Blog

Tentang Kami

Inovasi dan kemudahan adalah misi kami, lihat kisahnya di sini!

FAQ

Temukan semua jawaban tentang berinvestasi di Pluang

Kontak Kami

Kami dengan senang hati menjawab pertanyaanmu. Hubungi kami!

Karir

Bergabunglah dengan tim kami!

telegram
telegram
  • facebook_logo
  • instagram_logo
  • twitter_logo
  • youtube_logo
  • telelgram_logo
  • linkedin_logo
  • tiktok_logo
app_logo
BlogIcon
Blog
Berita & AnalisisAkademiEventKamusTips & Trik InvestasiPromo
bookmark
Bookmark
Bagikan
course

Waktu baca: 5 menit

View
0

9 Tips Sebelum Beli NFT Profile Picture (PFP)

Sobat Cuan pasti tertarik untuk membeli Non-Fungible Token (NFT) berupa karya seni digital yang bisa dipajang sebagai foto profilmu (PFP) di media sosial. Selain karena bisa dibilang keren oleh teman-temanmu, kamu pun juga bisa berinvestasi di benda tersebut secara jangka panjang. Namun, sebelum membelinya, yuk simak dulu sembilan tips yang bisa kamu terapkan sebelum membeli NFT PFP berikut!

9 Pertimbangan Sebelum Membeli NFT PFP

1. Ketahui Komunitas dan Tim Pengembang NFT PFP Tersebut

Ketika kamu membeli satu proyek NFT, maka kamu sejatinya juga berinvestasi di perkembangan komunitasnya plus tim pengembangnya. Oleh karenanya, kamu perlu:

  1. Menghabiskan waktu dengan komunitas. Kesuksesan proyek NFT sangat tergantung dengan keterikatan komunitasnya dengan proyek tersebut. Sehingga, ada baiknya kamu bergabung dengan komunitas tersebut, biasanya melalui Discord, untuk mengetahui apakah komunitas tersebut punya lingkungan positif, aktif, dan sesuai dengan nilai-nilai hidupmu.
  2. Periksa akun media sosial mereka. Sekali lagi, semakin tinggi keaktifan dan keterikatan komunitas dengan proyek NFT-nya bakal menentukan prospek proyek tersebut ke depan.
  3. Periksa rekam jejak tim pengembangnya. Pengembang NFT PFP yang kredibel biasanya merilis informasi yang lengkap di situsnya, misalnya perihal penanganan kesalahan teknis hingga mitigasi risiko NFT. Selain itu, tim pengembang yang bukan abal-abal biasanya juga akan selalu merespons pertanyaan yang diajukan komunitasnya.

2. Periksa Jumlah Kolektornya

Pengembang proyek NFT biasanya menggunakan jumlah kolektornya demi mengukur tingkat kesuksesan proyeknya.

Tapi, kamu juga perlu hati-hati dalam mencerna angka ini. Sebab, pengembang biasanya mengukur jumlah kolektor tersebut berdasarkan jumlah dompet yang menyimpan NFT tersebut. Sehingga, jika ada satu kolektor yang memiliki dua dompet dan semuanya menyimpan NFT dari satu proyek yang sama, maka pengembang NFT tersebut akan menganggap dua dompet tersebut berasal dari dua kolektor yang berbeda.

Nah, oleh karenanya, kamu perlu melihat jumlah kolektor unik (unique holders) dari sebuah proyek NFT. Salah satu referensi yang bisa kamu gunakan adalah situs Etherescan dan buka tab "Holders" di dalamnya. Contohnya adalah sebagai berikut:

Semakin tinggi angka unique holders proyek NFT tersebut, maka proyek tersebut bisa dibilang cukup terpercaya. Sebab, secara teorinya, semakin banyak unique holders menjadi indikasi bahwa komunitasnya pun berukuran besar.

3. Distribusi NFT Antar Kolektor

Setelah memeriksa jumlah unique holders, maka kamu perlu melihat distribusi karya seni digital tersebut di antara para kolektor. Pasalnya, jika NFT tersebut hanya berkonsentrasi di satu atau sebagian kecil kolektor saja, maka sang penguasa NFT tersebut punya kekuatan untuk mengontrol harga NFT tersebut di pasaran.

Umumnya, distribusi NFT tersebut terbilang baik jika hanya ada sedikit wallet yang menyimpan lebih dari satu karya seni tersebut. Nah, lagi-lagi, kamu bisa melihat situs Etherscan untuk melihat siapa saja pemilik kontrak-kontrak proyek NFT ERC-271.

4. Waspada Kehadiran Bandar NFT!

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, NFT yang terpusat di satu atau beberapa kolektor tertentu akan merusak harga pasarannya.

Sehingga, kamu perlu waspada terhadap kehadiran pengguna yang punya ukuran dompet yang gembung. Selain itu, kamu juga perlu memperhatikan cara mereka melakukan listing dan target harga yang mereka tetapkan ketika menjual NFT-nya.

Biasanya, bandar (whales) akan menurunkan harga NFT di pasaran dengan melakukan listing NFT di, atau lebih rendah, dari harga dasarnya. Di sisi lain, bandar yang berniat mulia biasanya akan me-listing NFT-nya di harga tertinggi. Artinya, ia punya kecenderungan untuk mendukung proyek NFT tersebut.

5. Beli NFT di Harga Dasar (Floor Price)

Ketika memilih NFT berbentuk PFP, kamu tentu ingin karya seni tersebut, sebisa mungkin, tidak terlihat identik dengan milik orang lain. Namun, kalau bisa, kamu jangan gegabah dengan membeli PFP yang benar-benar bersifat langka. Lho, mengapa demikian?

