pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 3 menit

View

615

Rangkuman Kabar: BI Kepincut Blockchain, Biaya Logistik Bikin Migrain

Selamat akhir pekan, Sobat Cuan! Mengakhiri hari Jumat (10/12) ini, yuk simak Rangkuman Kabar yang mengulas kabar ekonomi domestik dan mancanegara!

Rangkuman Kabar Domestik

1. OECD ‘Sunat’ Proyeksi Ekonomi RI

Organisation for Economics Co-operation and Development (OECD) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2021 menjadi 3,3%. Padahal, OECD sebelumnya memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 3,7%.

Faktor utama revisi tersebut adalah lonjakan kasus COVID-19 pada triwulan III lalu dan memaksa Indonesia untuk memberlakukan pembatasan sosial. Namun, OECD optimistis ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5,2% tahun depan menilik baiknya laju pemulihan ekonomi nasional.

Apa Implikasinya?

Pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari target berimplikasi pada melesetnya asumsi-asumsi makroekonomi maupun kesejahteraan seperti pengangguran, kemiskinan, lifting minyak, indeks gini dan lain sebagainya.

Namun, revisi proyeksi ke bawah belum tentu berdapak signifikan pada realisasinya. Sebab, indikator ekonomi Indonesia, mulai dari penjualan mobil; indeks manufaktur; hingga kinerja ekspor di kuartal terakhir mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia perlahan pulih.

2. Niat Luncurkan CBDC, BI Terpikat Blockchain

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan desain mata uang digital (Central Bank Digital Currency/CBDC) adalah salah satu hal yang masih dibahas kuat di dalam rangkaian G20. Pembahasan itu termasuk menentukan infrastruktur interkoneksi yang digunakan, salah satu opsinya ialah blockchain sebagaimana infrastruktur aset-aset kripto pada umumnya.

CBDC nantinya akan dipergunakan dalam sistem pembayaran digital, utamanya sebagai alat tukar. Opsi ini, menurutnya, dapat menyajikan transaksi yang lebih cepat, murah, efisien, dan terkoneksi antarnegara.

Apa Implikasinya?

Munculnya opsi penggunaan infrastruktur blockchain untuk alat tukar yang diterbitkan oleh bank sentral tentunya bisa menjadi sentimen positif bagi geliat ekonomi digital Indonesia di masa depan. Hanya saja, hal ini mungkin akan menjadi sentimen buruk bagi gerak nilai aset kripto ke depan.

Baca juga: Rangkuman Kabar: Penjualan Mobil Makin Total, AS ‘Ribut’ Aturan Aset Digital

Rangkuman Kabar Mancanegara

1. Pengangguran AS Terendah dalam 52 Tahun

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat telah berada di level terendahnya dalam 52 tahun. Ini diketahui dari jumlah pengajuan klaim bantuan pengangguran hingga 4 Desember lalu yang mencapai 184.000, turun 43.000 dibandingkan minggu sebelumnya.

Sementara itu, menurut data yang dirilis sehari sebelumnya, sekitar 11 juta lapangan pekerjaan baru tercipta hingga akhir Oktober lalu. Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa jumlah tenaga kerja yang tersedia tidak cukup memenuhi jumlah lapangan pekerjaan yang terbuka.

Implikasinya, kini pemberi kerja di Amerika Serikat menghadapi persaingan ketat dalam merekrut tenaga kerja. Persaingan ini mengerek gaji dan tunjangan pegawai dan angka pemecatan turun drastis.

Apa Implikasinya?

Turunnya pengangguran mengindikasikan bahwa pendapatan masyarakat di masa depan akan membaik. Alhasil, konsumsi masyarakat akan bertambah, sehingga bisa memperkuat pertumbuhan ekonomi ke depan.

Hanya saja, ketatnya pasar tenaga kerja AS akan menaikkan gaji, dan ujungnya akan menyebabkan inflasi. Jika itu terjadi, maka The Fed tentu akan meresponsnya dengan mengetatkan kebijakan moneter.

2. Biaya Logistik Melandai, Namun Mengkhawatirkan

Situs Freightos merilis indeks harga kargo global yang menunjukkan bahwa biaya pengiriman sebuah kontainer setinggi 40 kaki telah berada di level US$ 9.425, lebih rendah dari harga September yakni US$11.000.

Namun, sebelum pandemi, biaya pengiriman untuk kargo ukuran yang sama hanya US$1.300. Sayangnya, analis biaya logistik dari paltform Xeneta Peter Sand mengatakan biaya logistik tidak akan dapat kembali normal setara level pra pandemi setidaknya hingga 2023 nanti.

Apa Implikasinya?

Pemulihan biaya logistik tidak dapat dikesampingkan dari upaya memulihkan perekonomian nasional di tiap negara. Sebab, perdagangan internasional memiliki andil signifikan dalam pembentukan pendapatan domestik bruto (PDB).

Tingginya biaya logistik akan membuat harga keekonomian suatu barang meningkat. Implikasinya ialah inflasi harga konsumen yang dapat menekan daya beli masyarakat.

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Sumber : Investing, Freightos, Reuters, Kontan

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES