Perbedaan Bitcoin dan Gas: Bitcoin diperdagangkan di Rp1.136.080.644 (kapitalisasi pasar Rp22.804,66T, volume 24 jam Rp374,01T), sedangkan Gas diperdagangkan di Rp18.810 (kapitalisasi pasar Rp1,23T, volume 24 jam Rp41,81M). Perbedaan utamanya: Bitcoin jauh lebih besar — sekitar 18540,4× kapitalisasi pasar Gas, dan suplai Bitcoin dibatasi (20,1M / 21M BTC (96%)), sedangkan Gas terus bertambah. Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu — di Pluang, investor rata-rata menyimpan Bitcoin selama 105 Hari dan Gas selama 47 Hari.
| BTC | GAS | |
|---|---|---|
Kap. Pasar | Rp22.804,66T | Rp1,23T |
Volume (24h) | Rp374,01T | Rp41,81M |
Suplai yang Beredar | 20,1M / 21M BTC (96%) | 65M GAS |
Typical Hold Time | 105 Hari | 47 Hari |
Sinyal dari Aura AI Pluang — bukan nasihat finansial
Bitcoin saat ini diperdagangkan di Rp1.137.722.160 dengan market cap Rp22.804,66T, menunjukkan posisi netral secara teknis dengan sinyal campuran dari moving averages (bearish) dan osilator (netral). Harga berada di zona support kritis dengan RSI menunjukkan kondisi netral. Sirkulasi token mencapai 96% dari total supply 21 juta BTC, dengan rata-rata hold time 105 hari mencerminkan keyakinan jangka panjang investor.
Outlook Bitcoin tetap kuat secara fundamental meski volatilitas tinggi. Peluang utama terletak pada adopsi jaringan yang terus berkembang, sementara risiko utama mencakup tekanan regulator dan volatilitas pasar. Analisis teknis menyarankan kehati-hatian jangka pendek dengan monitoring level support kritis.
Belum ada sinyal Aura AI.
Aktivitas investor Pluang dalam 30 hari terakhir
Berita terbaru kedua aset
Diciptakan pada Januari 2009 oleh Satoshi Nakamoto. BTC adalah mata uang online terdesentralisasi pertama dan paling banyak digunakan dengan kapitalisasi pasar tertinggi. Tujuannya adalah untuk menyediakan sistem pembayaran peer-to-peer tanpa membutuhkan pihak ketiga. Total pasokan BTC terbatas pada 21 juta keping saja. Di Oktober 2020, ada lebih dari 85% BTC yang telah beredar.
Selengkapnya di halaman BTC →GAS adalah token NEP-17 di Neo yang digunakan untuk menyelesaikan biaya transaksi jaringan Neo. Neo sendiri adalah blockchain Layer-1 yang memanfaatkan Neo Virtual Machine (NVM) untuk mengeksekusi kontrak pintar dan melayani pengalaman developer dengan mendukung berbagai bahasa pemrograman. Neo menggunakan mekanisme konsensus Byzantine Fault Tolerance (dBFT) yang didelegasikan untuk mencapai konsensus jaringan.
Selengkapnya di halaman GAS →