Perbedaan DigiByte dan Neon EVM: DigiByte diperdagangkan di Rp44,86 (kapitalisasi pasar Rp821,3M, volume 24 jam Rp51,39M), sedangkan Neon EVM diperdagangkan di Rp331,96 (kapitalisasi pasar Rp79,1M, volume 24 jam Rp7,35M). Perbedaan utamanya: DigiByte jauh lebih besar — sekitar 10,4× kapitalisasi pasar Neon EVM, dan suplai beredar DigiByte 18,4B / 21B DGB (88%) dibanding 239,5M / 1B NEON (24%) milik Neon EVM. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan DigiByte selama 22 Hari dan Neon EVM selama 17 Hari.
| DGB | NEON | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp821,3M | Rp79,1M |
Volume (24h) | Rp51,39M | Rp7,35M |
Suplai yang Beredar | 18,4B / 21B DGB (88%) | 239,5M / 1B NEON (24%) |
Typical Hold Time | 22 Hari | 17 Hari |
DigiByte (DGB) adalah platform blockchain dan penciptaan aset sumber terbuka. Pengembangannya dimulai pada Oktober 2013, dan blok genesisnya ditambang pada Januari 2014 sebagai hasil percabangan Bitcoin (BTC).
Selengkapnya di halaman DGB →Neon EVM adalah platform smart contract di Solana yang menggunakan konsensus proof-of-history untuk keamanan tambahan. Meski kadang mengalami downtime, solusi diperkirakan dalam enam bulan. Dengan lebih dari 200 proyek yang siap diluncurkan, termasuk proyek berbasis Ethereum seperti Curve dan Sobal, Neon EVM bertujuan meningkatkan interoperabilitas dan integrasi dengan alat Ethereum utama di masa depan.
Selengkapnya di halaman NEON →