Ketika berinvestasi NFT, kamu harus memastikan bahwa karya seni yang kamu miliki bersifat likuid. Dalam artian, kamu bisa dengan mudah menjual karya seni tersebut agar kamu bisa mendulang cuan yang relatif cepat.

Nah, tips utamanya, kamu harus membeli NFT PFP tersebut di harga penawaran yang paling terendah sedari awal. Sehingga, kamu nanti bisa menjualnya di tingkatan harga yang setidaknya "balik modal" untukmu.

Sayangnya, kamu bakal susah mendulang cuan jika kamu justru membeli NFT yang terkesan sangat langka. Selain karena harganya yang cukup mahal, namun NFT langka juga tidak punya likuiditas yang sama dengan NFT biasa.

Ingatlah bahwa pasar NFT dipenuhi oleh kaum flippers, yakni mereka yang doyan melakukan jual-beli NFT demi meraih cuan instan. Alhasil, kamu bakal susah mencari pembeli bagi NFT-mu jika kamu kekeh ingin membeli NFT langka tersebut.

Hanya saja, kamu juga dipersilakan membeli NFT yang bersifat langka jika kamu benar-benar ingin mengoleksinya dan menggunakannya sebagai foto profil, bukan sebagai investasi.

6. Diversifikasi

Kamu tak boleh terlena begitu saja dengan satu proyek NFT meski timnya terlihat kredibel atau komunitasnya cukup kuat. Sebab, masih ada kemungkinan bahwa proyek NFT tersebut bakal melempem ke depannya.

Hal ini serupa seperti kebanyakan aset kripto, di mana sebagian aset kripto langsung ditinggalkan komunitasnya dan harganya anjlok meski awalnya terlihat menjanjikan.

Nah, untuk mencegah risiko tersebut, ada baiknya kamu juga melakukan diversifikasi NFT.

7. Jual-Beli NFT Melalui 3 Rumus Jitu

Standarnya, pelaku NFT biasanya akan melakukan jual-beli NFT dari sebuah proyek melalui tiga rumus berikut:

  1. Kamu perlu menjual NFT pertamamu di tingkatan harga yang setidaknya "balik modal".
  2. Kamu menargetkan menjual NFT keduamu di tingkat harga yang kamu inginkan.
  3. Tahan kepemilikan NFT ketigamu sampai nilainya to the moon.

8. Konsisten dengan Alokasi Dana yang Kamu Rencanakan untuk Beli NFT

Sama seperti berinvestasi di kelas aset lain, kamu perlu merencanakan alokasi dana yang rela kamu kucurkan demi NFT berdasarkan selera risikomu.

Memang, tidak ada pakem tertentu ihwal seberapa besar kamu harus mengalokasikan persentase portofoliomu demi NFT. Namun, jika kamu merasa gugup atau berulang-ulang kali memeriksa harga pasar proyek NFT-mu saat ini, maka artinya kamu sudah mengalokasikan dana yang berlebihan di NFT tersebut.

Pergerakan harga NFT memang punya gejolak yang ekstrem. Tapi, kalau kamu mujur, nilai NFT milikmu bisa tumbuh berkali-kali lipat di masa depan, layaknya nilai Bitcoin.

9. Ukur Nilai NFT Milikmu dengan Satuan ETH

Kamu membeli NFT dengan satuan ETH. Sehingga, kamu juga harus mengukur nilai portofoliomu dalam bentuk ETH, bukan dalam satuan mata uang fiat. Ini lantaran ETH memang mata uang resmi yang digunakan di industri metaverse dan ETH.

Di samping itu, ketika kamu berinvestasi NFT, maka secara tidak langsung kamu berharap bahwa pertumbuhan nilainya bakal lebih kencang dibanding pertumbuhan ETH. 

Jadi, ketika nilai NFT-mu naik jika diukur dalam mata uang fiat tetapi turun jika diukur menggunakan ETH, artinya kamu lebih baik berinvestasi ETH dibanding NFT karena kamu bakal lebih untung berinvestasi ETH.

Dengan kata lain, harga NFT akan jatuh jika nilai ETH meningkat. Sebab, kolektor NFT kemungkinan besar akan melakukan aksi jual dan menukarkannya dengan ETH demi menikmati cuan atas kenaikan nilai ETH.

Hanya saja, pertumbuhan nilai NFT blue chip seperti Cryptopunk dan Bored Ape secara konsisten selalu mengungguli kenaikan nilai ETH dalam jangka menengah.

Hal lain yang perlu kamu ketahui adalah NFT dan metaverse tidak berkorelasi tinggi dengan harga BTC meski sama-sama "penghuni" jagat aset digital. Hanya saja, pergerakan altcoin, seperti ETH, kadang juga terpengaruh oleh pergerakan BTC sebagai penguasa aset kripto sejagat.

Ingat, Kamu Tak Selalu Bisa Mendapatkan NFT Jagoanmu!

Satu konsep yang berlaku di jagat NFT adalah bahwa kamu tak akan selalu meraih NFT yang paling unggul. Bahkan, trader dan investor NFT paling ulung pun akan kesulitan melakukan hal tersebut.

Jadi, jangan terlalu fokus ke memilih NFT jagoanmu. Kamu hanya perlu fokus untuk meningkatkan pengetahuanmu tentang NFT dan bagaimana nilai pasarnya saat ini.

Pada akhirnya, kamu akan menemukan NFT andalanmu dan meraih untung yang mumpuni asal kamu melakukan hal tersebut secara terus menerus.

Nah, setelah membaca penjelasan di atas, apakah Sobat Cuan kini sudah siap menyelami semesta bernama NFT?

Bagikan

Apakah artikel ini bermanfaat?