Investasi
Fitur
BiayaKeamanan
Akademi
Lainnya
Pluang+

Bandingkan Harga & Kinerja Cetus Protocol (CETUS) vs Ponke (PONKE)

Cetus ProtocolTrading

Kinerja harga (24 Jam Terakhir)

Statistik utama

Perbedaan Cetus Protocol dan Ponke: Cetus Protocol diperdagangkan di Rp349,45 (kapitalisasi pasar Rp336,03M, volume 24 jam Rp36,19M), sedangkan Ponke diperdagangkan di Rp258,55 (kapitalisasi pasar Rp160,35M, volume 24 jam Rp28,06M). Perbedaan utamanya: Cetus Protocol jauh lebih besar — sekitar 2,1× kapitalisasi pasar Ponke, dan suplai beredar Cetus Protocol 960,9M / 1B CETUS (97%) dibanding 555,5M / 555,6M PONKE (100%) milik Ponke. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan Cetus Protocol selama 31 Hari dan Ponke selama 12 Hari.

CETUSPONKE
Kap. Pasar
Rp336,03MRp160,35M
Volume (24h)
Rp36,19MRp28,06M
Suplai yang Beredar
960,9M / 1B CETUS (97%)555,5M / 555,6M PONKE (100%)
Typical Hold Time
31 Hari12 Hari

Sentimen investor di Pluang

Aktivitas investor Pluang dalam 30 hari terakhir

CETUS
0% Beli100% Jual
Rata-rata periode kepemilikan · 31 Hari
PONKE

Belum ada data sentimen.

Tentang Cetus Protocol

Cetus Protocol, sebuah protokol pertukaran dan likuiditas terdesentralisasi, beroperasi di blockchain Sui dan Aptos. Protokol ini memanfaatkan paradigma Concentrated Liquidity Market Makers (CLMM), mengintegrasikan elemen dari Uniswap V3 dan Trader Joe untuk menawarkan opsi trading dan likuiditas yang lebih canggih. Cetus bertujuan membangun jaringan likuiditas yang kuat dan fleksibel, meningkatkan pengalaman trading dan efisiensi likuiditas bagi pengguna DeFi.

Selengkapnya di halaman CETUS

Tentang Ponke

PONKE adalah aset digital baru yang dibuat di jaringan Solana, terkenal dengan transaksi cepat dan biaya rendah. Token ini menonjol karena pendekatan tokenomiknya yang unik, dengan total pasokan 555 juta token. PONKE dirancang untuk memenuhi kebutuhan trader online dan penggemar game, memberikan pengalaman yang lancar dan menyenangkan. Listing di bursa crypto besar meningkatkan aksesibilitasnya, sementara pendekatan berbasis komunitas mendorong keterlibatan pengguna melalui fitur seperti 'helmet' dan saluran media sosial aktif.

Selengkapnya di halaman PONKE