Ikon aset - trading kripto, saham, dan emas di Pluang
Trading di Pluang
Satu platform untuk semua pasar
Download
Investasi
Fitur
BiayaKeamanan
Akademi
Lainnya
Pluang+

Perbedaan Harga & Kinerja Asuransi Bintang Tbk (ASBI) vs Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN)

Asuransi Bintang Tbk
Bank Danamon Indonesia Tbk

Kinerja harga

Pergerakan harga dalam 24 jam terakhir

Statistik utama

Perbedaan Asuransi Bintang Tbk dan Bank Danamon Indonesia Tbk: Asuransi Bintang Tbk diperdagangkan di Rp416 (kapitalisasi pasar 142,84 M, volume 24 jam 1 rb), sedangkan Bank Danamon Indonesia Tbk diperdagangkan di Rp3.810 (kapitalisasi pasar 37,16 T, volume 24 jam 1,05 jt). Perbedaan utamanya: Bank Danamon Indonesia Tbk jauh lebih besar — sekitar 260,2× kapitalisasi pasar Asuransi Bintang Tbk, dan Bank Danamon Indonesia Tbk lebih aktif diperdagangkan (1,05 jt vs 1 rb). Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu.

ASBIBDMN
Kapitalisasi Pasar
142,84 M37,16 T
Volume
1 rb1,05 jt
Lot
1010,52 rb
Perputaran
412,6 rb4,01 M
Harga Rata-rata
412,63.812,93
Nilai Transaksi
412,6 rb4,01 M
Harga Ekuilibrium Indikatif
3.810
Volume Ekuilibrium Indikatif
1,23 rb

Perbandingan imbal hasil

Imbal hasil berjalan pada periode standar

Berita terkini

Berita terbaru kedua aset

ASBI
Lihat detail
BDMN
Lihat detail

Tentang Asuransi Bintang Tbk

PT Asuransi Bintang Tbk (the Company) was established on March 17, 1955 based on Notarial Deed No. 63 of Raden Meester Soewandi, a public notary in Jakarta. The just passing 1999 marked the Bintang's complete 44 service in Indonesia. Along this period, the Company established on March 17th, 1955 has been proving itself as in insurance company persistently holding its commitment. In 1989, Bintang took important step by entering the stock exchange and registered itself at Jakarta and Surabaya Stock Exchange.

Selengkapnya di halaman ASBI

Tentang Bank Danamon Indonesia Tbk

Bank Danamon (the Bank) domiciled in Jakarta, was established on July 16, 1956, based on the notarial deed No. 134 of Meester Raden Soedja, S.H. The Bank received its permit as a commercial bank the following September 1956, and became a foreign exchange bank in November 1988. During the Asian Financial crisis of 1997, Bank Danamon ran into a liquidity insolvency and was taken over by the government of Indonesia in April 1998, which placed in the care of the Indonesian Bank Restructuring Agency (IBRA) to be included in the bank recapitalization and merger programs. Following a third rights issue by Bank Danamon and the subsequent merging of Bank PDFCI into the Bank on December 30, 1999; the racapitalizaton of Bank Danamon which increased its statutory capital To Rp 10 trillion on May 17, 2000; and the merging of eight private banks (Bank Jaya, Bank Tiara Asia, Bank Pos Nusntara, Bank Rama, Bank Tamara, Bank Nusa Nasional, Bank Duta and Bank Bank Risjad Salim International) into Bank Danamon on June 30, 2000; Bank Danamon re-emerged as one of Indonesia’s four designated core banks along with Bank Central Asia in the private sector, and with Bank andiri and Bank BNI in the Public sector.

Selengkapnya di halaman BDMN