya indeks saham bonafit AS iti menembus level 2.000 di tahun 2014.

Namun, apakah S&P 500 membutuhkan waktu 16 tahun lagi demi mengeret nilai dari 2.000 ke 3.000? Jawabannya adalah tidak. Malahan, jangka waktunya kian cepat. Sebab, S&P 500 hanya membutuhkan waktu lima tahun saja untuk mencapai posisi 3.000 di 2019. Kemudian, ia hanya butuh kurang dari dua tahun untuk mencapai posisi 4.000.

Dengan laju return S&P 500 yang semakin cepat, maka investor juga semakin cepat mendulang cuan dari indeks tersebut. Nah, apakah Sobat Cuan tidak tertarik untuk berinvestasi S&P 500 juga? Yuk, langsung investasi S&P 500 di Pluang sekarang!

Baca juga: Sejarah Pasar Saham di Indonesia

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emas, S&P 500 index futures, serta aset kripto Bitcoin dan Ethereum! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: CNBC, Investopedia, Nasdaq

Ditulis oleh
channel logo

Adi Putro

Right baner

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait

Artikel Terkait

no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1