Berita & Analisis
Meme Coin Melejit Saat Harga Bitcoin Sulit Naik, Apa Penyebabnya?










Laporan market terbaru menunjukkan bahwa sementara token dengan kapitalisasi pasar terbesar (large-cap) cenderung stagnan atau bahkan terkoreksi, indeks meme coin justru melesat. Fenomena ini memicu pertanyaan besar bagi para investor crypto; Apakah kita sedang melihat awal dari altcoin season yang didorong oleh narasi AI, ataukah ini sekadar volatilitas jangka pendek di tengah ketakutan pasar yang mendalam?
Bitcoin sering kali dianggap sebagai kompas bagi seluruh ekosistem kripto. Namun, dalam 24 jam terakhir, kompas tersebut tampak kehilangan arah. BTC bergerak mendatar (flat), berjuang keras untuk mendapatkan kembali pijakan di atas $70.000.
Kelesuan ini juga diikuti oleh Ethereum (ETH) yang mencatatkan penurunan tipis. Ketika dua aset terbesar ini kehilangan momentum, biasanya likuiditas akan mencari "celah" di aset-aset dengan kapitalisasi lebih kecil yang menawarkan volatilitas lebih tinggi. Inilah yang menjelaskan mengapa Indeks CoinDesk 20 (CD20) masih mampu naik 0,40% meskipun ETH memerah.
Fenomena yang paling mencolok dalam laporan pekan ini adalah lonjakan PIPPIN yang mencapai 46%. PIPPIN bukanlah sekadar meme coin biasa yang mengandalkan gambar lucu; ia adalah bagian dari gelombang baru yang disebut "Agentic AI".
Jika tahun 2024 dan 2025 adalah era di mana AI hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan (seperti ChatGPT), maka tahun 2026 adalah era Agentic AI. Ini adalah sistem kecerdasan buatan yang memiliki otonomi untuk mengeksekusi tugas secara mandiri di blockchain—mulai dari melakukan transaksi, mengelola likuiditas, hingga berinteraksi dengan kontrak pintar tanpa campur tangan manusia.
Koin seperti Worldcoin (WLD), yang digagas oleh Sam Altman, dan VIRTUAL ikut terkerek naik karena narasi ini. Investor saat ini tidak lagi hanya mencari koin yang "lucu", tetapi koin yang terintegrasi dengan ekosistem asisten AI otonom. Lonjakan 1,5% pada CoinDesk Memecoin Index (CDMEME) membuktikan bahwa selera risiko (risk appetite) trader untuk aset spekulatif masih sangat tinggi, meskipun pasar utama sedang lesu.
Untuk memahami mengapa Bitcoin tertahan, kita harus melihat ke "bawah kap mesin", yaitu pasar derivatif. Data menunjukkan bahwa tekanan jual masih sangat dominan secara struktural.
Open Interest (OI) Bitcoin telah turun ke level $15,9 miliar. Penurunan OI biasanya menandakan fase deleveraging—di mana para trader menutup posisi mereka, baik karena terlikuidasi maupun karena ketidakpastian arah harga. Ini adalah tanda bahwa pasar sedang "mencuci" posisi-posisi yang terlalu berisiko.
Hal yang paling mengkhawatirkan bagi para bulls (pembeli) adalah funding rate di bursa besar seperti Binance dan Bybit yang jatuh ke angka negatif agresif (-7% hingga -8%).
Catatan untuk Investor: Funding rate negatif berarti trader yang memegang posisi short (bertaruh harga turun) bersedia membayar biaya besar kepada trader long demi mempertahankan posisi mereka. Ini menunjukkan keyakinan yang kuat dari para spekulan bahwa harga akan terkoreksi lebih lanjut.
Meskipun pasar berjangka tampak bearish, pasar opsi (options) mulai menunjukkan tanda-tanda "bottom-fishing". Dominasi call option (taruhan harga naik) kembali naik ke 56%. Selain itu, struktur volatilitas yang mulai stabil menunjukkan bahwa para pemain institusional mulai merasa bahwa harga saat ini sudah cukup murah untuk mulai diakumulasi secara perlahan.
Crypto tidak bergerak di ruang hampa. Salah satu pemicu stabilitas pasar tradisional minggu ini adalah kemenangan telak Sanae Takaichi dalam pemilihan perdana menteri di Jepang.
Mengapa ini penting bagi trader crypto di Pluang?
Jepang adalah salah satu penyedia likuiditas global terbesar. Jika suku bunga di Jepang naik drastis, ada risiko triliunan dolar akan ditarik dari aset berisiko (seperti saham teknologi dan kripto) kembali ke yen. Namun, setelah kemenangan Takaichi, imbal hasil obligasi Jepang justru melandai. Hal ini mengurangi risiko penarikan likuiditas global secara mendadak, memberikan sedikit ruang napas bagi aset kripto untuk tidak jatuh lebih dalam.
Di sisi lain, kabar mengejutkan datang dari ekosistem Aptos. Merkle Trade, bursa derivatif terdesentralisasi (DEX) terbesar di jaringan tersebut, resmi mengumumkan penutupan. Padahal, platform ini telah memproses volume perdagangan sebesar $30 miliar sejak debutnya pada 2023.
Meskipun Merkle didukung oleh nama besar seperti Aptos Labs dan Hashed, mereka memilih untuk menghentikan operasional. Menariknya, token aslinya (MKL) justru naik 9% setelah pengumuman tersebut.
Berdasarkan data liquidation heatmap dari Coinglass, ada sekitar $290 juta likuidasi dalam 24 jam terakhir. Dari jumlah tersebut, Bitcoin menyumbang porsi terbesar senilai $114 juta.
Titik krusial yang perlu diperhatikan saat ini adalah $68.160. Ini adalah area di mana banyak posisi long (beli) akan terlikuidasi jika harga menyentuhnya. Jika Bitcoin gagal bertahan di atas level ini, kita mungkin akan melihat efek domino yang bisa membawa BTC kembali ke area $65.000 atau lebih rendah.
Di sisi lain, indeks "Fear and Greed" yang berada di level "Extreme Fear" sering kali dianggap oleh para trader profesional sebagai indikator kontrarian. Secara historis, saat ketakutan berada di puncaknya, itulah saat di mana peluang beli terbaik muncul—asalkan investor memiliki manajemen risiko yang ketat.
Fitur | Meme Coin Tradisional (DOGE, PEPE) | AI Agent Coins (PIPPIN, VIRTUAL) |
Pendorong Utama | Hype Media Sosial / Komunitas | Utilitas Teknologi / Otonomi AI |
Kegunaan (Utility) | Terbatas (sebagai alat tukar) | Eksekusi tugas blockchain otonom |
Volatilitas | Sangat Tinggi | Tinggi (mengikuti tren teknologi) |
Analisis | Berdasarkan Sentimen | Berdasarkan Adopsi Ekosistem AI |
Kenaikan meme coin di tengah stagnasi Bitcoin adalah pengingat bahwa pasar kripto selalu memiliki narasi baru untuk menarik likuiditas. Saat ini, narasi tersebut adalah AI otonom. Namun, investor harus tetap melihat realita.
Market mungkin terlihat suram dengan dominasi penjual di pasar derivatif, namun stabilitas makro dari Jepang dan munculnya narasi teknologi baru memberikan harapan bahwa fase deleveraging ini akan segera mencapai titik jenuh.


