pluang_logo

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
pluang_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
news

Waktu baca: 6 menit

View

0

Pasar Sepekan: Indeks AS & IHSG Unjuk Gigi, Investor Kripto Gigit Jari

Investor kripto nampaknya bosan melihat pasar aset digital yang "gitu-gitu aja" sepanjang pekan ini. Namun, investor pasar modal mungkin semringah melihat IHSG yang kembali menunjukkan taringnya. Yuk, simak ulasannya di Pasar Sepekan berikut!

Pasar Kripto Sepekan

Investor kripto cuma bisa topang dagu saja pada pekan ini. Bahkan, mungkin beberapanya tak bisa tidur tenang. Betapa tidak, beberapa aset kripto terpantau terjerembab di zona merah sepanjang pekan ini.

Pasar Sepekan

Secara umum, kancah aset digital terpantau mendung karena niatan investor yang buru-buru minggat dari pasar kripto karena lagi kicep. Hal ini tercermin dari indeks Fear and Greed pasar kripto yang ada di level 24, atau "extreme fear", pada Jumat (10/12).

Penyebabnya pun beragam, mulai dari selera mereka terhadap aset berisiko yang susut gara-gara antisipasi inflasi Amerika Serikat (AS) hingga niatan beberapa negara, misalnya Rusia dan Kazakhstan, yang makin memelototi aktivitas pertambangan dan segala hal berbau kripto.

Selain dari kedua negara tersebut, kabar kurang sedap pun datang dari Inggris. Anggota parlemen Inggris ternyata meminta Otoritas Perilaku Keuangan (FCA) membatasi perusahaan kripto untuk menggunakan kata “investasi” dalam memasarkan produknya. Kabarnya, mereka mengatakan bahwa penggunaan kata “Investasi Anda” memberi kesan bahwa aset kripto setara dengan perusahaan FTSE 100 atau produk dana amanah.

Investor kripto pun makin jaga jarak ke pasar kripto setelah mendengar kabar bahwa seorang peretas berhasil membobol US$150 juta dari Bitmap dan US$120 juta dari platform Decentralized Finance (DeFi) BadgerDAO.

Segudang sentimen negatif tersebut pun gagal bikin pelaku pasar bullish terhadap aset kripto. Padahal, terdapat pula rentetan kabar baik yang semestinya mampu bikin pelaku pasar optimistis terhadap pasar kripto.

Salah satunya datang dari perusahaan pesan singkat asal AS, WhatsApp, yang mengajukan proyek percobaan, di mana penggunanya bisa mengirim atau menerima uang dalam bentuk aset kripto. Proyek tersebut dibantu oleh aplikasi dompet digital besutan Meta bernama Novi, yang diluncurkan enam pekan lalu.

Sentimen positif lainnya datang dari hasil Rapat Dengar Pendapat antara pucuk pimpinan platform exchange kripto dengan Dewan Legislatif AS, Selasa (8/12). Dalam pertemuan itu, para punggawa perusahaan platform tukar-menukar kripto meminta anggota legislatif AS untuk menyusun aturan aset kripto yang jelas. Permintaan tersebut pun mendapat respons positif dari anggota legislatif.

Tapi, apa daya. Pelaku pasar memang sepertinya memang sedang malas saja untuk masuk ke pasar aset kripto, utamanya ke pasar Bitcoin (BTC).

Sejak Senin sampai Jumat, BTC bergerak sideways di kisaran US$47.100 hingga US$51.900 per keping. Hal ini terjadi di tengah maraknya aksi borong Bitcoin yang dilakukan beberapa pihak, yang seharusnya jadi sentimen positif bagi performa sang raja aset kripto.

MicroStrategy, misalnya, menambah 1.434 keping BTC dari 29 November hingga 8 Desember sebesar US$82.4 juta. Kini, perusahaan tersebut memiliki 122.748 keping BTC dan mengerek valuasi perusahaan menjadi US$5,9 miliar.

Di samping itu, Presiden El Salvador Nayib Bukele pun masih saja getol membeli Bitcoin mumpung harganya murah (buy the dip). Uniknya, ia memborong keping-keping sang dedengkot aset kripto tersebut melalui ponselnya.

Tapi, Sobat Cuan mungkin ada baiknya mengikuti jejak Bukele untuk buy the dip.

Dari sisi teknikal, Bitcoin sudah keluar dari uptrend channel-nya dan sedang konsolidasi di area US$42.000 hingga US$53.000. Hal ini menggambarkan bahwa harga BTC akan bergerak sideway dan cenderung turun dalam waktu dekat.

Memang, harga BTC yang loyo bisa bikin kamu menangis. Tapi, kondisi tersebut seharusnya bisa kamu jadikan momentum untuk buy the dip.

Analisis Teknikal Bitcoin Analisis Teknikal Bitcoin. Sumber: Investtech[/caption]

Pasar Saham AS Sepekan

Kala investor kripto gigit jari, investor saham AS justru melompat kegirangan setelah trio indeks saham Wall Street mampu bertengger di zona hijau. Sepanjang pekan ini, nilai indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sukses naik 3,86%, sementara nilai indeks Nasdaq dan S&P 500 masing-masing lompat 3,39% dan 3,6%.

Bahkan, nilai S&P 500 mencetak rekor baru pada Jumat dengan menembus level 4.700 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Performa apik ketiga indeks saham AS disebabkan oleh sikap investor yang makin pede membenamkan dana di pasar modal setelah kekhawatiran terhadap virus COVID-19 varian Omicron mereda. Hal ini terjadi setelah perusahaan farmasi AS Pfizer mengumumkan bahwa dosis ketiga vaksinnya, yang diproduksi bersama dengan BioNTech, mampu menghalau varian COVID-19 asal Afrika Selatan tersebut.

