Perbedaan STBL dan Swell Network: STBL diperdagangkan di Rp403,83 (kapitalisasi pasar Rp282,95M, volume 24 jam Rp21,04M), sedangkan Swell Network diperdagangkan di Rp11,08 (kapitalisasi pasar Rp57,4M, volume 24 jam Rp23,78M). Perbedaan utamanya: STBL jauh lebih besar — sekitar 4,9× kapitalisasi pasar Swell Network, dan suplai beredar STBL 700M / 10B STBL (8%) dibanding 5,2B / 10B SWELL (52%) milik Swell Network. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan STBL selama 7 Hari dan Swell Network selama 22 Hari.
| STBL | SWELL | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp282,95M | Rp57,4M |
Volume (24h) | Rp21,04M | Rp23,78M |
Suplai yang Beredar | 700M / 10B STBL (8%) | 5,2B / 10B SWELL (52%) |
Typical Hold Time | 7 Hari | 22 Hari |
Berita terbaru kedua aset
STBL adalah protokol stablecoin terdesentralisasi yang memisahkan jaminan aset dunia nyata menjadi stablecoin yang dapat digunakan (USST) dan NFT penghasil imbal hasil (YLD), dengan tata kelola melalui token STBL. Arsitektur tiga tokennya membedakan fungsi likuiditas, imbal hasil, dan governance. Didukung oleh Treasury dan dana pasar uang yang ditokenisasi, protokol ini menekankan transparansi serta tata kelola berbasis komunitas.
Selengkapnya di halaman STBL →Swell Network adalah protokol liquid staking terdesentralisasi dan non-kustodian untuk Ethereum. Protokol ini mempermudah akses ke peluang DeFi sambil menjaga prinsip desentralisasi dan kebebasan dari sensor.
Selengkapnya di halaman SWELL →