Investasi
Fitur
BiayaKeamanan
Akademi
Lainnya
Pluang+

Bandingkan Harga & Kinerja Atlantis Subsea Indonesia Tbk. (ATLA) vs Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS)

Atlantis Subsea Indonesia Tbk.Trading
Merdeka Gold Resources Tbk.Trading

Kinerja harga (24 Jam Terakhir)

Statistik utama

Perbedaan Atlantis Subsea Indonesia Tbk. dan Merdeka Gold Resources Tbk.: Atlantis Subsea Indonesia Tbk. diperdagangkan di Rp50 (kapitalisasi pasar 309,98 M, volume 24 jam 7,76 jt), sedangkan Merdeka Gold Resources Tbk. diperdagangkan di Rp7.600 (kapitalisasi pasar 113,06 T, volume 24 jam 4,76 jt). Perbedaan utamanya: Merdeka Gold Resources Tbk. jauh lebih besar — sekitar 364,7× kapitalisasi pasar Atlantis Subsea Indonesia Tbk., dan Atlantis Subsea Indonesia Tbk. lebih aktif diperdagangkan (7,76 jt vs 4,76 jt). Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu.

ATLAEMAS
Kapitalisasi Pasar
309,98 M113,06 T
Volume
7,76 jt4,76 jt
Lot
77,62 rb47,58 rb
Perputaran
388,12 jt35,8 M
Harga Rata-rata
507.524,04
Nilai Transaksi
388,12 jt35,8 M
Harga Ekuilibrium Indikatif
507.700
Volume Ekuilibrium Indikatif
1,38 jt303

Perbandingan imbal hasil

Imbal hasil berjalan pada periode standar

Berita terkini

Berita terbaru kedua aset

ATLA
Lihat detail
EMAS
Lihat detail

Tentang Atlantis Subsea Indonesia Tbk.

PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (the Company) was established in Indonesia based on Notarial Deed No. 13 dated November 22, 2016 by Heri Martono, S.H. The Company started its commercial activities in 2016.

Selengkapnya di halaman ATLA

Tentang Merdeka Gold Resources Tbk.

PT Merdeka Gold Resources Tbk (formerly PT Pani Bersama Jaya) (the Company), was established in Republic of Indonesia based on Deed of Establishment No. 87 dated 20 November 2015 made before Humberg Lie, S.H., S.E., M.Kn., Notary in North Jakarta. The ultimate parent entity of the Company is PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG). Meanwhile, MCG is jointly controlled by PT Provident Capital Indonesia and PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, which are respectively controlled by Winato Kartono and Edwin Soeryadjaya.

Selengkapnya di halaman EMAS