Kemudian, pelaku pasar pun menyambut baik data inflasi AS yang dirilis Jumat kemarin. Meski inflasi AS pada November tercatat 6,8% secara tahunan, sekaligus jadi rekor tertinggi sejak 1982, namun data ini sudah sesuai dengan konsensus pelaku pasar. Nah, karena hasilnya sesuai ramalan, mereka pun menganggap bahwa bank sentral AS The Fed tak perlu mengetatkan kebijakan moneternya.

Meski demikian, penyebaran varian virus Omicron tetap saja menghantui pasar AS. Liburan Natal yang sudah dekat dapat menjadi gerbang penyebaran kasus COVID-19 yang lebih luas, apalagi kini jumlah kasus positif dan keterisian rumah sakit AS terus naik.

Di tengah ancaman Omicron, sentimen dari membaiknya indeks keyakinan konsumen diharapkan dapat mendongkrak laba perusahaan ke depan.

Indeks Keyakinan Konsumen AS. Sumber: Trading Economics[/caption]

Pasar Emas Sepekan

Pada pekan ini, harga emas condong bergerak sideways dengan rentang berada di level Rp843.000 per gram hingga Rp850.000 per gram. Kendati begitu, harga emas bertengger di Rp848.000 di akhir pekan alias naik tipis 1% saja dibanding pekan lalu.

Kenaikan harga emas didorong oleh sentimen inflasi AS yang sesuai ekspektasi pasar meskipun mencetak rekor baru dalam 39 tahun terakhir. Nilai sang logam mulia makin moncer setelah dua musuh sengitnya, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS dan nilai Dolar AS, langsung "pingsan" pasca perilisan data inflasi AS.

Baca juga: Pasar Sepekan: Aset Kripto Makin Gagah, IHSG Ogah Goyah

Pasar Domestik Sepekan

Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terbilang lincah setelah sukses finish di zona hijau selama lima hari berturut-turut. Pada Jumat (10/12), IHSG pun nangkring di level 6.652 poin atau menguat 0,14% dibanding sesi perdagangan sebelumnya.

Moncernya IHSG dipengaruhi oleh kinerja apik saham bank-bank ukuran kecil seperti PT Bank Ganesha Tbk (BGTG), PT Bank Victoria International Tbk (BVIC), PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA), dan PT Bank MNC International Tbk (BABP).

Namun, karena ukuran gabungan kapitalisasi pasar mereka cukup mini, maka tokcernya kinerja IHSG lebih dipengaruhi oleh gerak cekatan saham seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Jago Tbk (ARTO), dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK).

Hijaunya IHSG pun bikin investor asing doyan menaruh dana di pasar modal domestik. Tercatat, Rp4,12 triliun dana asing mengalir ke bursa saham pekan lalu, termasuk Rp2.72 triliun crossing saham PT Bentoel Internasional Investama (RMBA) di harga Rp1.000 per lembar.

Pasar Sepekan Analisis Teknikal IHSG. Sumber: Tradingview[/caption]

Pekan ini menandai minggu pertama di mana para pelaku pasar Indonesia tidak dapat melihat kode broker saat trading. Kendati demikian, para investor tetap selera memborong saham domestik, terutama saham perusahaan yang berbau digital.

Untuk data ekonomi, Bank Indonesia (BI) baru saja merilis posisi cadangan devisa terbaru yakni US$145,9 miliar di November, naik dari US$145,5 miliar di Oktober. Di samping itu, otoritas moneter tersebut juga merilis indeks kepercayaan konsumen Indonesia yang meningkat 5,1 poin ke 118,5 poin di November. Penguatan ini disebabkan oleh menurunnya penularan COVID-19 di Indonesia dan membaiknya aktivitas ekonomi secara umum.

Menariknya, nilai indeks ini adalah yang tertinggi sejak Januari 2020 dan salah satu "obat kuat" yang bikin pelaku pasar bergairah pekan ini.

Kemudian, angin segar lainnya datang dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menerbitkan Peraturan OJK tentang Saham dengan Hak Suara Multiple (SHSM) yang menyebut bahwa perusahaan teknologi yang membuat produk inovatif dapat menggunakan hak ini.

Beleid ini digadang bisa bikin pasar modal Indonesia menjadi lebih atraktif dengan datangnya perusahaan teknologi besar seperti GoTo ataupun Traveloka, yang awalnya ingin melantai di AS. Selain itu, peraturan ini juga mendorong saham Bukalapak pada perdagangan di minggu ini.

Baca juga: Pasar Sepekan: IHSG Lunglai, Emas dan Kripto Kian Bersinar

Nikmati Keuntungan dengan Investasi Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 index futures, serta aset kripto dan reksa dana! Harga kompetitif di pasaran, selisih harga jual-beli terendah, dan tanpa biaya tersembunyi!

Untuk investasi emas, kamu bisa melakukan tarik fisik dalam bentuk emas Antam mulai dari 1 gram hingga 100 gram. Sementara dengan Pluang S&P 500, kamu bisa berinvestasi di kontrak berjangka saham perusahaan besar di AS! Mulai dari Apple, Facebook, Google, Netflix, Nike, dan lainnya! Segera download aplikasi Pluang!

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

RELATED_ARTICLES