Investasi
Fitur
BiayaKeamanan
Akademi
Lainnya
Pluang+

Bandingkan Harga & Kinerja Diagnos Laboratorium Utama Tbk. (DGNS) vs Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA)

Diagnos Laboratorium Utama Tbk.Trading
Jaya Agra Wattie TbkTrading

Kinerja harga (24 Jam Terakhir)

Statistik utama

Perbedaan Diagnos Laboratorium Utama Tbk. dan Jaya Agra Wattie Tbk: Diagnos Laboratorium Utama Tbk. diperdagangkan di Rp232 (kapitalisasi pasar 316,25 M, volume 24 jam 41,7 rb), sedangkan Jaya Agra Wattie Tbk diperdagangkan di Rp131 (kapitalisasi pasar 2,11 T, volume 24 jam 662,4 rb). Perbedaan utamanya: Jaya Agra Wattie Tbk jauh lebih besar — sekitar 6,7× kapitalisasi pasar Diagnos Laboratorium Utama Tbk., dan Jaya Agra Wattie Tbk lebih aktif diperdagangkan (662,4 rb vs 41,7 rb). Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu.

DGNSJAWA
Kapitalisasi Pasar
316,25 M2,11 T
Volume
41,7 rb662,4 rb
Lot
4176,62 rb
Perputaran
9,66 jt86,17 jt
Harga Rata-rata
231,65130,09
Nilai Transaksi
9,66 jt86,17 jt
Harga Ekuilibrium Indikatif
230131
Volume Ekuilibrium Indikatif
2,4 rb9

Perbandingan imbal hasil

Imbal hasil berjalan pada periode standar

Berita terkini

Berita terbaru kedua aset

DGNS
Lihat detail
JAWA
Lihat detail

Tentang Diagnos Laboratorium Utama Tbk.

PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (the “Company”) was established in the Republic of Indonesia on August 29, 2007 under framework of the Domestic Capital Investment Law No. 6 Year 1968 based on Deed No.17 dated August 29, 2007, of Martinef, S.H., M.Si., Notary in Bekasi. The Company started its commercial operation in 2008.

Selengkapnya di halaman DGNS

Tentang Jaya Agra Wattie Tbk

PT Jaya Agra Wattie was founded with the name Handel Maatschappij J.A. Wattie and Company Limited. PT Jaya Agra Wattie (Persero) is one of private agribusiness corporations engaging in plantation, processing and agricultural logistics and marketing activities. Having 90 years of experience in the agriculture sector, the company continually strengthens its business base through a diversification approach by cultivating various premium plantations of primary raw commodities such as rubber, crude palm oil (CPO), coffee and tea.

Selengkapnya di halaman JAWA