Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus

Pluang+

Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
Pluang Plus

Benefit eksklusif dengan Pluang+. Gabung sekarang!

Pluang Plus
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
glossary

15 Dec 2022 2:42 AM

View

0

YOLO

Tak hanya populer di kalangan anak muda, istilah YOLO ternyata juga berlaku di dunia investasi. Seperti apa tepatnya? Simak di sini!

Apa itu YOLO dalam Investasi?

YOLO adalah singkatan dari You Only Live Once, yakni sebuah frasa populer yang menyatakan bahwa manusia harus menikmati hidup dengan maksimal karena "hidup cuma sekali".

Sehingga, manusia harus berani nekat dan menikmati pengalaman baru meski berisiko tinggi. Bisa dibilang, frasa YOLO adalah versi modern dari istilah Latin "Carpe Diem" yang sama-sama berarti "nikmatilah hari ini".

Rupanya, ungkapan tersebut juga berlaku di dunia investasi. Hanya saja, kalimat tersebut punya konotasi yang lebih negatif.

Dalam investasi, YOLO merupakan istilah yang sering digunakan untuk membenarkan keputusan investasi yang sembrono. Investor yang memiliki paham ini biasanya nekat membenamkan seluruh dananya di satu instrumen aset dan berharap nilainya akan terus menjulang, tanpa melakukan diversifikasi aset sebagai upaya manajemen risiko.

Kadang, bersikap YOLO benar-benar bisa membuat sang investor mendadak jadi sultan dalam semalam. Namun, tak jarang pula sikap YOLO menjerumuskan sang investor ke jurang kerugian yang teramat dalam.

Baca Juga: Stonks

Mengapa Orang Menggunakan Strategi YOLO?

Bahkan, bagi beberapa investor, YOLO kini sudah dianggap strategi investasi. Meski pada kenyataannya, bersikap YOLO lebih condong seperti "pertaruhan" ketimbang strategi.

Ketika melancarkan strategi tersebut, investor umum berinvestasi secara aktif di satu aset tertentu dengan harapan bisa mendulang keuntungan besar dalam waktu singkat. Mereka memilih aset tersebut berdasarkan informasi atau kabar burung yang berseliweran di forum atau media sosial.

Memang, beberapa investor sukses ketiban durian runtuh dengan melancarkan strategi tersebut. Namun, tak jarang sebagian lainnya justru boncos parah gara-gara berinvestasi secara ugal-ugalan. Benar-benar mirip seperti judi, bukan?

Biasanya, investor yang menempuh strategi YOLO adalah investor awam yang baru mulai mengenal investasi. Mereka biasanya cemburu dan iri dengan kisah sukses investor lain yang mampu mendulang cuan fantastis dari berinvestasi di satu aset dalam waktu singkat.

Akhirnya, mereka pun tergoda oleh peluang nyata untuk menjadi kaya dengan cara cepat tanpa pengetahuan dan strategi investasi yang teliti. Kemudian, seperti yang bisa ditebak, mereka mempertaruhkan seluruh uangnya di satu aset tanpa manajemen risiko. Ketika upaya tersebut gagal, tak jarang mereka merasa kapok dan enggan memulai berinvestasi kembali.

Padahal, memilih aset investasi harus didasarkan pada penilaian menyeluruh. Selain itu, investor pemula juga disarankan melakukan diversifikasi aset untuk mencegahnya dari kerugian mendalam ketika nilai aset yang ia miliki terjun bebas.

Apa Manfaat dan Risiko Melakukan Strategi YOLO?

Meski bukan kiat investasi yang baik, strategi YOLO tentu memiliki manfaat dan mudharatnya tersendiri, sama seperti hal-hal lain yang terdapat di dunia ini. Lantas, seperti apa kelebihan dan kekurangan strategi tersebut?

Kelebihan

  1. Memiliki potensi kaya mendadak. Itu pun jika investor jitu dan mujur dalam memilih instrumen aset yang berprospek mumpuni.
  2. Memberikan pengalaman berinvestasi yang seru. Hal ini hanya berlaku jika sang investor memang memburu adrenalin dalam berinvestasi.
  3. Bisa memiliki pengalaman yang dibagikan kepada investor lain.

Kekurangan

  1. Berisiko rugi teramat dalam jika kinerja aset yang dipilih tak sesuai harapan.
  2. Bukan strategi investasi jangka panjang yang efektif.

Apakah YOLO Strategi yang Baik?

Memang, YOLO adalah strategi investasi berisiko tinggi. Tapi, pilihan untuk menggunakan strategi ini dikembalikan kepada profil risiko dan tujuan investasi masing-masing investor.

Mereka yang berpandangan jangka panjang sepatutnya menghindari bersikap YOLO. Apalagi jika mereka ingin menggunakan cuan investasinya untuk kebutuhan masa depan seperti dana pensiun dan biaya pendidikan.

Namun, mereka yang ingin memburu cuan jangka pendek bisa-bisa saja melancarkan strategi tersebut. Asalkan, mereka memang punya jumlah dana yang mumpuni untuk berinvestasi, siap mental dalam menerima kondisi apapun yang terjadi, dan punya profil risiko yang agresif.

Baca Juga: Rug Pull

Mulai Perjalanan Investasimu dengan Aman di Pluang!

Download aplikasi Pluang di sini untuk investasi emasS&P 500 dan Nasdaq index futuresSaham AS, serta lebih dari 140 aset kripto dan belasan produk reksa dana mulai dari Rp5.000 dan hanya tiga kali klik saja!

Dengan Pluang, kamu bisa melakukan diversifikasi aset dengan mudah dan aman karena seluruh aset di Pluang sudah terlisensi dan teregulasi. Ayo, download dan investasi di aplikasi Pluang sekarang!

Sumber: Financhill, Investorjunkie

Bagikan
Tags

Apakah artikel ini bermanfaat?

Artikel Terkait