Investasi

down-icon
item
Investasi di pasar terbesar dunia dengan Saham AS

Fitur

down-icon
support-icon
Fitur Pro untuk Trader Pro
Temukan fitur untuk menjadi trader terampil

Pluang Web TradingNewarrow-icon

support-icon
Dirancang untuk Investor
Berbagai fitur untuk investasi dengan mudah

Biaya

Keamanan

Akademi

down-icon

Lainnya

down-icon
item
Temukan peluang eksklusif untuk meningkatkan investasi kamu
support-icon
Bantuan

Hubungi Kami

arrow-icon

Pluang+

Berita & Analisis

Rangkuman Kabar: Harga Rokok Siap-Siap Naik, Inflasi AS Menukik
shareIcon

Rangkuman Kabar: Harga Rokok Siap-Siap Naik, Inflasi AS Menukik

14 Dec 2021, 11:22 AM·Waktu baca: 3 menit
shareIcon
Kategori
Rangkuman Kabar: Harga Rokok Siap-Siap Naik, Inflasi AS Menukik

Rangkuman kabar Selasa (14/12) mengulas beragam berita dari domestik dan mancanegara, salah satunya terkait laporan BI mengenai tingkat utang luar negeri yang susut.Yuk simak selengkapnya!

Rangkuman Kabar Dalam Negeri

1. Indonesia Makin Sedikit Tarik Utang Asing

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia sebesar US$208,4 miliar pada Oktober, atau menyusut 0,35% dari September yakni US$432,8 miliar.

Turunnya posisi ULN disebabkan oleh menurunnya jumlah utang pemerintah maupun swasta. Penurunan terbesar terjadi pada ULN lembaga keuangan yang terkontraksi hingga 5,8%, padahal sektor ini merupakan kontributor terbesar dalam pos ULN Swasta.

Secara garis besar, struktur ULN Indoensia masih sehat dengan rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 36,1%. Rasio ini pun turun dibanding September yakni 37%.

Apa Implikasinya?

Turunnya utang luar negeri berimplikasi pada menurunnya beban utang dan bunga utang baik pemerintah dan swasta di masa depan. Selain itu, menurunnya utang asing juga memperbaiki fundamental ekonomi Indonesia.

Hanya saja, hal itu dapat juga mengindikasikan perekonomian nasional di bulan Oktober yang tidak ekspansif, sehingga lembaga keuangan tidak perlu mengambil pinjaman untuk memenuhi kebutuhan ekspansi pengusaha dalam negeri.

2. Siap-Siap, Cukai Rokok Naik 12%

Kementerian Keuangan mengatakan akan mengerek rata-rata cukai rokok sebesar 12% mulai 1 Januari 2022 mendatang. Langkah ini diambil menimbang sisi kesehatan, sisi ketenagakerjaan, keberlangsungan petani tembakau, hingga upaya untuk memberantas rokok ilegal.

Apa Implikasinya?

Kenaikan cukai rokok akan berimplikasi pada kenaikan harga rokok eceran. Hal tersebut dapat mengerem konsumsi rokok nasional, namun juga mampu mengerek tingkat inflasi tahun depan. Tak hanya itu, kenaikan harga rokok juga bisa meningkatkan garis kemiskinan, mengingat rokok adalah kontributor utama kemiskinan di Indonesia.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Ekonomi Digital Potensial, Defisit Anggaran AS Melebar

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Bank Sentral Inggris Ingin Regulasi Aset Kripto

Gubernur Bank of England Andrew Bailey memperingatkan industri perbankan dan firma finansial mengenai risiko aset kripto yang memiliki nilai cukup fluktuatif. Menurutnya, regulasi yang jelas terkait aset kripto cukup mendesak sebelum instrumen investasi anyar ini mulai diadopsi oleh lebih banyak pelaku keuangan.

Komite finansial BoE (Financial Policy Committee/FPC) mengatakan, saat ini memang belum ada perbankan di Inggris yang menyatakan niatnya untuk mengadopsi aset kripto secara eksplisit. Namun, beberapa layanan keuangan mulai menawarkan beraga, jasa terakit aset kripto, diantaranya trading derivatif dan jasa custody.

Apa Implikasinya?

Kesadaran kolektif para pemangku kebijakan untuk mengatur aset kripto akan mendorong penyusunan kerangka aturan dan pembahasan komprehensif mengenai industri ini. Jika aset kripto teregulasi dengan baik, investor dan pelaku didalamnya akan lebih terlindungi. Sehingga, hal itu dapat mendorong lebih banyak orang untuk membenamkan dana di pasar kripto.

2. Inflasi AS Diprediksi Bakal Melesat Dua Kali Lipat

Survei yang digelar oleh New York Federal Reserve mengindikasikan lonjakan inflasi pada bulan-bulan terakhir di 2021. Hal ini lantaran kenaikan pendapatan masyarakat tak sebanding dengan lonjakan harga kebutuhan.

Konsumen menyebut perkiraan inflasi akan mencapai 6% dalam setahun, lebih tinggi dari ekspektasi inflasi Oktober yakni 5,7%. Ini akan menyebabkan inflasi tumbuh 3,2% lebih cepat dari pada pertumbuhan pendapatan.

Survei tersebut juga mengungkap bahwa 76% responden saat ini lebih khawatir mengenai inflasi ketimbang pengangguran. Survei bulanan yang digelar sejak 2013 ini menggunakan 1.300 rumah tangga sebagai respondennya.

Apa Implikasinya?

Ekspektasi kenaikan inflasi yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan masyarakat akan membuat ekspektasi terhadap konsumsi ikut melorot. Jika masyarakat ogah konsumsi, maka pertumbuhan ekonomi AS di kuartal IV bisa menjadi korban.

Survei yang dihelat New York Federal Reserve ini juga dapat mendorong The Fed mengambil sikap lebih ketat alias hawkish pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pekan depan.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber: Bisnis, CNN Indonesia, Reuters, Investing

Ditulis oleh
channel logo

Fathia Nurul Haq

Right baner

Fathia Nurul Haq

Bagikan artikel ini

Artikel Terkait
weekly news
Pasar Sepekan: Rusia Tabuh Genderang 'Perang', Market Ikut Bergelombang
news card image
no_content

Trading dan Investasi dengan Super App Investasi  #1