Investasi
Fitur
BiayaKeamanan
Akademi
Lainnya
Pluang+

Bandingkan Harga & Kinerja Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) vs Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS)

Pacific Strategic Financial TbkTrading
Merdeka Gold Resources Tbk.Trading

Kinerja harga (24 Jam Terakhir)

Statistik utama

Perbedaan Pacific Strategic Financial Tbk dan Merdeka Gold Resources Tbk.: Pacific Strategic Financial Tbk diperdagangkan di Rp560 (kapitalisasi pasar 6,53 T, volume 24 jam 596,1 rb), sedangkan Merdeka Gold Resources Tbk. diperdagangkan di Rp7.675 (kapitalisasi pasar 112,69 T, volume 24 jam 19,74 jt). Perbedaan utamanya: Merdeka Gold Resources Tbk. jauh lebih besar — sekitar 17,3× kapitalisasi pasar Pacific Strategic Financial Tbk, dan Merdeka Gold Resources Tbk. lebih aktif diperdagangkan (19,74 jt vs 596,1 rb). Mana yang lebih baik tergantung tujuan investasimu.

APICEMAS
Kapitalisasi Pasar
6,53 T112,69 T
Volume
596,1 rb19,74 jt
Lot
5,96 rb197,4 rb
Perputaran
331,48 jt149,76 M
Harga Rata-rata
556,097.586,44
Nilai Transaksi
331,48 jt149,76 M
Harga Ekuilibrium Indikatif
5607.675
Volume Ekuilibrium Indikatif
12610,73 rb

Perbandingan imbal hasil

Imbal hasil berjalan pada periode standar

Berita terkini

Berita terbaru kedua aset

APIC
Lihat detail
EMAS
Lihat detail

Tentang Pacific Strategic Financial Tbk

Founded in Jakarta on February 22nd 1989 as PT. Citramas Securindo. Name changed to be PT. Arta Pacific Securities on July 4th 2000. Conduct as broker dealer and underwriter in capital market.

Selengkapnya di halaman APIC

Tentang Merdeka Gold Resources Tbk.

PT Merdeka Gold Resources Tbk (formerly PT Pani Bersama Jaya) (the Company), was established in Republic of Indonesia based on Deed of Establishment No. 87 dated 20 November 2015 made before Humberg Lie, S.H., S.E., M.Kn., Notary in North Jakarta. The ultimate parent entity of the Company is PT Merdeka Copper Gold Tbk (MCG). Meanwhile, MCG is jointly controlled by PT Provident Capital Indonesia and PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, which are respectively controlled by Winato Kartono and Edwin Soeryadjaya.

Selengkapnya di halaman EMAS