Perbedaan Polymesh dan Starknet: Polymesh diperdagangkan di Rp655,63 (kapitalisasi pasar Rp699,51M, volume 24 jam Rp22,08M), sedangkan Starknet diperdagangkan di Rp527,05 (kapitalisasi pasar Rp3,44T, volume 24 jam Rp435,53M). Perbedaan utamanya: Starknet jauh lebih besar — sekitar 4,9× kapitalisasi pasar Polymesh, dan suplai beredar Polymesh 1,1B POLYX dibanding 6,6B STRK milik Starknet. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan Polymesh selama 20 Hari dan Starknet selama 73 Hari.
| POLYX | STRK | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp699,51M | Rp3,44T |
Volume (24h) | Rp22,08M | Rp435,53M |
Suplai yang Beredar | 1,1B POLYX | 6,6B STRK |
Typical Hold Time | 20 Hari | 73 Hari |
Aktivitas investor Pluang dalam 30 hari terakhir
POLYX adalah token protokol native dari Polymesh, blockchain berizin tingkat institusional yang dibuat khusus untuk aset yang teregulasi. Blockchain ini mempersingkat proses lama dan membuka pintu baru bagi instrumen keuangan baru dengan memecahkan tantangan infrastruktur publik seputar tata kelola, identitas, kepatuhan, kerahasiaan, dan penyelesaian. Token ini dapat digunakan untuk staking dan mengamankan jaringan, membayar biaya transaksi, serta terlibat dalam tata kelola.
Selengkapnya di halaman POLYX →StarkNet adalah Validity-Rollup terdesentralisasi permissionless (juga dikenal sebagai 'ZK-Rollup'). Starknet beroperasi sebagai jaringan L2 di Ethereum, memungkinkan setiap dApp mencapai skala komputasi yang tidak terbatas—tanpa mengorbankan composability dan keamanan Ethereum, berkat ketergantungan StarkNet pada sistem cryptographic proof yang paling aman dan scalable—STARK.
Selengkapnya di halaman STRK →