Perbedaan Mask Network dan Stader: Mask Network diperdagangkan di Rp6.215 (kapitalisasi pasar Rp626,2M, volume 24 jam Rp148,12M), sedangkan Stader diperdagangkan di Rp1.841 (kapitalisasi pasar Rp129,44M, volume 24 jam Rp12,11M). Perbedaan utamanya: Mask Network jauh lebih besar — sekitar 4,8× kapitalisasi pasar Stader, dan suplai beredar Mask Network 100M / 100M MASK (100%) dibanding 70,8M / 120M SD (59%) milik Stader. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan Mask Network selama 24 Hari dan Stader selama 13 Hari.
| MASK | SD | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp626,2M | Rp129,44M |
Volume (24h) | Rp148,12M | Rp12,11M |
Suplai yang Beredar | 100M / 100M MASK (100%) | 70,8M / 120M SD (59%) |
Typical Hold Time | 24 Hari | 13 Hari |
Mask Network adalah protokol yang memungkinkan pengguna mengirim pesan terenkripsi di Twitter dan Facebook, menghubungkan internet tradisional dengan jaringan terdesentralisasi. Diluncurkan pada Juli 2019, Mask Network mendapatkan pendanaan sebesar $5 juta dari perusahaan seperti HashKey dan Digital Currency Group. Saat ini, Mask Network mendukung pendanaan hibah Gitcoin langsung dari Twitter dan berencana untuk mengintegrasikan pembayaran peer-to-peer serta penyimpanan terdesentralisasi. Mask Network berfungsi sebagai portal terdesentralisasi, memungkinkan pengguna mengakses DApp untuk pembayaran kripto, DeFi, NFT, DAO, dan lainnya tanpa meninggalkan platform media sosial yang ada, membangun ekosistem Applet terdesentralisasi (DApplet).
Selengkapnya di halaman MASK →Stader mengembangkan staking middleware untuk berbagai jaringan PoS, menawarkan smart contract modular bagi solusi pihak ketiga. Dalam jangka pendek, Stader akan meluncurkan kontrak di blockchain seperti Terra dan Ethereum untuk mendukung yield farming dan Gaming. Jangka panjang, Stader mendorong aplikasi staking pihak ketiga di platformnya.
Selengkapnya di halaman SD →